Pakar di Inggris Khawatir Delta Menyebar Cepat karena Pelonggaran

·Bacaan 4 menit

Hari Senin (19/07) Inggris akan melonggarkan pembatasan berkenaan dengan COVID, namun pengalaman Belanda bisa menjadi catatan penting apakah kebijakan tersebut tepat untuk dilakukan saat ini.

Dengan dilonggarkannya aturan, masker tidak lagi wajib dikenakan dalam ruangan, aturan menjaga jarak dihilangkan, dan lebih dari enam orang boleh berkumpul di rumah, pertama kalinya sejak bulan September tahun lalu.

Banyak warga di Inggris sudah menantikan hari yang dinamakan "Freedom Day" atau Hari Pembebasan walau sebagian pakar mempertanyakan kebijakan yang diputuskan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tersebut.

Inggris mencatat 50 ribu kasus per harinya, dan ini adalah angka tertinggi sejak gelombang ketiga penularan di bulan Januari lalu.

Apakah pelonggaran pembatasan dilakukan pada waktu yang tepat?

Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan percaya diri dengan keputusan ini.

Ini karena menurutnya negara tersebut sudah memvaksinasi penuh 60 persen orang dewasa, sehingga bisa mendorong dibukanya kembali bisnis hingga yang paling berisiko menjadi tempat penularan, seperti klub malam.

Namun beberapa pakar kesehatan berpendapat lain.

Mereka mengatakan pelonggaran pembatasan dikhawatirkan akan memudahkan penyebaran varian baru COVID-19.

Bahkan Kepala Bidang Kesehatan Inggris Profesor Chris Whitty mengatakan jumlah mereka yang harus dirawat di rumah sakit bisa mencapai tingkat yang "mengkhawatirkan" lagi.

Inggris perlu melihat apa yang terjadi pada Belanda dan dampak buruk pembukaan terlalu cepat, di mana jumlah penularan naik tajam hingga 500 persen dalam waktu seminggu.

Apa yang terjadi di Belanda?

Di pertengahan Juni, kasus COVID-19 di Belanda turun ke tingkat terendah dalam sembilan bulan terakhir, dengan 13 juta dosis vaksin sudah diberikan untuk penduduk keseluruhan berjumlah 17,5 juta.

Bar dan restoran lalu dibuka kembali.

Perdana Menteri sementara Belanda Mark Rutte mengumumkan bahwa di akhir Juni, masker tidak perlu lagi dikenakan.

"Ini adalah momen yang spesial," katanya.

"Sebelumnya berulang kali saya berdiri di sini untuk mengumumkan hal yang tidak bisa Anda lakukan. Tetapi sekarang kita bisa fokus pada hal yang bisa dilakukan."

Tanggal 26 Juni, semua pembatasan berkenaan dengan jumlah orang yang boleh berkumpul dicabut, selama bisa menjaga jarak sejauh 1,5 meter.

Pembatasan berapa jumlah orang yang boleh berada dalam sebuah toko, restoran dan bar juga tidak berlaku selama mereka sudah divaksinasi atau bisa menunjukkan hasil tes COVID yang negatif.

"Masker masih harus dikenakan di transportasi publik dan di bandara," kata Rutte.

"Kita bisa berharap adanya musim panas yang indah.

Namun dia juga memperingatkan warga untuk tetap berhati-hati dikarenakan masih ada banyak hal yang belum pasti menjelang musim gugur.

"Kita bisa saja ditusuk dari belakang oleh varian baru."

Klub malam dibuka dan festival dilangsungkan lagi

Di awal Juli, klub malam di Belanda dibuka kembali dan ribuan warga muda mendatangi berbagai festival musik dalam negeri.

Mereka yang sudah memiliki kode QR di HP sebagai tanda sudah divaksinasi, atau sudah sembuh dari COVID-19 atau tes negatif dalam beberapa terakhir boleh mendatangi berbagai tempat hiburan tersebut seperti keadaan sebelum pandemi.

Salah satu festival adalah Festival Verknipt di Utrecht yang diselenggarakan di minggu pertama Juli.

Dengan sekitar 20 ribu pengunjung, festival musik elektronik di tempat terbuka tersebut tidak menerapkan penggunaan masker dan menjaga jarak.

Walikota Utrecht Sharon Dijksma bahkan juga menjadi salah satu yang hadir, dan mengatakan waktu itu bahwa berada di dekat banyak orang dia merasa "spesial walau agak tegang."

Namun dua minggu setelah festival Verknipt, sekitar 1.000 orang yang menghadiri festival terkena COVID-19 selama acara dua hari tersebut.

Sharon Dijksma meminta maaf dan mengatakan masa waktu 40 jam bagi mereka yang punya tes negatif untuk hadir di festival adalah kebijakan yang keliru.

"Ini keputusan yang keliru," katanya kepada media Belanda NOS hari Rabu.

Kasus meningkat 500 persen dalam sepekan

Sebelum munculnya kasus dari festival Verknipt, Pemerintah Belanda sudah mulai melakukan pembatasan lagi.

Pada tanggal 7 Juli, Menteri Kesehatan Belanda Hugo de Jonge mengatakan pemerintah mengakui adanya kenaikan cepat dalam kasus baru dengan penularan naik dua kali lipat menjadi 8.000 kasus sampai hari Selasa 6 Juli.

Pemerintah kemudian meminta pertimbangan darurat dari tim manajemen wabah negeri itu.

Tanggal 9 Juli, dalam 24 jam saja tercatat 7 ribu kasus dengan hampir 75 persen penderita kasus baru ini adalah anak muda dan 50 persen dari kasus terkena varian Delta yang penyebarannya sangat cepat.

Walau kenaikan kasus belum membuat penderita harus dibawa ke rumah sakit, Menteri de Jonge mengatakan rumah sakit bisa kewalahan lagi dengan kenaikan kasus yang tidak terduga, sehingga pemerintah tidak memiliki pilihan kecuali melakukan pembatasan lagi.

Kafe, bar dan restoran harus tutup lebih cepat dan jaga jarak serta tempat duduk tetap sekarang diberlakukan bagi pengunjung.

Klub malam juga terpaksa tutup dan festival yang mendatangkan massa dalam jumlah besar dibatalkan sampai setidaknya 14 Agustus.

'Kami membuat keputusan buruk'

Hari Senin lalu, PM Belanda Mark Rutte meminta maaf dan mengakui bahwa pembatasan dicabut terlalu cepat.

"Apa yang kami perkirakan bisa dilakukan ternyata tidak bisa dilakukan dalam kenyataannya," katanya.

"Kami membuat keputusan buruk, yang kami sesali dan karenanya kami meminta maaf."

Keputusan yang diambil pemerintah ini mendapat banyak kritik tajam dari berbagai kalangan, mulai dari warga biasa, pakar kesehatan dan juga partai oposisi.

Sylvana Simons dari partai BIJ1 mengatakan pemerintah sudah membuat keputusan yang membahayakan warga.

Keputusan untuk melakukan pembatasan lagi menimbulkan gugatan hukum yang dilakukan oleh penyelenggara sedikitnya 30 festival dan termasuk dari panitia Grand Prix Formula 1 Belanda.

Dengan kasus harian COVID mencapai angka 51.870 hari Jumat lalu di Inggris, Perdana Menteri Inggris Boris akan berharap negerinya tidak akan mengalami "musim panas indah" seperti yang dialami Belanda.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel