Pak Jokowi, Harga Minyak Goreng Masih Tinggi Lho

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri, mengatakan harga sejumlah komoditas di pasar masih terpantau tinggi, terutama harga minyak goreng yang masih jadi perhatian konsumen dan pedagang.

“Harga yang masih tinggi ya beberapa komoditas yang selalu saya sebut, minyak goreng, telur dan ayam,” kata Abdullah kepada Liputan6.com, Senin (10/1/2022).

Namun, untuk komoditas telur dan daging ayam sudah mengalami penurunan meskipun tidak signifikan. Begitupun, harga cabai rawit merah juga berangsur turun. Kendati begitu, penurunan harga cabai rawit merah masih belum dibawah Harga Eceran Tertinggi (HET) masih di atas Rp 50 ribu per kg.

“Cabai rawit merah sudah ada penurunan juga tapi belum dibawah HET masih diatas Rp 50 ribu. seharusnya masih bisa dibawah Rp 50 ribu. Yang bertahan cukup sulit itu adalah minyak goreng yang terus kita dorong agar harganya bisa normal, sekarang masih Rp 19 ribu,” ujar Abdullah.

Menurut dia, melonjaknya harga minyak goreng disebabkan supply dan demand tidak seimbang. Dia menilai langkah operasi pasar dilakukan Pemerintah tidak akan berdampak signifikan jika operasi tersebut hanya dilakukan di ritel modern.

“Ini persoalan supply dan demand, kalau minyak goreng itu bisa didistribusikan dan diguyur di pasar tradisional maka harganya otomatis akan turun, tapi jika itu hanya di ritel modern dan di pasar tradisional tidak maksimal maka akan sulit,” jelasnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Acuan

Aktivitas pedagang dan pembeli di Pasar Mede, Jakarta, Rabu (15/12/2021). Harga pangan yang naik antara lain semua jenis cabe, bawang-bawangan serta minyak goreng. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Aktivitas pedagang dan pembeli di Pasar Mede, Jakarta, Rabu (15/12/2021). Harga pangan yang naik antara lain semua jenis cabe, bawang-bawangan serta minyak goreng. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebab, acuannya adalah pasar tradisional. Dilihat dari segmentasinya saja sudah beda antara pasar tradisional dengan ritel modern. Abdullah menegaskan, sebesar apapun upaya Pemerintah menurunkan harga minyak goreng, jika tidak menyasar pasar tradisional maka harga tersebut tidak akan turun.

“Karena acuannya di pasar tradisional, segmentasinya berbeda. Sekuat apapun di distribusi di ritel modern, di pasar tradisional tidak akan goyah harganya, tapi kalau diguyur stoknya di pasar otomatis akan ada penurunan harga,” ucapnya.

Selama stok minyak goreng yang dimiliki Pemerintah dan perusahaan bisa didistribusikan di pasar tradisional, secara otomatis harga minyak goreng akan dengan mudah turun.

“Kalau pasar tradisional melimpah maka harga akan turun, ini ekonomi pasar kalau barangnya banyak maka harga akan turun,” pungkas Abdullah.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel