Orangutan di Sumatra Tinggal 200 Ekor

Liputan6.com, Banda Aceh: Aktivis lingkungan hidup dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menyebutkan populasi orangutan (pongo pygmaenus abelii) di Sumatra hingga tahun 2012 tinggal 200 ekor. Berkurangnya populasi orangutan akibat rusaknya habitat mereka.

"Pada tahun 2000-an populasi orangutan di wilayah Sumatra di atas 1.000 ekor, namun pada 2012 ini sudah di bawah 200 ekor, karena sebagian besar sudah punah akibat lingkungan mereka dirusak," kata advokat lingkungan hidup YEL Aceh Halim di Meulaboh, Senin (7/5).

Ia menyebutkan, penyidikan terakhir, keberadaan orangutan terbesar adalah di kawasan hutan gambut Rawa Tripa di Nagan Raya dan Aceh Barat Daya, Aceh. Namun selama ini kawasan tersebut disembunyikan keberadaannya, karena ada pihak tertentu akan mencoba merusak habitat mereka.

"Sebenarnya keberadaan orangutan terbesar hasil terakhir kami melihat itu di kawasan rawa gambut Tripa, namun selama ini informasi itu ditutupi, karena akan ada pembukaan lahan baru di kawasan ini," tambahnya.

Kata Halim, selama ini isu yang digembar-gemborkan keberadaan orangutan di Bukit Lawang, Langkat, Sumatra Utara, padahal kawasan itu hanya merupakan sebagian kecil populasinya hewan mamalia ini.

Dikatakan, akibat alih fungsi lahan dari hutan gambut Rawa Tripa menjadi perkebunan sawit mulai dari Aceh Singkil hingg Kabupaten Nagan Raya, populasi orangutan terus menyusut, karena habitat mereka sudah dirusak orang tidak bertangung jawab.

Sebab itu, ia menyarankan Kementrian Kehutanan untuk merekomendasikan reboisasi kembali hutan gambut rawa tripa dan mancabut izin pembersihan lahan yang sudah pernah diberikan Gubernur Aceh dikepemimpinan Irwandi Yusf/M Nazar pada 25 Agustus 2011.

"Setelah izin ini dicabut, kawasan rawa tripa ini harus menjadi kawasan lindung di luar kawasan hutan sesuai dengan tata ruang nasional," tegasnya.

Selain itu, dengan keberadaan ketebalan rawa gambut setebal 3-5 meter itu akan mampu menyerap air dan melindunggi masyarakat sekitar dari bencana alam banjir seperti yang sering terjadi selama ini.

"Karena alih fungsi lahan pada Maret 2012 itu, warga disini mengalami gangguan pernafasan karena sudah banyak kanal-kanal perusahaan, pada saat demikian kebakaran rawa gambut sudah sangat gampang," pungkasnya.(ANT/JUM)