Ormas Islam Pelopor Kemerdekaan Dipinggirkan Pemerintah

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG - Ketua Umum Pengurus Ormas Islam Besar Mathlaul Anwar (PB MA) KH Syadeli Karim mengatakan organisasi masyarakat (ormas) Islam yang menjadi pelopor kemerdekaan keberadaannya justru terpinggirkan karena pemerintah lebih memberikan perhatian lebih pada keberadaan partai politik.

"Saat ini, pemerintah lebih memberikan keistimewaan terhadap partai daripada ormas, padahal ormas Islam yang sejak awal sudah gencar dalam upaya merebut kemerdekaan. Akibatnya, agama semakin termarjinalkan, dan politik didewakan," kata KH Syadeli Karim, saat halal bil halal dan diskusi kemerdekaan di Serang, Senin (27/8).

Menurut dia, saat politik yang dibesar-besarkan, nilai-nilai kemerdekaan yang seharusnya dapat menjaga kerukunan umat beragama terpinggirkan. Padahal seharusnya, kata dia, nilai-nilai tersebut menjadi acuan kebersamaan, untuk menghapus penjajahan manusia terhadap manusia lainnya.

Ia menjelaskan, fakta sejarah menunjukkan kemerdekaan Republik Indonesia sumbangan terbesarnya dari ulama dan santri. Sebabnya pergerakan kemerdekaan, terutama di wilayah Banten dipelopori kalangan pesantren melalui jaringan tarekatnya, seperti KH Wasyid tokoh geger Cilegon, Syeikh Asnawi Caringin, dan Abuya Mukri di Labuan dan lain sebagainya.

"Mereka berangkat dari pesantren dan surau-surau, kemudian bersatu berjuang mengusir penjajah," kata Sadeli dalam diskusi yang diselenggarakan koalisi pergerakan Banten.

Sementara Ketua Umum Majlis Pesantren Salafiyah (MPS) Banten, KH Matin Syarkowi mengatakan, kerangka Indonesia merdeka bukan dari parpol merupakan fakta sejarah. Indonesia menjadi negara merdeka, sumbangan terbesar dari ulama dan santri.

Namun demikian, kata dia, justru ada pembelokan sejarah yang dilakukan oleh Orientalis Snock Hurgronje, dengan mengganti istilah ulama dan santri dengan pedagang dan petani.

"Dahulu yang belanda takuti adalah gerakan 'underground' yakni gerakan tarekat Qodariyah naqsabandiyah karena memiliki pengikut yang taat terhadap guru dan terorganisasi dengan bagus," kata Matin.

Menurut dia, ketidakpahaman terhadap sejarah kemerdekaan RI, akan berbahaya bagi generasi muda. Sebab nantinya akan mengikis nilai-nilai keindonesiaan yang semakin hari tergerus oleh budaya asing yang gencar masuk melalui tayangan media.

Sedangkan pengamat sejarah, Nadjmudin Busro mengatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan hasiljerih payah para pendahulu yang telah lama berjuang? membela kemerdekaan jauh sebelum proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Menurut dia, yang paling pertama menggelorakan pergerakan pemuda sebegai pelopor pergerakan untuk kemerdekaan bukan Budi Utomo pada 1908, tapi Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 1905.

"Para tokoh muda dan kalangan ulama mewarnai perjuangan kemerdekaan RI. Waktu itu, para ulama bermimpi agar umat Islam bersatu padu dalam melawan penjajahan," kata Najmudin Busro.

Oleh karena itu, kalangan ulama dan pemimpin ormas Islam saat ini harus bersatu kembali dalam mengisi kemerdekaan, menata kembali kebersamaan dalam kerangka keislaman yang rahmatan lilalamiin di dalam NKRI yang berlandaskan Pancasila.

Halal Bihalal dan Seminar Kebangsaan tersebut dihadiri puluhan peserta dari kalangan mahasiswa dan para santri di Provinsi Banten.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.