Pabrik-pabrik sarung tangan kesehatan pangkas staf 50% akibat virus

·Bacaan 4 menit

Associated Press mendapati fakta bahwa pabrik-pabrik sarung tangan kesehatan Malaysia, yang membuat sebagian besar pelindung tangan yang paling penting di dunia, beroperasi pada separuh kapasitas hanya untuk mereka yang sangat dibutuhkan.

Para petugas kesehatan mengenakan sarung tangan sebagai garis perlindungan pertama dari paparan COVID-19 yang diderita pasien, dan alat itu juga penting dalam melindungi pasien. Namun pasokan sarung tangan kelas medis kian menipis di seluruh dunia, bahkan saat semakin banyak saja pasien demam, berkeringat dan batuk masuk rumah sakit-rumah sakit dari hari ke hari.

Malaysia sejauh ini merupakan pemasok sarung tangan medis terbesar di dunia, dengan memproduksi setiap tiga dari empat sarung tangan di pasaran. Industri ini memiliki catatan buruk dalam memperlakukan para pekerja migran.

Pemerintah Malaysia memerintahkan pabrik-pabrik menghentikan semua operasinya mulai 18 Maret. Kemudian, satu demi satu, yang membuat produk-produk dianggap sangat penting, termasuk sarung tangan medis, diwajibkan meminta pengecualian untuk buka kembali, namun hanya dengan separuh tenaga kerjanya demi mengurangi risiko tertular virus baru itu, kata sejumlah laporan industri ini dan sumber-sumber orang dalam. Pemerintah Malaysia mengatakan perusahaan harus memenuhi permintaan domestik sebelum mengekspor apa pun. Asosiasi Produsen Sarung Tangan Karet Malaysia pekan ini meminta pengecualian.

"Setiap penghentian segmen-segmen produksi dan administratif industri kita mengartikan penghentian total pembuatan sarung tangan dan itu akan menjadi bencana bagi dunia," kata presiden asosiasi Denis Low dalam sebuah pernyataan yang dirilis ke media Malaysia. Dia mengatakan anggota-anggotanya menerima permintaan jutaan sarung tangan dari sekitar 190 negara.

Data perdagangan yang dikumpulkan Panjiva dan ImportGenius menunjukkan, impor sarung tangan medis AS sudah 10% lebih rendah bulan lalu dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Para ahli mengatakan penurunan yang lebih besar diperkirakan terjadi dalam beberapa pekan ke depan. Negara-negara lain yang membuat sarung tangan termasuk Thailand, Vietnam, Indonesia, Turki dan terutama China juga terganggu karena virus corona.

Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (CBP) pada Selasa mengumumkan bahwa pihaknya mencabut penghalang impor dari salah satu produsen sarung tangan medis terkemuka Malaysia, WRP Asia Pacific, di mana para pekerjanya diduga dipaksa membayar biaya rekrutmen sampai $5.000 di negara-negara asalnya, termasuk Bangladesh dan Nepal.

CBP mengatakan mereka mencabut perintah yang dikeluarkan September itu setelah mengetahui perusahaan tersebut tidak lagi memproduksi sarung tangan medis dalam kondisi kerja paksa.

"Kami sangat senang bahwa upaya ini berhasil memitigasi risiko rantai pasokan secara signifikan dan menghasilkan lingkungan kerja yang lebih baik serta perdagangan yang sesuai aturan," kata Asisten Eksekutif Komisaris CBP untuk Kantor Perdagangan Brenda Smith.

Industri manufaktur sarung tangan medis Asia Tenggara terkenal karena memperlakukan buruk tenaga kerja, termasuk menarik biaya rekrutmen yang menjerumuskan para pekerja miskin ke dalam lilitan utang.

"Sebagian besar pekerja yang memproduksi sarung tangan yang penting dalam endemi COVID-19 global masih berisiko tinggi terhadap kerja paksa, sering kali terjerat utang,”kata Andy Hall, spesialis hak-hak pekerja migran yang fokus memperhatikan kondisi-kondisi kerja di pabrik-pabrik sarung tangan karet Malaysia dan Thailand sejak 2014.

Pada 2018, para pekerja mengatakan kepada sejumlah organisasi berita bahwa mereka terjebak di pabrik dan dibayar sangat rendah saat lembur. Menanggapi hal ini, para importir, termasuk National Health Service Inggris, menuntut perubahan, dan perusahaan-perusahaan berjanji menghapus biaya rekrutmen dan menciptakan kondisi kerja yang baik.

Sejak itu, para pembela seperti Hall mengatakan telah ada perbaikan, termasuk menyediakan makanan yang baru-baru ini dilakukan di beberapa pabrik. Namun para pekerja masih menderita akibat kerja shift panjang dan sulit, serta menerima upah kecil untuk membuat sarung tangan medis bagi dunia. Sebagian besar pekerja di pabrik-pabrik Malaysia adalah kaum pendatang, dan tinggal di asrama yang penuh sesak di pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Seperti semua orang di Malaysia, mereka kini dikunci akibat virus corona.

"Para pekerja ini, bagian dari para pahlawan tak dikenal pada era modern dalam memerangi pandemi COVID-19, layak mendapatkan rasa hormat lebih atas pekerjaan penting yang mereka lakukan," kata Hall.

Sarung tangan hanyalah salah satu dari banyak jenis peralatan medis yang saat ini mengalami kelangkaan pasokan di AS.

AP melaporkan pekan lalu bahwa impor pasokan-pasokan medis kritis termasuk masker N95 menurun tajam dalam beberapa pekan terakhir karena tutupnya pabrik-pabrik di China, di mana para produsen diminta menjual semua atau sebagian pasokan mereka di dalam negeri ketimbang diekspor ke negara lain.

Rachel Gumpert, direktur layanan komunikasi dan keanggotaan Asosiasi Perawat Oregon mengatakan rumah sakit-rumah sakit di negara bagian itu "berada di ambang krisis."

"Semua kekurangan segalanya," kata dia. Rumah sakit-rumah sakit itu saat ini umumnya kekurangan masker yang memadai, kata dia, namun "dalam dua pekan kita akan berada di tempat sangat buruk dalam hal sarung tangan."

Di AS, kekhawatiran terhadap kelangkaan telah mendorong sejumlah kalangan menimbun dan menjatah barang. Dan rumah sakit-rumah sakit setempat meminta sumbangan masyarakat.

Menanggapi masalah ini, FDA menyarankan penyedia medis yang persediaannya berkurang atau sudah hilang: jangan mengganti sarung tangan antar pasien-pasien yang memiliki penyakit menular sama, atau gunakan sarung tangan makan.

Bahkan dalam kondisi persediaan memadai, FDA mengatakan bahwa dalam keadaan saat ini: "sediakan sarung tangan steril untuk prosedur di mana sterilitas diperlukan."

Pekan lalu seorang dokter Italia meninggal dunia setelah dites positif virus corona baru. Dalam salah satu wawancara terakhirnya, dia mengatakan kepada stasiun televisi Euronews bahwa dia harus merawat pasien tanpa sarung tangan.

"Sudah kehabisan sarung tangan," kata dia.