Oseltamivir Langka karena Dianggap Obat COVID-19, Benarkah?

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kasus COVID-19 yang terus melonjak di Indonesia, membuat masyarakat kembali mengalami panic buying sehingga berbondong-bondong menyerbu vitamin dan obat yang dianggap dapat mencegah bahkan mengobati COVID-19.

Kini, obat yang susah ditemui dan harganya melambung tinggi adalah Oseltamivir. Orang-orang meyakini, obat tersebut cukup ampuh untuk menjaga imunitas dan mencegah tertular COVID-19. Lalu, apa itu Oseltamivir dan benarkah obat tersebut ampuh memerangi COVID-19?

Dilansir WebMd, Oseltamivir digunakan untuk mengobati gejala yang disebabkan oleh virus flu atau influenza. Obat ini dapat membantu mengurangi beberapa gejala, seperti hidung tersumbat, batuk, sakit tenggorokan, demam atau menggigil, pegal-pegal, kelelahan, dan mempercepat pemulihan dalam 1-2 hari.

Oseltamivir juga dapat digunakan untuk mencegah flu. Obat ini bekerja dengan menghentikan pertumbuhan virus flu. Namun, Oseltamivir bukan pengganti vaksin flu.

Beberapa efek samping yang ditimbulkan dari konsumsi Oseltamivir, mual dan muntah bisa saja terjadi. Namun, dari banyak orang yang menggunakan obat ini tidak mengalami efek samping yang serius. Reaksi alergi serius yang ditimbulkan dari obat ini juga jarang terjadi.

Sebagai obat COVID-19?

Sementara itu, menurut situs NCBI, Oseltamivir merupakan obat antivirus lini pertama yang digunakan di rumah sakit primer. Selama pandemi COVID-19, sebagian besar pasien COVID-19 yang bergejala telah menggunakan Oseltamivir ini.

Untuk mengevaluasi efek Oseltamivir terhadap COVID-19, dilakukan studi in vitro dengan model Swiss. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi efisiensi antivirus Oseltamivir terhadap SARS-CoV-2. Mereka mengevaluasi secara statistik, apakah riwayat penggunaan Oseltamivir dapat memengaruhi perkembangan penyakit.

Hasilnya, struktur NRBD, PLpro, dan RdRp berhasil dibangun. Hasil dari TM-align menunjukkan bahwa protein S, NRBD, protease mirip 3C (3CLpro), PLPro, dan RdRp secara struktural mirip dengan neuraminidase influenza A. Menariknya, pusat aktif 3CL pro ditemukan serupa dengan pusat aktif dari neuraminidase influenza A.

"Melalui analisis docking molekuler, kami menemukan bahwa asam karboksilat Oseltamivir lebih baik untuk mengikat sisi aktif 3CLpro secara efektif, tetapi efek penghambatannya tidak kuat dibandingkan dengan kelompok positif," kata peneliti Qi Tan, Limin Duan dan Yang Jin.

Kemudian, mereka menggunakan studi in vitro dan analisis kasus retrospektif untuk memverifikasi spekulasinya. Mereka menemukan, Oseltamivir tidak efektif melawan SARS-CoV-2 dalam penelitian in vitro. Penggunaan klinis Oseltamivir juga tidak memperbaiki gejala pada pasien COVID-19 dan tidak memperlambat perkembangan penyakit.

"Kami menganggap bahwa Oseltamivir tidak cocok untuk pengobatan COVID-19," kata ketiga peneliti tersebut.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel