Organik adalah Produk Sehat Ramah Lingkungan, Ketahui Plus Minusnya

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Organik adalah istilah yang tak asing ditemukan dalam produk sehari-hari. Cap organik pada suatu produk kini makin menjadi perhatian banyak orang. Organik adalah sistem yang diterapkan terutama dalam pertanian.

Organik adalah label yang biasa ditemui dalam makanan, minuman, perawatan tubuh, dan produk lainnya. Produk organik adalah produk yang telah diatur pelabelannya sesuai standarisasi yang berlaku. Produk organik adalah produk yang dibuat tanpa penggunaan kimia sintetis atau rekayasa genetik.

Pangan organik adalah produk yang bisa ditemukan dari produsen skala kecil maupun besar. Makanan organik adalah produk yang diyakini lebih sehat oleh banyak orang. Seberapa penting label organik dalam sebuah produk dan bagaimana keunggulannya? Berikut pengertian tentang organik, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (18/8/2021).

Mengenal apa itu organik

Ilustrasi Buah dan Sayur Credit: pexels.com/Jill
Ilustrasi Buah dan Sayur Credit: pexels.com/Jill

Menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 64/Permentan/OT.140/5/2013 tentang Sistem Pertanian Organik, organik adalah istilah pelabelan yang menyatakan bahwa suatu produk telah diproduksi sesuai dengan standar produksi organik dan disertifikasi oleh lembaga sertifikasi resmi.

Dalam peraturan tersebut, produk organik adalah suatu produk yang dihasilkan sesuai dengan standar sistem pangan organik termasuk bahan baku pangan olahan organik, bahan pendukung organik, tanaman dan produk segar tanaman, ternak dan produk peternakan, produk olahan tanaman, dan produk olahan ternak (termasuk non pangan).

Masih dari sumber yang sama, pangan organik adalah pangan yang berasal dari suatu lahan pertanian organik yang menerapkan praktek pengelolaan yang bertujuan untuk memelihara ekosistem dalam mencapai produktivitas yang berkelanjutan, melakukan pengendalian gulma, hama, dan penyakit, melalui beberapa cara seperti daur ulang sisa tumbuhan dan ternak, seleksi dan pergiliran tanaman, pengelolaan air, pengolahan lahan, dan penanaman serta penggunaan bahan hayati (pangan).

Sementara pertanian organik adalah sistem manajemen produksi yang holistik untuk meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agroekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah. Pertanian organik menekankan penerapan praktek-praktek manajemen yang lebih mengutamakan penggunaan input dari limbah kegiatan budidaya di lahan, dengan mempertimbangkan daya adaptasi terhadap keadaan/kondisi setempat.

Jika memungkinkan, hal tersebut dapat dicapai dengan penggunaan budaya, metoda biologi dan mekanik, yang tidak menggunakan bahan sintesis untuk memenuhi kebutuhan khusus dalam sistem.

Pangan organik

Ilustrasi Buah dan Sayuran Credit: pexels.com/Markus
Ilustrasi Buah dan Sayuran Credit: pexels.com/Markus

Pangan organik adalah makanan yang diproduksi menggunakan metode pertanian orhanik. Makanan organik ditanam tanpa menggunakan bahan kimia sintetis, seperti pestisida dan pupuk buatan manusia, dan tidak mengandungorganisme hasil rekayasa genetika (GMO). Makanan organik termasuk produk sayur dan buah segar, daging, dan produk susu serta makanan olahan seperti kerupuk, minuman, dan makanan beku.

Tanaman yang ditanam secara organik cenderung menggunakan pupuk alami seperti pupuk kandang untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Hewan yang dibesarkan secara organik juga tidak diberi antibiotik atau hormon.

Secara garis besar, kini ada dua jalur sumber pangan organik. Pertama, pertanian skala kecil yang mungkin tidak bersertifikat organik secara formal. Dengan demikian penyaluran produk bergantung pada konsumen yang mencari informasi lokal, segar, makanan yang ditanam secara organik. Kedua, makanan organik bersertifikat skala besar (segar dan olahan) yang biasanya diangkut jarak jauh dan didistribusikan melalui rantai toko.

