Pakar: Anemia hingga ukuran tubuh bayi pengaruhi ketuban pecah

Pakat kesehatan dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan Konsultan Obstertik Ginekologi Sosial, Dr dr Dwiana Ocviyanti, SpOG (K), MPH mengatakan penyakit anemia hingga besar ukuran tubuh bayi dapat mempengaruhi terjadinya kejadian ketuban pecah sebelum masa melahirkan.

“Ketuban pecah dini itu salah satu penyebabnya bayi terlalu besar itu salah satu penyebabnya sehingga kepala itu tidak bisa masuk rongga panggul,” katanya dalam webinar "Kenali Metode Persalinan: Nyaman dan Aman Menjelang Kelahiran" yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis.

Menurut Dwiana yang juga Ketua Pokja Angka Kematian Ibu Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) itu, enyebab terjadinya ketuban pecah pada ibu hamil adalah besarnya ukuran tubuh bayi. Bayi bertubuh besar, cederung akan memakan waktu lebih lama untuk dapat keluar, karena bagian seperti kepala akan sulit memasuki rongga panggul.

Peluang terjadinya ketuban pecah akan semakin terbuka lebar, bila ibu yang memiliki anak bertubuh besar dalam kandungan terkena anemia. Anemia akan menyebabkan ibu mudah terkena infeksi pada selaput ketuban atau yang dikenal dengan korioamnionitis.

Baca juga: Anemia jelang dan saat hamil berdampak buruk bagi janin

Baca juga: Sebelum hamil, kesehatan calon ibu harus optimal


Adapun penyebab lain terjadinya ketuban pecah, kata dia, adalah kehamilan pada usia yang terlalu muda, di mana daya tahan tubuh seorang perempuan untuk melahirkan belum bisa dikatakan kuat dan sempurna.

“Ini sering terjadi pada mereka yang hamil terlalu muda, jadi kalau ada yang bilang hamil muda siapa takut, yang takut itu dokternya karena kalau hamil pada usia remaja itu daya tahan tubuh biasanya tidak baik sehingga kerap terjadi pecah ketuban dan persalinannya menjadi prematur,” katanya.

Ia menambahkan kejadian pecah ketuban semakin banyak. Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup yang tidak sehat pada remaja saat ini. Contohnya adalah para remaja cenderung memilih makanan yang digoreng berupa "cireng" atau "cilok" yang menyebabkan obesitas, dibandingkan dengan makanan bergizi yang mengandung protein hewani.

“Kalau dari awal sudah gemuk sekali, terjadi kelembaban pada daerah vagina dan kelembaban ini merubah keasaman vagina. Sehingga mudah terjadi infeksi infeksi inilah yang bisa menyebabkan ketuban pecah,” katanya.

Dengan demikian, ia menyarankan agar setiap ibu hamil mulai membiasakan diri melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki atau senam ringan yang dapat melenturkan badan.

Ia juga meminta agar asupan gizi seimbang harus diperhatikan. Termasuk memilih pelayanan kesehatan yang sesuai dan mendukung persiapan persalinan yang aman dan nyaman bagi ibu hamil.

“Jangan lupa untuk membuat persiapan persalinan, jadi cari tempat yang menyediakan pelayanan yang baik sekalian supaya aman dan nyaman waktu persalinan,” demikian Dwiana Ocviyanti.

Baca juga: Indonesia Butuhkan Puluhan Ribu Jaringan Ketuban

Baca juga: Kemenkes: Kematian bayi di Indonesia 84 persen akibat lahir prematur

Baca juga: Selaput ketuban gantikan kulit hangus

Baca juga: Anemia saat hamil dan asap rokok dapat akibatkan "stunting" bayi