Pacaran di Aplikasi Kencan Online Gak Kurangi Keintiman Saat Valentine

Lazuardhi Utama, BBC Indonesia
·Bacaan 5 menit
pacaran, pandemi, covid-19
Pacaran selama pandemi telah mengalami perubahan karena pembatasan bepergian.

Saat Inggris berlakukan lockdown karena pandemi COVID-19, untuk kali pertama Maret tahun lalu, Kristina sadar bahwa upayanya mencari jodoh makin susah.

Seperti kebanyakan orang, dia lalu beralih ke kencan virtual - yaitu gaya pacaran jarak jauh lewat video di aplikasi kencan online yang membuat dia kini lebih terbiasa, dan dalam beberapa hal, lebih dia suka. Jadi, apakah "Zoomancing" (atau pacaran lewat Zoom) ini sudah mengubah cara orang berpacaran untuk seterusnya?

"Lockdown benar-benar bikin saya tidak bisa keluar untuk pacaran," kata Kristina, seorang perempuan berusia 43 tahun asal Afrika Selatan yang bekerja sebagai pengasuh anak di London.

"Saya masih ingin nongkrong di bar dan minum bersama teman-teman. Tapi saya tidak lagi kangen dengan proses bertemu seseorang yang belum saya cukup tahu seperti sebelumnya."

"Dengan [pacaran] lewat video (di aplikasi kencan online), kita tetap berada di rumah, kalau ada yang salah dan jadi tidak canggung. Saya pun bisa hemat uang dan waktu."

`Cinta pelan-pelan`

pacaran, kencan
Survei menunjukkan bahwa banyak orang pilih menunda bertemu langsung untuk kencan pertama bahkan walaupun mereka mampu melakukannya.

Saat internet kian menjadi cara yang lazim bagi para sejoli untuk saling bertemu di belahan dunia mana pun dalam dua dekade terakhir, pacaran selama pandemi COVID-19 telah mengalami sejumlah perubahan karena ada hambatan untuk bertemu dan jalan-jalan.

Berbagai aplikasi kencan online mengalami peningkatan jumlah anggota di seluruh dunia pada 2020. Aplikasi Hing, salah satunya, jumlah unduhannya naik 82 persen.

Banyak orang pun kini menghabiskan lebih banyak uang untuk mengunjungi aplikasi kencan, menurut lembaga konsultan We Are Social, yang menemukan bahwa Tinder akhir tahun lalu berada di atas TikTok dan Netflix dalam hal pengeluaran penggunanya.

Namun menurut sejumlah perusahaan jasa kencan mengungkapkan bahwa beberapa survei mengungkapkan perubahan lainnya.

Mereka menemukan bahwa bahkan di tempat-tempat yang secara teknis masih sulit untuk bertemu secara langsung - meski secara sosial berjauhan - ada peningkatan jumlah pengguna aplikasi untuk memilih menunda pacaran secara langsung dan malah memilih berkontak dahulu secara daring dengan calon jodoh mereka untuk sekian lama.

Tren itu, bagi para pakar, didorong oleh bertambahnya penggunaan sambungan lewat video (video calls), sehingga dari situ muncul istilah Zoomancing.

"Cara yang lama dan biasa, yaitu bertemu secara langsung sudah sulit dilakukan, keinginan orang-orang untuk bertemu seseorang dan berkontak memang belum berakhir," kata Hayley Quinn, seorang instruktur kencan dan pembicara TedX, kepada BBC.

"Namun di masa pandemi ini mendorong tren Zoomancing, yang mana orang-orang ingin cari tahu satu sama lain lebih baik lagi, sebelum berkomitmen untuk pergi pacaran secara langsung."

pacaran, kencan
Orang-orang kini menikmati percakapan yang lebih bermakna lewat video, kata pakar bernama Helen Fisher.

Kalangan pakar perkencanan yakin bahwa pembatasan kehidupan sosial telah memberi peluang bagi orang-orang untuk berkaca lebih jauh mengenai cara mereka membangun hubungan.

Helen Fisher, paker antropologi biologis dan ketua penasihat ilmiah perusahaan Match.com, yakin bahwa ada penguatan tren yang dia sebut "cinta pelan-pelan."

"Saya sudah mensurvei kaum lajang di AS selama bertahun-tahun. Sebelum pandemi, hanya 6 persen yang menggunakan percakapan video. Kini sudah dilakukan oleh satu dari lima kaum lajang," jelasnya.

"Orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan mereka menikmati percakapan yang lebih bermakna, lebih jujur, transparan, dan membuka diri."

Kristina, contohnya, mengatakan bahwa pembatasan wilayah telah membuat dia berkomunikasi lebih terbuka dengan para calon pacarnya sebelum melanjutkan untuk bertemu secara langsung.

"Artinya kini kami harus lebih mengenai satu sama lain secara lebih dalam," katanya.

Pergeseran budaya

kencan, grindr, lgbtq
Aplikasi kencan untuk kaum LGBTQ seperti Grindr, telah menunjukkan para penggunanya cara alternatif untuk tetap terhubung.

Tidak mengejutkan bahwa beberapa aplikasi perkencanan memiliki fitur percakapan video lebih luas lagi selama pandemi.

Grindr, yang menyediakan layanan bagi komunitas LGBTQ, membuat fitur percakapan video premium yang gratis diakses untuk beberapa waktu dan membawa para penggunanya untuk hadir secara virtual di kencan-kencan maupun acara-acara penting seperti "Pride Month."

"Kami tentu saja telah menyadari pergeseran budaya dalam menggunakan aplikasi kencan selama pandemi," kata Alex Black, kepala pemasaran Grindr, kepada BBC.

"Sekitar 48 persen dari pengguna jasa kami mengaku sudah berhubungan secara virtual dengan seseorang, termasuk dengan menggunakan foto dan video."

"Ini menunjukkan bahwa mereka mencari cara lain untuk terhubung di saat `bertemu saat itu juga` harus menunggu."

kencan
Salah seorang pendiri Filter Off Zack Schleien berkaca dari pengalamannya dalam berkencan.

Industri kencan bahkan telah menyaksikan peluncuran teknologi baru untuk memenuhi kebutuhan Zoomancers.

Salah seorang pendiri Filter Off, Zack Schleien, berkaca dari pengalaman-pengalaman dia dalam berkencan saat menciptakan aplikasi video berbasis percakapan tahun lalu.

Menurut dia, bahkan sebelum pandemi COVID-19 dia biasa meminta calon pacarnya untuk bertemu lewat komunikasi video sebelum ketemu langsung.

"Saya sering berkencan dan terkadang secara cepat menyadari kalau memang tidak nyambung, pasti salah satunya memang tidak tertarik," kata dia.

"Jadi saya minta orang-orang untuk pakai komunikasi lewat video untuk memastikan bahwa ada prospek yang baik sebelum saya bertemu dengannya. Kebanyakan menolak saya."

"Tapi saya tahu pasti ada orang lain yang punya harapan yang sama. Pandemi COVID-19 telah mengubah persepsi dan chatting lewat video itu kini lebih sering bisa diterima."

kencan
Para pakar yakin bahwa akan ada kencan pertama yang lebih bermakna saat kehidupan kembali normal.

Menurut Quinn, data dari sejumlah survei menunjukkan bahwa bahkan saat pandemi berakhir, "banyak orang mengaku ingin tetap melanjutkan dengan komunikasi lewat video"

Menurut Tinder.com, lebih dari 65 persen pengguna yang mencoba fitur chat video sejak digulirkan secara global pada Oktober lalu mengaku akan menggunakannya lagi.

Sebagai sumber, video sudah menjadi alat pemeriksa yang Fisher yakini tidak akan ditinggalkan saat kehidupan kembali berjalan normal.

"Menurut saya, kita akan melihat bakal lebih sedikit kencan pertama secara langsung karena banyak orang ingin menyingkirkan hal yang mereka tidak inginkan sebelum benar-benar bertemu langsung."

"Namun di saat yang sama, kita akan melihat lebih banyak lagi kencan pertama yang lebih berarti."

Tetap saja kencan virtual bisa jadi sulit. Kristina mengaku beberapa temannya yang lajang, yang bekerja di bidang yang membutuhkan komunikasi virtual secara rutin, tidak langsung senang bila harus tambah layar lagi untuk dilihat.

"Beberapa dari mereka seharian melakukan komunikasi lewat Zoom dan mereka menemukan bahwa kencan lewat video itu sungguh sulit," ujarnya.

Juga, seperti halnya kencan tradisional, pacaran online tidak dijamin sukses. Kristina mengaku sampai kini belum merasa "pas" dengan siapapun yang dia temui lewat video chat.

Namun, dia tidak sampai merajuk soal itu, juga tidak takut mengalami Hari Valentine kali pertama di saat lockdown. Dia lebih pilih belajar resep-resep baru untuk merayakan bersama orang-orang dekat.

"Saya memasak hidangan seafood untuk teman-teman flat dan merayakan kita semua baik-baik saja walau ada pandemi. Ini lebih penting dari apapun saat ini."