Pacu Hilirisasi, Kemenko Marves Ungkap Jumlah Kekayaan Nikel RI

Dusep Malik
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) menyatakan komitmen memacu atau mengakselerasi hilirisasi nikel melalui percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi.

Penyebabnya Indonesia kaya akan keberadaan produk tambang tersebut, sehingga tidak lagi boleh di jual secara mentahan sebagai mana produk tambang yang ada selama ini. Sulawesi diungkapkan menjadi episentrum nikel di Indonesia.

Asisten Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Kemenkomarves Tubagus Nugraha, mengungkapkan Area Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara punya potensi yang terbesar di Indonesia sampai dengan saat ini.

Dia pun menyebutkan, berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada tahun ini, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton, terdiri dari yang tereka 5.094 juta ton, terunjuk 5.094 juta ton, terukur 2.626 ton, hipotetik 228 juta ton.

Sementara itu, cadangan bijih tercatat sebesar 4.346 juta ton, terdiri dari yang terbukti 3.360 juta ton dan terkira 986 juta ton. Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.

Oleh sebab itu, dia melanjutkan, untuk mempercepat realisasi PSN, pemerintah akan memberikan berbagai fasilitas perizinan baik yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

"Hal utama yang harus dipercepat adalah izin Hak Guna Bangunan (HGB), dukungan energi listrik dan rencana pembangunan smelter," katanya seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat 20 November 2020.

Tubagus juga mengungkapkan sejumlah smelter di Sulawesi yang masuk dalam usulan PSN diantaranya Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Morowali, Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe dan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Menurut Tubagus, Kabupaten Kolaka menjadi salah satu lumbung Nikel Indonesia. Oleh karena itu, dengan menjadikan smelter PT CNI sebagai PSN, hilirisasi nikel akan menghasilkan nilai tambah dan mendorong percepatan ekonomi daerah dan nasional.

"Dan yang paling penting menciptakan lapangan kerja. Kami perkirakan, jika smelter PT CNI beroperasi akan melebihi 4000 tenaga kerja yang terserap," ungkap Tubagus.

Deputi Direktur PT CNI Djen Rizal menambahkan, PT CNI sedang membangun pabrik pengolahan bijih Nikel Saprolit dengan teknologi RKEF yang terdiri dari total 4 line. Untuk produksi, rencananya mencapai 252,000 ton per tahun Ferronickel (FeNi) 22 persen Ni.

"Kapasitas listrik yang dibutuhkan sebesar 350 MW dengan umur pabrik diperkirakan dapat mencapai lebih dari 20 tahun operasi," tegas Djen. (ren)