Pahlawan Pangan di Tengah Pandemi COVID-19, Rudy Bertahan Budidaya Ikan Sidat

·Bacaan 11 menit

Liputan6.com, Jakarta Pahlawan Pangan di masa pandemi COVID-19 terus menjaga ketersediaan pasokan makanan. Kiprah tersebut, salah satunya lewat sosok Rudy yang bertahan membudidayakan ikan sidat. Ikan sidat bagi orang Jepang biasa disebut unagi. Jenis ikan air tawar ini kaya protein, karbohidrat, dan omega 3.

Walaupun kondisi pandemi COVID-19 yang serba sulit, Rudy yang budidaya ikan sidat sejak tahun 2010 tak menyerah. Bila sejumlah pembudidaya ikan sidat lain gulung tikar, Rudy justru memutar otak, bagaimana strategi agar sidat miliknya tetap eksis dan menghasilkan pundi-pundi pendapatan.

Tak dimungkiri, dampak pandemi yang berujung Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat pengiriman ikan sidat terhenti. Restoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan tempat ia memasok sidat sempat tutup selama 5 bulan. Alhasil, 5 bulan itulah, sidat miliknya hanya berada di dalam kolam.

Efek juga menerpa pengiriman ke luar negeri. Sidat Rudy yang biasa dikirim ke Jepang untuk memasok restoran di Negeri Sakura sana turut terhenti. Ia menunggu. Berharap bisa kembali mengekspor sidat ke Jepang.

Kecintaan Rudy kepada ikan sidat membuahkan hasil. Ada restoran Jepang yang akhirnya buka dan memesan pasokan sidat miliknya. Secercah harapan saat COVID-19 masih berlangsung. Dengan sabar, Rudy pun merawat sebaik-baiknya sidat supaya kualitas ikan tetap terjaga baik.

Lantas bagaimana seluk-beluk perjuangan Pahlawan Pangan Rudy, Sang Pembudidaya Ikan Sidat yang tinggal di Cilacap, Jawa Tengah ini? Melalui wawancara khusus dengan Health Liputan6.com, ditulis Rabu, 30 Desember 2020, Rudy menceritakan kisahnya bersama sidat miliknya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

5 Bulan Tidak Suplai Sidat karena Pandemi COVID-19

Resep Olahan Ikan (Image by Pexels from Pixabay)
Resep Olahan Ikan (Image by Pexels from Pixabay)

Bagaimana dampak budidaya ikan sidat yang dirasakan selama pandemi COVID-19?

Dampak COVID-19 sangat luar biasa buat kami, terutama penjualan. Biasanya rutin berjualan, sekarang banyak sekali restoran karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) enggak bisa jualan, terutama yang ada di mall. Soalnya restoran yang kami suplai itu restoran Jepang (yang ada di mall), tapi pemiliknya orang Indonesia, ada juga orang Indonesia.

Selama PSBB jadi terasa sekali berbeda. Pengunjung juga enggak bisa makan di tempat. Bahkan karena PSBB, kami tak bisa berjualan selama 5 bulan, ya dari Februari 2020. Itu pas ramai pemberitaan COVID-19 yang di Tiongkok. Indonesia sebenarnya sudah terpengaruh, terlebih lagi restoran (restoran luar negeri). Begitu kabar, di Depok, Jawa Barat ada kasus COVID-19 juga semakin genting.

Praktis, kami enggak bisa jualan dan enggak bisa suplai juga. Dengan kita tidak jualan, tidak ada pemasukan, pengeluaran tetap jalan. Contohnya, ikan sidat tetap dikasih makan, listrik enggak mungkin dimatikan, tapi gaji karyawan tetap bisa. Saya pribadi langsung menerapkan kebijakan pengurangan karyawan, lalu pemasukan 50 persen. Alhamdulillah, karyawan menerima.

Lima bulan tidak bisa suplai, apakah setelah itu ada titik terang?

Selama pandemi COVID-19, kami bener-bener merasa bingung juga, mau bagaimana ke depannya, usaha budidaya sidat mau seperti apa. Mau jual beberapa aset dimiliki untuk menopang hasil, ya mau jual kemana, toh kondisi kita lagi mengkhawatirkan.

Di situlah, kami bertahan dengan anggaran seadanya. Alhamdulillah, setelah 5 bulan, ada resto baru franchise Jepang masuk. Itu suatu keberuntungan luar biasa, kami suplai sidat ke sana sebanyak 700 kg sampai 1 ton. Lumayan untuk menopang kami. Franchise Jepang sudah berjalan 3 bulanan.

Bagaimana nasib hasil panen ikan sidat saat tidak ada suplai 5 bulan?

Sebenarnya kapasitas panen per bulan bisa 2,5 ton. Karena mitra terkendala ekspor, saat ini belum bisa ekspor. Langkah yang kami lakukan, ikan sidat yang sudah berukuran di atas 400 gram yang masuk market Jepang, Saya tahan.

Tentunya, masih menunggu Jepang menerima lagi (pintu ekspor dibuka). Hanya cara itu yang kami lakukan. Kalau kami tidak melakukan langkah itu terjadi oversize, yang mana masuk ke pasar Jepang tidak bisa terima. Ukuran sidat antara 250-350 gram. Saya lakukan untuk mengantisipasi jangan sampai oversize yang tidak diterima dan timbulkan kerugian.

Antisipasi Sidat terhadap Fenomena La Nina

Ilustrasi ikan | Pexels
Ilustrasi ikan | Pexels

Adanya pengurangan pemberian pakan, apakah pengaruhi panen dan pertumbuhan ikan sidat?

Itu pasti. Pertumbuhan sidat dipengaruhi pakan yang diberikan. Beda dengan jenis ikan air tawar pada umumnya, yang kalau tidak diberi pakan pelet atau tambahan, tapi dia bisa bertahan tumbuh dengan makanan lain, seperti lumut dan daun-daunan. Nah, kalau sidat enggak bisa begitu.

Kalau dia tidak diberi pakan, enggak makan yang lain. Sudah terbiasa dengan pelet sidat yang kami beri. Sangat berpengaruh sekali pertumbuhan, yang biasanya panen 1 bulan bisa mundur 1,5 sampai 2 bulan. Tapi dengan pemberian pakan 1 kali sehari, termasuk memerhatikan kondisi sidat.

Ya, kan kita mikir, COVID-19 mau sampai kapan berakhir. Kalau kita kebut makan, masuk ukuran market size, ternyata pintu ekspor belum dibuka, akhirnya niat berefek oversize. Butuh banyak pertimbangan.

Apakah pernah mencoba penjualan online?

Pernah, dibantu juga sama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk penjualan online, tapi pasaran lokal kurang. Kurang diminati, bahkan belum terjadi transaksi. Baru 2 bulan penjualan online, belum ada transaksi yang masuk.

Bagaimana antisipasi terhadap fenomena La Nina?

Untuk saat ini, curah hujan stabil, sejauh pengalaman, Saya kebetulan budidaya ikan sidat sejak tahun 2010 dan Cilacap tahun 2014. Selama saya budidaya, tidak ada pengaruh signifikan terhadap curah hujan tinggi dan banjir. Kemudian kemarau panjang, pertumbuhan memang lebih lambat karena salinitas naik.

Kendala ini sebenarnya tidak terlalu besar. Kami sedikit merekayasa di lapangan. Yang pasti tetap dipantau terus informasi La Nina. Untuk luas kolam ikan sidat, Saya 3 hektar, anggota lain 1,5 hektar, serta mitra kami sekitar 1,5 hektar. Total sekitar 6 hektar.

Kalau panen sidat, apakah serentak?

Panennya bertahap. Makanya, per 2 minggu sekali ada sortir, yang ditempatkan satu kolam, tapi pengiriman (suplai) per minggu ke restoran. Mau konsumsi, tinggal angkat stokpile. Jadi, setiap 2 minggu sekali ada sortir, kita pindahkan ke kolam stockpile.

Ikan Sidat Kaya Gizi, tapi Belum Familiar

Sebagai pengganti unagi, Ichiban Sushi gunakan ikan lele sebagai bahan dasar (Foto: Ichiban Sushi)
Sebagai pengganti unagi, Ichiban Sushi gunakan ikan lele sebagai bahan dasar (Foto: Ichiban Sushi)

Ikan sidat kaya protein, bagaimana dengan minat lokal?

Sebenarnya sih, kalau kita bicara sidat, masyarakat Indonesia masih belum terlalu mengenal. Contohnya, di daerah bukan pesisir, yang jauh dari sungai, Saya sering ditanya, sidat apa ya? Lho kok enggak tahu sidat. Lalu giliran lihat ikannya, eh ternyata mereka geli.

Kayak ular wujudnya. Pengenalan sidat masih belum familiar. Kalau tentang nilai gizi dan protein ketika mereka diberikan pemahaman, baru paham. Oh, ikan sidat bagus buat gizi anak.

Kalau bicara harga, mahal juga. Menurut Saya, pengenalan masyarakat umum menengah ke bawah agak sulit. Pertama, belum familiar. Kedua, setelah lihat visual geli. Ketiga, sisi harganya mahal. Berbeda dengan kalangan menengah ke atas, rata-rata mereka mengenal sidat dan doyan.

Ikan sidat belum familiar, apakah dipengaruhi cara mengolah atau memasaknya?

Ini yang memang membedakan pengolahan. Masyarakat pesisir yang hidup di dekat sungai, seperti Saya sudah mengenal sidat dari kecil. Yang kita tahu itu, pepes dan digoreng. Selalu seperti itu, setelah saya kenal dengan orang Jepang, sidatnya dibakar. Dan lebih enak. Saya coba makan langsung bisa diterima di lidah, Oh enak ya. Bahkan lebih enak.

Germas ajak makan sidat di Cilacap sudahkah disuarakan?

Kalau masyarakat kami sendiri, di area aliran sungai banyak sidat. Kebetulan kami budidaya itu lebih dari 50 gram. Masyarakat kami mengonsumsi. Sekarang banyak dari tangkapan alam bukan budidaya.

Saya punya ide untuk gerakan makan sidat. Kami punya kelompok mengolah sidat jadi abon sidat dan dipasarkan online. Abon sidat dan bakso juga ada. Tenaga ahli belum ada. Mau dipromosi, kita tetap menjual. Kami jual dengan harga terjangkau, itu sudah produksi. Tinggal pengembangannya.

Produksi olahan sidat masih 8 bulan lalu. Sempet pameran dari dinas kabupaten Cilacap. Sebenarnya antusias banyak beli, tapi dari harga mahal. Kami menghitung pajak penghasilan. Saya sedikit berpikir, kalau abon dari sidat tangkapan alam harganya terjangkau.

Harga kemarin dijual per 100 gram abon Rp50.000, banyak ngeluh harga tapi kalau sidat alam bisa setengah harga Rp25.000 per 100 gram. Bahkan di bawah Rp25.000, karena hasil tangkapan alam dari beli nelayan lebih murah.

Perjuangan Membuat Ikan Sidat Enak

Unagi Kabayaki
Unagi Kabayaki

Bagaimana pemantauan demi hasilkan sidat yang berkualitas?

Begitu ikut pelatihan ada 5 tahapan yang harus kami syaratkan ke calon mitra. Pertama, sumber daya alam, apakah cocok dengan budidaya sidat. Kedua, sumber daya manusia. Jangan suruh budidaya ayam terus sidat, kan enggak nyambung ya. Nah itu, SDM diberi pemahaman dan pelatihan. Bahkan diberikan magang di tempat kami sampai bisa. Ketiga, medianya, ada kolam sesuai regulasi dari kami.

Keempat, benih wajib dari kami. Kami ada aturan bagaimana kualitas sidat buat diekspor ke Jepang. Kriterianya, tidak mengandung chemical, bahan tidak cocok. Menghasilkan rasa dan kualitas baik. Kalau ditanya, apakah kolam Pak Rudy terbaik? Enggak begitu ya. Saya memang budidaya sidat dari 2010 sampai sekarang. Bisa bertahan dan berkembang.

Awal pertama kirim ke Jepang itu hasil tangkapan alam. Tapi Kita harus menjaga ekosistem, sehingga 2,5 persen budidaya dilepaskan ke alam supaya bibit sidat di alam tidak habis. Itu sudah menjadi komitmen kami bahwa tetap menjaga ekosistem.

Bagaimana perjuangan membuat daging ikan sidat lebih enak?

Kendala di lapangan saat pertama kali budidaya sidat, antara lain, pertumbuhan lambat, bisa dibilang enggak tumbuh, daging tidak berubah (rasa), masih sama dengan (hasil sidat tangkapan) alam. Kemudian Saya mendapatkan beberapa pemahaman dari kenalan orang Jepang.

Saya dikasih tahu cara budidaya baik dan benar serta kualitas terbaik dan daging lebih enak. Pertama, kulitnya harus tipis, tipis itu berarti sidat muda yang punya badan besar, daging empuk, masih muda dan besar. Aroma daging akan lebih enak, enggak bau amis, lepek atau lumpur.

Dari situlah, Saya menggali semakin banyak informasi dan beberapa mitra dari Dinas KKP, dinas terkait perikanan di kabupaten/kota. Saya pelajari betul-betul. Dari kualitas yang mereka (orang Jepang) inginkan. Alhamdulillah, berhasil dijual, selama ekspor ke Jepang.

Ada juga yang mengajak kontrak dengan kami. Tetapi karena stok cost-nya tinggi, pada waktu itu terus terang produksi kami nggak cukup. Satu ton per bulan enggak mampu secara permodalan.

Tiga tahun didera trial and error, pernahkah merasa putus asa?

Saya trial and error selama 3 tahunan.Pada waktu itu, dukungan dari keluarga sudah tidak ada lagi, istri orang, putus asa. Yang ada hanya pengeluaran, tapi pemasukan tidak ada. Padahal, Saya sedang mempelajari. Untuk sekolah budidaya sidat lebih mahal di lapangan.

Semangat Bertahan Budidaya Ikan Sidat

Musim panas di Jepang, menjadi saat yang pas untuk menikmati unagi alias belut dalam berbagai sajian di Gran Melia Jakarta. (Gran Melia Jakarta)
Musim panas di Jepang, menjadi saat yang pas untuk menikmati unagi alias belut dalam berbagai sajian di Gran Melia Jakarta. (Gran Melia Jakarta)

Apa yang membuat semangat bertahan budidaya sidat?

Yang bikin semangat, pertama, sidat dipijahkan. Prospeknya luar biasa, benih di Indonesia berlimpah, sedangkan di Jepang berkurang. Apabila dipijahkan kemungkinan besar, ke depan bagus. Dan pemainnya belum banyak.

Kedua, Saya melihat dari sisi harga jual. Harga jual stabil dan ikan air tawar ikan termahal. Ga ada ikan air tawar semahal ikan sidat.

Apa saja pengembangan teknologi budidaya sidat dari awal sampai sekarang?

Perubahan teknologi di kami sebenarnya mula-mula budidaya dengan tradisional. Contoh, penggunaan kolam-kolam--tidak ideal, kolam banyak petak kecil. Kemudian tidak pakai kincir, setelah dipelajari dengan waktu ,harusnya luas dan pakai kincir.

Soal kesehatan ikan sidat, tidak boleh menggunakan antibiotik. Kami menggunakan probiotik, lingkungan atau dicampur pakan.

Untuk mencari data valid lagi, kami menggunakan software untuk memasukkan identitas sidat ada. Semacam ada barcode biar bisa ketahuan, apakah kualitas sidat grad A atau B. Cara ini, supaya pembeli/pemesan percaya produk kami itu terkontrol dan berkualitas.

Kapan mulai ekspor sidat ke Jepang?

Setelah 3 tahun trial and error, akhirnya selang setahun kemudian (tahun keempat, 2014), sidat masuk market size. Ada permintaan dari Jepang, setahun mintanya 60 sampai 250 kg. Bahkan 1.000 ton. Dari situ, kami bisa ekspor.

Apakah orang Jepang sering bertanya ikan sidat?

Beberapa kali dapat kunjungan orang Jepang. Kami bikin sampel makanan. Mereka datang mau makan dan ternyata enak. Untuk kunjungan orang Jepang, ya setahun bisa 5 kali lah. Saat pandemi ini, baru orang Jepang yang dari Jakarta datang berkunjung.

Mereka lebih banyak memberikan saran dan bertanya pakannya alami atau buatan. Lalu apakah menggunakan antibiotik atau tidak. Posisi sumber air kolam tercemar limbah atau tidak.

Pergi ke Jepang Berkat Ikan Sidat

Jepang | pexels.com/@haugenzhays
Jepang | pexels.com/@haugenzhays

Bagaimana pengalaman ekspor sidat ke Jepang?

Pengalaman Saya kirim olahan ke Jepang 500 kg, pernah tiba-tiba barang ditahan di Narita. Barang dikarantina, katanya mau dicek, ada kandungan chemical atau tidak. Nunggunya sampai seminggu. Untungnya, di sana, ikan kami ditaruh di freezer. Deg-degan juga nunggu, jangan sampai barang ditolak masuk ke Jepang. Kalau ditolak, jelas rugi.

Setelah 1 minggu diinformasikan dari Jepang, barang kami lolos tidak masuk chemical. Di sana punya regualasi, tidak memperbolehkan antibiotik untuk produk konsumtif. Mereka selalu wanti-wanti, jangan pakai antibiotik.

Saya pernah tanya, antibiotik apa yang diperbolehkan membantu dari sisi mengantisipasi penyakit, mortalitas rendah, jawabannya tidak ada. Jadi, kami menggunakan alternatif probiotik dan pakan alami.

Alhamdulillah, untuk pengiriman sidat selanjutnya, enggak ada kendala lagi. Dari segi tes pengecekan di lab lolos, tidak pernah mengalami retur (pengembalian barang).

Adapun kendala secara teknis untuk saat ini terkendali. Bisa dibilang terkait cuaca alam dengan mengantisipasi berupa merekayasa. Budidaya sendiri tidak ada masalah, hanya saja soal ekspor masih terbatas karena kondisi pandemi.

Apa pengalaman menarik selama budidaya sidat?

Saya pernah dibilang, ‘Wah kamu gila Rudy. Kok sidat dibudidaya. Jadi, masih awam. Saya merasa menang bisa budidaya lho bisa jual. Itu bisa menjadi hal terindah. Hal lucu kami tentunya dalam budidaya sidat menganggap sidat seperti ikan lain. Misal, dia kita tabur di kolam biasa begitu kabur. Rame-rame ambil.

Yang menarik juga Saya mengenal banyak orang Jepang. Bisa pergi ke Jepang karena sidat, kenal pembudidaya sidat dari Sumatera-Sulawesi. Itu aja sih. Rasanya membanggakan.

Waktu ke Jepang pada 2017 selama 10 hari. Keliling kolam sidat ya sambil studi banding. Perbedaannya sangat jauh antara di Indonesia dan Jepang. Mereka menggunakan serba teknologi karena punya 4 musim. Di sana menggunakan kolam indoor. Teknologi sangat tinggi. Menurut Saya untuk diterapkan di Indonesia bisa saja, tapi secara cost sayang. Di Indonesia, kita dimanjakan dua musim, kita mampu kok budidaya.

Pernah terpikir buat alih profesi lain?

Untuk saat ini terlalu jatuh cinta sama sidat. Saat ini, Saya melihat potensi prospek dan sumber benih berlimpah, tapi yang Saya khawatirkan jangan sampai regulasi berubah. Jangan sampai status sidat jadi merah (hewan yang ketat dilindungi).

Simak Video Menarik Berikut Ini: