Orangtua Siswa di Medan Demo, Tuntut Copot Kepala Sekolah Homoseksual

Agus Rahmat, Putra Nasution (Medan)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Takut anak-anak mereka menjadi korban kelainan orientasi seksual, puluhan orangtua siswa sebuah Sekolah Dasar di Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara, menggelar unjuk rasa. Aksi dilakukan tepat di depan sekolah tersebut pada Rabu 23 Desember 2020.

Dalam aksi tersebut, orangtua murid menuntut kepala sekolah berinisial JS mundur atau dicopot dari jabatannya. Para orangtua tersebut menduga sang kepala sekolah memiliki kelainan orientasi seksual, yakni dengan suka sesama jenis atau homoseksual.

Baca juga: Lagi, Dokter di Makassar Meninggal Dunia Terjangkit COVID-19

Dalam demo itu, para orangtua meminta Dinas Pendidikan Kota Medan untuk mencopot kepala sekolah tersebut. Mereka khawatir anak-anak mereka akan menjadi korban, sehingga meminta pemerintah kota melindungi para siswa sekolah dari kejahatan penyimpangan seksual.

"Kami menolak Kepsek tidak bermoral. Lindungi anak-anak kami, jangan tunggu sampai ada korban," tulis poster yang mereka bawa saat menggelar aksi unjuk rasa.

Dugaan JS memiliki kelainan orientasi seksual diketahui pada April 2020 lalu. Isu itu menjadi perbincangan orangtua di media sosial dan terus mencari kebenaran dari informasi dari kabar tersebut.

"Kasus ini sudah lama, bulan 4 kemarin sudah viral di Facebook atas nama JS yang mengungkap bagaimana hubungan JS dan JU (teman prianya)," sebut Raiman, salah satu orangtua siswa ikut dalam aksi unjuk rasa tersebut.

Soal ini sudah dilaporkan ke Kecamatan dan Camat Medan Tuntungan menggelar musyawarah antara orangtua murid dengan JS. Menurut dia, kepsek itu di pertemuan mengakui memiliki hubungan dengan seorang pria berinsial JU.

"Dia [JS] mengaku punya hubungan sejenis dengan JU. Dia melakukan hubungan beberapa kali, tapi katanya dia khilaf. Dia tak mau dibilang homo, saya laki-laki. [Ya] itu terserah mereka. Tapi bagi kita, kita ketakutan, karena di FB (facebook] itu dikatakan dia sudah bukan hanya sekali, tapi beberapa kali (melakukannya) dengan laki-laki lain," tutur Raiman.

Raiman mengatakan indikasi kuat mereka adalah keberadaan CCTV yang diarahkan ke kamar mandi. Hal ini menjadi ketakutan orangtua siswa dan tidak ada jaminan keamanan saat belajar di sekolah itu.

"Jadi ini bentuk ketakutan kita, jangan sampai anak kami [jadi] korban. Jadi semua ini, kita kumpulkan orangtua murid, semua hampir 300 orang menandatangani, tidak menghendaki. Dia bilang mau mundur tapi sampai saat ini tidak mundur dan pindah. Padahal surat pengunduran dirinya sudah dibuat bulan Juli tanggal 17," jelas Raiman.

Raiman juga mengatakan kekhawatiran kalangan orangtua semakin memuncak melihat sang kekasih JS, yakni JU, sering bertandang ke sekolah anak mereka. Padahal JU bukan guru atau pegawai di sekolah.

"Dengan orang dewasa saja berani apalagi sama anak-anak. Apalagi JU sudah beberapa kali masuk ke sekolah ini, para guru tahu dan sudah dikenalkan," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Adlan, mengatakan kasus ini akan ditindak lanjuti pihaknya."Terima kasih informasinya, (akan) ditindaklanjuti," katanya. (ren)