Pada Momen Terberatku Ramadan Waktu Itu, Ada Hikmah yang Begitu Berharga

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Meliana Aryuni

Tiga tahun yang lalu adalah Ramadan terberat buatku sekeluarga. Tahun itu kami baru mulai berbenah. Kami berbenah menghadapi situasi baru dan tempat yang baru, yang jauh dari sana saudara.

Di sebuah desa, di ujung Sumatra Selatan adalah tempat tinggal kami. Saat itu keadaan ekonomi kami yang bisa dibilang dicukup-cukupkan bahkan morat-marit. Untuk mencukupi kebutuhan harian, kami memiliki sedikit lahan untuk menanam tanaman sayur dan apotek hidup. Dengan begitu, kebutuhan harian seperti sayuran tidak terlalu memusingkan lagi. Tetangga di sini pun suka memberi sayuran saat panen.

Tahun itu, kami baru membangun sebuah gubuk sederhana, yang dibuat dengan keterbatasan dana. Tujuannya agar suamiku tidak terlalu jauh kerja. Aku kasihan melihat suamiku yang sering batuk dan masuk angin karena udara dingin di pagi hari, apalagi kalau pulangnya turun hujan.

Dengan bismillah dan keuangan yang didapat dari pinjaman bank, gubuk kami akhirnya bisa ditempati. Meskipun keadaanya belum seutuhnya selesai. Yang penting bagi kami, rumah itu sudah bisa melindungi diri dari hujan dan panas.

Kami tidak serta merta nekat membangun rumah ini. Alasan lain bahwa rumah kontrakan kami sering kebanjiran. Yang kucemaskan adalah kedua bayiku sehingga keputusan pindah pun terlaksana, apalagi jika suamiku tertunda pulang karena hujan deras.

Tetap Melakukan yang Terbaik di Kala Susah

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Hafizussalam
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Hafizussalam

Di awal Ramadan, kami pindah dari kontrakan. Sejak saat itu, kami harus mengencangkan ikat pinggang agar bisa bertahan hidup.

Ramadan tahun itu sangat menyedihkan bagiku. Aku mulai berjualan makanan pembuka puasa. Aku berharap mendapatkan sedikit keuntungan dari jualan roti, puding, pempek, dan bolu. Namun, sayang, jualanku itu tidak habis terjual. Warga di tempat tinggalku jarang mau membeli takjil. Mereka lebih suka membuat takjil sendiri. Aku hanya berhasil berjualan selama tiga hari dengan modal yang tidak kembali.

Untung saja anak-anakku belum mengerti dan meminta makanan kesukaannya. Mereka makan kue jualanku. Hatiku sedih saat itu. Keinginanku untuk untung malah modalku jadi buntung. Ah, setidaknya aku masih bisa memberikan makanan untuk anak-anakku.

Agar tidak mubazir dan menjadikan makanan takjil tadi bermanfaat, kubungkus makanan itu ke dalam beberapa bungkusan. Setelahnya, aku minta suamiku untuk mengantarkan kepada tetanggaku. Seketika, hatiku yang tadinya bersedih menjadi gembira. Dengan cara seperti ini jalan Allah membuatku berbagi dengan sesama.

Dengan cara seperti ini juga Allah menunjukkan kepadaku bahwa aku harus bersyukur dengan segala pemberian-Nya. Inilah cara Allah menunjukkan kepadaku bahwa aku masih bisa berbagi walaupun dalam keadaan kekurangan. Aku bersyukur, dengan berbagi Allah mengingatkanku akan nikmat-Nya.

Aku yakin saat itu bukan hanya kami yang mengalami kesempitan rezeki. Aku yakin di luar kehidupan kami masih banyak yang lebih menderita hidupnya. Aku bersyukur karena bisa menjalani hidup sampai sekarang.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikmannasiir.

Cukuplah Allah sebagai tempat diri bagi kami, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami.

#ElevateWomen