Orangtua Siswi SMPN 287 Cabut Laporan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Niken Saptono, orangtua KS (14), mencabut laporannya di Polres Jakarta Timur. KS adalah korban dugaan penganiayaan oleh Herman Hasibuan (56), guru SMPN 287, Kampung Makasar, Jakarta Timur.

Langkah tersebut diambil, setelah disepakati perjanjian damai antara guru yang bersangkutan dengan orangtua murid.

"Sudah ada mediasi tadi pagi dengan pihak sekolah, dan kami juga sudah cabut laporan dari kepolisian," kata Niken, Jumat (8/6/2012).

Menurut Niken, pencabutan laporan tersebut merupakan salah satu hasil kesepakatan mediasi, dan pihak sekolah juga berjanji hal serupa tidak akan terjadi lagi saat jam pelajaran berlangsung. Mediasi dihadiri oleh murid, orangtua, kepala sekolah, dan guru bersangkutan.

Terkait hal ini, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jaktim AKP Endang menjelaskan, hingga kini pihaknya masih menunggu dari pihak si pelapor.

"Informasinya memang ingin mencabut laporan, tapi sampai hari ini pelapor belum mendatangi mapolres," kata Endang.

Diberitakan sebelumnya, Herman Hasibuan, seorang guru pengganti mata pelajaran matematika di SMPN 287 Jakarta Timur, dilaporkan ke Mapolres Jakarta Timur, karena menganiaya puluhan siswanya.

Herman dilaporkan ke SPK Mapolres Jakarta Timur oleh salah seorang siswanya, KS (14), siswa kelas VIII. Pemukulan Herman terhadap KS dilakukan pada Selasa (26/5/2012) lalu, saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Tak hanya KS, sekitar 30 siswa lain yang sekelas, hari itu juga dipukul Herman.

"Semua teman-teman satu kelas dipukulin kepalanya," kata KS yang datang ke Mapolres Jakarta Timur didampingi ibunya. Akibat perbuatan Herman, KS dan teman-temannya mengalami pusing.

Bahkan, anak pertama dari dua bersaudara sempat demam dan meriang. Parahnya lagi, sang guru kerap mengepalkan tangannya saat memukul.

"Sakit waktu dipukul," imbuh KS.

Menurut KS, peristiwa itu berawal saat Herman mengajar di kelas II SMPN 287, untuk menggantikan guru utama. Seusai menjelaskan materi pelajaran kepada siswa, Herman menanyakan kepada anak didiknya, jika ada hal yang ingin ditanyakan.

Setelah tidak ada tanggapan, Herman memutuskan agar dia yang bertanya ke siswa.

"Karena tak ada yang bertanya, kalau begitu bapak saja yang nanya," tutur KS menirukan ucapan gurunya.

Respons serupa diterima Herman, saat mengajukan pertanyaan kepada para siswa. Tak ada satupun siswa yang menjawab.

Herman kesal dan naik pitam dengan keadaan itu. Para siswi ia suruh membenturkan kepala ke meja sebanyak lima kali. Bila menolak, Herman memukuli mereka dengan tangannya. Sedangkan para siswa dipukuli menggunakan sikutnya.

"Yang dipukul rata-rata kepala. Ada kepala bagian belakang, ada juga juga kepala samping. Semua teman-teman dipukul," jelas KS.

Kekerasan ini bukan kali pertama terjadi. Menurut KS, dua bulan lalu, hal serupa juga dilakukan Herman. Saat itu, pihak sekolah sempat menegur Herman agar tidak mengulangi perbuatannya.

"Tapi, sekarang Pak Herman mengulangi lagi sama kami," tutur KS. (*)

BACA JUGA

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.