Kelebihan pangan organik

ilustrasi sayur organik | pexels.com/@markusspiske
ilustrasi sayur organik | pexels.com/@markusspiske

Sayur dan buah yang lebih bernutrisi

Beberapa studi telah menemukan bahwa makanan organik umumnya mengandung tingkat yang lebih tinggi antioksidan dan mikronutrien tertentu, seperti vitamin C, seng dan zat besi. Tanaman organik tidak bergantung pada semprotan pestisida kimia untuk melindungi diri. Sebaliknya, mereka menghasilkan lebih banyak senyawa pelindung mereka sendiri, yaitu antioksidan.

Rendah nitrat

Tanaman yang ditanam secara organik juga terbukti memiliki kadar nitrat yang lebih rendah. Faktanya, penelitian telah menunjukkan bahwa kadar nitrat 30% lebih rendah pada tanaman organik. Tingkat nitrat yang tinggi terkait dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker.

Susu dan daging memiliki asam lemak menguntungkan

Susu dan produk susu organik mungkin mengandung tingkat yang lebih tinggi dari omega-3 asam lemak dan jumlah sedikit lebih tinggi zat besi, vitamin E dan beberapa karotenoid. Namun, susu organik mungkin mengandung lebih sedikit selenium dan yodium daripada susu non-organik, dua mineral yang penting untuk kesehatan.

Sedikit bahan kimia dan bakteri resisten

Bukti menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan organik dapat mengurangi paparan residu pestisida dan bakteri resisten antibiotik. Satu studi menemukan bahwa kadar kadmium, logam yang sangat beracun, 48% lebih rendah dalam produk organik. Selain itu, residu pestisida empat kali lebih mungkin ditemukan pada tanaman non-organik. Namun demikian, bukti menunjukkan bahwa risiko paparan residu pestisida dalam makanan kecil dan tidak mungkin menyebabkan bahaya.

Apakah makanan organik selalu sehat?

Mkanan Organik | pexels.com/@elletakesphotos
Mkanan Organik | pexels.com/@elletakesphotos

Dilansir dari Healthline, studi membandingkan kandungan gizi makanan organik dan non-organik telah memberikan hasil yang beragam. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh variasi alami dalam penanganan dan produksi makanan.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa makanan organik memiliki manfaat kesehatan. Meskipun asupan nutrisi tertentu yang sedikit lebih tinggi terlihat pada kelompok organik, hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh konsumsi sayuran secara keseluruhan yang lebih tinggi.

Sementara beberapa penelitian menemukan makanan organik mengandung lebih banyak nutrisi, banyak penelitian lain menemukan bukti yang tidak cukup untuk merekomendasikan organik daripada anorganik. Tidak ada cukup bukti kuat yang tersedia untuk membuktikan bahwa makan organik memberikan manfaat kesehatan daripada makan makanan biasa.

Hanya karena suatu produk diberi label “organik”, bukan berarti produk tersebut sudah pasti sehat. Beberapa produk tersebut masih berupa makanan olahan yang tinggi kalori, gula, garam dan tambahan lemak. Misalnya, kue organik, keripik, soda, dan es krim. Label produk organik sering kali menyatakan bahwa bahan-bahannya “alami” — misalnya, menggunakan gula tebu mentah sebagai pengganti gula biasa. Namun, gula tetaplah gula yang jika dikonsumsi berlebihan juga akan berbahaya.

Haruskah makanan berlabel organik?

Ilustrasi Petani | Karla Farhana/fimela.com
Ilustrasi Petani | Karla Farhana/fimela.com

Banyak ahli mengungkapkan bahwa makanan sehat tak harus berlabel organik. Ini karena organik sangat berkaitan dengan label atau sertifikasi. Padahal banyak petani lokal berskala kecil yang juga mengembangkan pertaniannya secara sehat dan ramah lingkungan, tidak memiliki sertifikasi tersebut.

Jika konsumen mengenal petani lokal dan mempercayai metode produksi petani tersebut, label organik mungkin tidak diperlukan. Di sisi lain, makanan organik yang diproduksi jauh dan dikirim lebih cenderung memerlukan label sertifikasi untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dan untuk mencegah penipuan. Artinya, pilihan terbaik untuk mendapatkan makanan sehat adalah mencari sumber pangan terdekat yang terpercaya produksinya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel