'Pajak Lemak' di Produk Minuman, Perlukah?

Ghiboo.com - Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah obesitas. Menurut para ahli, memberikan 'pajak lemak' pada minuman soft drink, seperti cola, dianggap salah satu cara terjitu.


Kenaikan harga pada produk soft drink diharapkan bisa menekan tingginya angka pengonsumsian minuman bergula dan mendorong konsumen membeli minuman alternatif lainnya yang lebih sehat.


Tak hanya itu, rencana pajak lemak juga harus diterapkan pada produk susu full cream. Menurut penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli internasional, menambahkan pajak lemak sebesar 10 persen diharapkan bisa menurunkan tingkat obesitas.


Saat ini, Denmark menjadi negara pertama yang memperkenalkan pajak lemak di bulan Oktober, dengan biaya tambahan khusus produk yang menganduk lemak jenuh.


"Dalam pengujian perpajakan sebagai usaha untuk menggeserkan pola pembelian minuman, kami menghitungkan bahwa kenaikan 10 persen berimbas pada penurunan konsumsi minuman manis menjadi 7,5 ml kapita per hari," ungkap peneliti.


Selain itu, dengan adanya pajak lemak akan dapat menurunkan pengonsumsian hingga 5 ml per individu setiap hari dan menurunkan asupan susu full cream hingga 7 ml per individu setiap hari.


Namun, pajak lemak ini masih menjadi kontroversi. Professor Jack Winkler, seorang professor kebijakan nutrisi mengatakan kalau pajak itu tidak efektif.


"Konsumen bisa saja membeli minuman dengan botol yang lebih besar, memilih membeli di toko yang lebih murah, membeli merk minuman yang harganya murah atau membeli pada saat ada 'penawaran khusus'," ungkapnya.


Lantas, perlukah pajak lemak di Indonesia?



(Berbagai Sumber)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.