Otong Koil Sebut 4 Pemain Persib Paling Berkesan, Bobotoh pada Tahu Enggak?

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Jakarta - Pencinta musik 'keras' Indonesia era 90-an awal mestinya kenal dengan Koil, band rock alternative yang tetap awet hingga sekarang. Sang vokalis, Julius Aryo Verdijantoro atau lebih dikenang dengan nama Otong Koil, ternyata memiliki memori kuat mengenai pemain-pemain Persib Bandung idolanya.

Sebagai pria kelahiran Bandung, warna Persib menjadi keseharian Otong Koil. Hingga saat ini pun, ia kerap bersinggungan dengan klub berjulukan Pangeran Biru tersebut.

Pada Februari 2020 misalnya, ia terlibat dalam acara Persib's Player Award, sebuah penghargaan yang diberikan oleh wartawan. Ia beserta musisi lokal lainnya macam Yas Budaya dan Andre Vinsens turut ambil bagian pada siang sebelum malam penganugerahan.

Bahkan pada 2002, Koil bersama musisi lainnya seperti Jeruji, Pas Band, dan Savor of Filth merilis sebuah album kompilasi Persib. Aliran musik punk, hardcore, nu metal sampai ska masuk dalam album yang dilabeli oleh Viking Persib Club Record itu.

Tentunya Otong Koil tidak asal 'mem-Persib-kan' diri hanya karena lahir di Bandung. Ia mengaku sudah mendukung dan mengikuti perjalanan tim kesayangannya sejak 1980-an.

Ketika ditanya empat pemain paling trengginas dari bek sampai penyerang, ia dengan lancar menjawabnya. "Empat Maung Bandung yang paling berkesan dalam hidup saya, yang pertama kiper, adalah Boyke Adam."

"Menurut saya, zaman dulu dia yang paling jago, enak dilihat." katanya lagi.

Boyke Adam menyimpan cerita menarik. Sosok kelahiran 8 Januari 1959 itu dicap sebagai satu di antara figur yang membawa Persib bangkit pada 1980-an sehingga layak dianggap sebagai legenda. Namun demikian, ia ternyata memulai semuanya sebagai penyerang. Tubuhnya yang tinggi, pada waktu SMP, membuat gurunya menunjuknya sebagai kiper.

"Saya masih ingat sebelum ganti posisi jadi kiper, dalam pertandingan itu saya sempat membuat dua gol. Tiba-tiba saya dipasang sebagai kiper, ternyata hasilnya bagus. Saya tidak kebobolan," kata Boyke seperti dilansir dari Persib.co.id.

Robby Darwis dan Ajat Sudrajat

Ajat Sudrajat. (Bola.com/Dody Iryawan)
Ajat Sudrajat. (Bola.com/Dody Iryawan)

Di posisi striker, Otong Koil memilih nama Ajat Sudrajat. "Kalau striker sudah pasti Ajat Sudrajat. Permainannya apa ya, kaya Maradona."

Periode 1980-an jadi era kebangkitan Persib Bandung di pentas sepak bola nasional. Keberhasilan itu tak bisa dilepaskan dari sosok Ajat Sudrajat, striker kharismatik sekaligus kontroversial yang menjadi legenda hidup kecintaan Bobotoh.

Elegan dengan insting mencetak gol yang tinggi kental melekat pada diri Ajat saat beraksi bersama Persib di lapangan hijau. Penampilan ciamik Ajat itu pun dianggap mewakili karakter khas Persib, yakni mengandalkan permainan dari kaki ke kaki yang cepat untuk 'membunuh lawan'.

Pendirian Monumen Sepakbola berbentuk patung pemain pada 1990 di Jalan Tamblong erat dikaitkan dengan Ajat sebagai bukti pengakuan dan kecintaan masyarakat Bandung kepadanya.

"Terus di pertahanan ada Kang Robby Darwis. Itu mah udah paling jago lah. Satu lagi (di gelandang) saya lupa euy namanya, depannya ada Asep-nya, cuma belakangnya enggak ingat siapa, mungkin Suparna, Sukarya atau siapa, lupa," sambung Otong Koil.

"Semuanya yang ada di ingatan saya hanya yang dari tahun 80-an, maklum sudah tua. Memori juga skip, terlalu banyak mabuk."

Musik dan Dapur

Koil Acara Synchronize Fest 2020, (15/11/2020). (Adrian Putra/Fimela.com)
Koil Acara Synchronize Fest 2020, (15/11/2020). (Adrian Putra/Fimela.com)

Pada satu momen, ia pernah diomelin oleh penggemarnya karena berkolaborasi dengan Charly ST12 dan juga Dhani Ahmad. Fans tidak senang karena menurut mereka, Koil merusak citra sebagai band indie yang punya idealisme beserta cult dan movement-nya.

Alih-alih mendengarkan suara penggemar, ia tidak mau ambil pusing. Sekitar 2009, Otong dan penabuh drum Koil, Leon, membuka restoran. Suara miring makin menjadi-jadi lantaran Otong dinilai tak pantas mengurusi tetek bengek dapur.

"Yang penting kami membuat lagu, kalau senang tinggal didengarkan. Kalau kami sudah tidak punya fans, tinggal bubar saja," ujarnya dilansir dari Kompas.com.

Pada Desember 2020, Otong mengaku sudah menggarap materi baru. Ini menjadi sesuatu yang dinantikan oleh penggemarnya. Maklum saja, sejak Koil berdiri pada 1993, baru ada tiga album yang diterlurkan, yakni Koil (1996), Megaloblast (2001), dan terakhir Blacklight Shines On (2007).

Otong menjelaskan bahwa materi tersebut sudah dijalankannya sejak November 2019, namun baru terealisasi belum lama ini. Yang menarik, Koil tetap tegas dalam pendiriannya, yakni hanya merilis album dalam bentuk fisik.

Selain itu, dalam peluncurannya, Koil menggunakan sistem pre-order, di mana pembeli, selain mendapatkan CD album First Installment, juga bisa memiliki sebuah T-shirt. Yang lebih istimewanya lagi, album berisikan dua demo plus sembilan lagu bonus itu hanya dijual sebanyak 300 buah saja.

"Setidaknya upaya ini adalah langkah pendokumentasian yang padu. Tak hanya memperdengarkan karya baru dari perenungan panjang, tetapi juga serupa dokumentasi perjalanan musikal Koil lewat ziarah ke ragam referensi yang memengaruhi dan membesarkan mereka. Percayalah, First Installment lebih dari sekedar kejutan," bunyi pernyataan Otong melalui Instagram pribadinya, 17 Desember 2020 lalu.

Sumber: Berbagai sumber

Video