OTG, Orang Tanpa Gejala yang Bisa Menularkan virus Corona

Fimela.com, Jakarta Selain Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), terdapat kelompok Orang Tanpa Gejala (OTG) yang perlu Sahabat Fimela pahami terkait penularan virus Corona atau COVID-19. Ketiganya tercantum dalam Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 Kemeterian Kesehatan RI. 

Berbeda dengan ODP yang memiliki gejala demam atau gangguan pernapasan, tulis Liputan6, OTG merupakan orang yang tidak bergejala dan memiliki risiko tertular dari orang positif Covid-19 serta melakukan kontak erat dengan kasus positif COVID-19. Meski tanpa gejala, tulis Liputan6, ada banyak kasus positif COVID-19 yang ditemukan pada OTG. 

Dalam pedoman tersebut, kontak erat ini bisa dipahami sebagai aktivitas kontak fisik yang dilakukan OTG dengan orang positif Corona. Bisa juga, kontak ini berlangsung tanpa saling sentuh, namun mereka berada di dalam ruangan yang sama dalam radius 1 meter atau kurang. 

Di antara banyak orang yang melakukan kontak erat, petugas tim medis yang memeriksa, merawat, mengantar, dan membersihkan ruangan di tempat perawatan kasus Corona tanpa mengenakan APD juga termasuk orang-orang yang rentan menjadi OTG. 

OTG Positif COVID-19

Ilustrasi mengenakan masker untuk mencegah virus corona masuk ke dalam tubuh | unsplash.com/@anikolleshi

Ternyata, menurut Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 di Indonesia, Achmad Yurianto, ada banyak kasus positif yang ditemukan dan berasal dari OTG. Kasus-kasus ini ditemukan setelah dilakukan contact tracing. 

"Sebagian besar dari kasus yang kita temukan, kemudian positif COVID-19 pada contact tracing adalah kasus yang tanpa gejala atau dengan gejala minimal," ungkap Yuri saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (11/6/2020).

Meski tidak memiliki gejala apa pun, Yuri melanjutkan, OTG harus melakukan isolasi mandiri untuk mencegah penularan virus Corona terhadap orang lain. 

"Oleh karena itu, kami mengingatkan kembali bahwa pada kasus-kasus tanpa gejala yang sudah terkonfirmasi positif dari pemeriksaan PCR atau tes cepat molekuler harus melaksanakan dan mematuhi protokol isolasi mandiri yang tepat," tegas Yuri.

Kritik terhadap Pernyataan WHO

ilustrasi dampak virus corona | pexels.com/@shvetsa

Sementara itu, World Health Organization (WHO) beberapa waktu lalu mengeluarkan pernyataan mengenai tingkat penularan COVID-19 dari OTG sangat rendah. Pernyataan ini kemudian dikritik Dokter Ahli Imunologi Amerika, Anthony Faucy. Menurutnya, 25-45% dari total orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala. Sementara, studi epidemiologi menunjukkan kalau OTG justru dapat menularkan virus Corona kepada orang yang tidak terinfeksi. 

"Dan faktanya, bukti yang kita miliki, mengingat persentase orang, yaitu sekitar 25-45 persen dari total orang yang terinfeksi, kemungkinan tanpa gejala dan kita tahu dari studi epidemiologi bahwa mereka dapat menular ke seseorang yang tidak terinfeksi, bahkan ketika mereka tanpa gejala," jelas Faucy kepada the New York Times, seperti dikutip dari Liputan6. 

Sebelumnya, Dr. Maria van Kerkhove, Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO mengatakan kalau penularan dari OTG kepada orang yang tidak terinfeksi sangat jarang terjadi. Namun, dia kemudian mengklarifikasi pernyataannya setelah mendapat kecaman. 

“Saya merujuk pada sedikit studi, sekitar dua atau tiga. Saya tidak menyatakan bahwa pernyataan itu adalah kebijakan WHO,” katanya. 

#ChangeMaker