Pakai Aplikasi Investasi, Warga Australia Tertipu Puluhan Juta Saat Pandemi COVID-19

·Bacaan 3 menit

Brisbane - Warga Australia tertipu hingga puluhan juta rupiah akibat aplikasi investasi di tengah pandemi COVID-19. Mereka diajak untuk investasi dana agar mendapatkan keuntungan besar.

Dilaporkan ABC Australia, Kamis (26/8/2021), salah satu korbannya adalah wanita bernama Kate (nama samaran). Warga di negara bagian Queensland itu kehilangan lebih dari Rp 80 juta dalam 12 hari, setelah terbujuk tawaran yang menjanjikan komisi bernilai ratusan dolar per hari lewat sebuah aplikasi.

Aplikasi investasi itu bernama Hope Business yang meminta orang menanamkan uang, kemudian mendapatkan komisi dari uang yang diinvestasikan. Aplikasi ini sekarang sudah tidak ada lagi di Australia.

Kate mengatakan aplikasi itu memberikan hadiah uang kalau kita bermain games di sana.

"Jadi ketika ada yang memberi informasi seperti itu, saya kemudian berpikiran 'oh mungkin benar juga. Tidak ada salahnya untuk mencoba,'" katanya.

Model penipuan muncul ketika aplikasi tersebut mengumumkan promosi akan memberikan hadiah bagi siapa saja yang menambah dana dalam jumlah besar ke dalam aplikasi dalam 12 hari.

Salah seorang anggota keluarga Kate mengatakan bahwa dia mendapatkan beberapa juta rupiah komisi setiap harinya.

"Jadi dia menambah dana $8 ribu (sekitar Rp 80 juta) dan saya bertanya 'berapa komisi yang kamu dapatkan?'" kata Kate.

"Dia mengatakan sekitar seribu dolar (sekitar Rp 10 juta). Saya bertanya lagi apa benar? Dia bilang ya. Saya kemudian berpikiran saya harus cepat menambah uang sebelum masa promosi 12 hari berakhir."

Ternyata, uang milik Kate tak bisa ditarik lagi.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Uang Tak Bisa Ditarik

ilustrasi smartphone/Photo by Giftpundits.com from Pexels
ilustrasi smartphone/Photo by Giftpundits.com from Pexels

Kate kemudian mengirim A$7500 dan mulai bermain games di aplikasi tersebut.

"Saya memang mendapat komisi sekitar A$900 sampai A$1000 tiap hari," katanya.

Jumlah uangnya di aplikasi tersebut memang meningkat setiap hari, tapi Kate tidak bisa menarik uangnya sampai masa promosi 12 hari berakhir.

Dan ketika hari ke-12 itu tiba, Kate tidak bisa menarik uangnya karena semua hilang.

"Mereka semua menghilang, sama dengan uang yang saya kirimkan," katanya.

"Semuanya hilang. Mereka menutup aplikasinya dan menghilang begitu saja."

Kate adalah satu dari belasan korban di negara bagian Queensland yang mengalami kerugian sekitar A$466 ribu (sekitar Rp 4,6 M) karena aplikasi tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut polisi, kecil kemungkinan uang mereka akan bisa kembali lagi.

"Saya juga mengundang beberapa anggota keluarga saya lainnya, jadi sekurangnya ada enam atau tujuh orang yang saya tahu, juga kehilangan uang mereka," tambah Kate.

Modus Lama, Aplikasi Baru

Ilustrasi Smartphone Android, Gadget. Kredit: Pexels via Pixabay
Ilustrasi Smartphone Android, Gadget. Kredit: Pexels via Pixabay

Kepolisian menjelaskan bahwa cara penipuan itu merupakan metode lama, namun kini memakai aplikasi.

Sersan Detektif Karen McAteer dari Bidang Kejahatan Dunia Maya dan Keuangan di Kepolisian Queensland mengatakan aplikasi investasi seperti 'Hope Business' adalah metode penipuan klasik dengan model piramida.

"Caranya adalah kita harus mencari orang baru sebagai bawahan," katanya.

"Jadi kita tidak saja menanamkan uang kita, namun kita juga harus mencari orang baru, dengan semakin banyak bawahan kita, semakin banyak komisi yang kita dapatkan."

Sersan McAteer mengatakan bentuk penipuan dengan aplikasi merupakan versi diperbaharui model penipuan di masa lalu, yaitu penyebaran surat berantai.

"Jadi orang-orang yang bergabung di awal akan mendapat uang mereka, sehingga timbul kepercayaan untuk menyebarkan informasi ke teman dan anggota keluarga mereka," katanya.Dia mengatakan masa pandemi menjadi kesempatan bagi para penipu untuk mencari korban di kalangan yang sangat membutuhkan uang dalam waktu cepat.

"Sasaran mereka memang kelompok masyarakat yang paling rentan," katanya.

"Jadi kalau Anda sedang kesulitan, Anda cenderung untuk mencari sesuatu yang bisa mendatangkan uang segera dan model penipuan seperti itu terlihat menarik."

Pelaku dari Luar

Sebuah jalan sepi terlihat di Brisbane, Australia (30/6/2021). Otoritas setempat memerintahkan warga untuk tinggal di rumah selama tiga hari. (AFP/Patrick Hamilton)
Sebuah jalan sepi terlihat di Brisbane, Australia (30/6/2021). Otoritas setempat memerintahkan warga untuk tinggal di rumah selama tiga hari. (AFP/Patrick Hamilton)

Sersan McAteer mengatakan aplikasi ini dijalankan oleh kelompok kriminal yang berada di luar Australia, sehingga susah untuk melacak guna mendapatkan kembali uang yang sudah hilang.

"Uang itu menghilang dengan cepat, dan kami tidak memiliki banyak harapan untuk bisa mendapatkan kembali uang tersebut," katanya.

Dia memperingatkan agar semua warga memasang kecurigaan terlebih dahulu bila ada yang meminta uang dan mengatakan bahwa hal tersebut bukan penipuan.

"Bahkan bila [permintaan] itu berasal dari teman-teman yang anda percayai, pikir lagi dan cari informasi tambahan dari pihak lain dulu," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel