Pakar dorong peningkatan pelacakan Omicron di level populasi

·Bacaan 2 menit

Pakar ilmu kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Tjandra Yoga Aditama mendorong peningkatan pelacakan kasus penularan COVID-19 varian Omivron pada tataran populasi menyusul transmisi lokal yang kian bertambah di Tanah Air.

"Kasus Omicron terus meningkat di dunia dan Indonesia. Tentu kita harapkan peningkatan kasus dapat dikendalikan," kata Tjandra Yoga Aditama melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu mengatakan pengendalian Omicron dapat dimulai dengan pelacakan transmisi lokal dengan cara mencari sumber penularan.

Baca juga: Kemenkes lacak transmisi lokal Omicron pelaku perjalanan Bogor-Jakarta

"Bukan hanya mereka menularkan ke mana. Kalau tahu sumber awalnya maka bisa dicek ke mana saja si sumber awal itu sudah menularkan, dan semuanya diisolasi," katanya.

Berikutnya meningkatkan jumlah tes di level populasi untuk mendeteksi orang tanpa gejala (OTG) dan segera dilakukan isolasi pada fasilitas yang telah disediakan pemerintah.

"Karena banyak kasus yang OTG dan hanya ditemukan waktu tes, maka jumlah tes di populasi harus lebih ditingkatkan," katanya.

Baca juga: Gubernur: Kasus Omicron Jabar penularan lokal bertambah jadi 8 orang

Guru Besar Paru FKUI itu juga mendorong pengawasan pelaku perjalanan luar negeri harus terus diperketat.

"Juga melalui mekanisme Regulasi Kesehatan Internasional (Internasional Health Regulation/IHR) disampaikan informasi ke negara asal varian Omicron agar di negara itu juga dilakukan testing dan tracing dari kemungkinan sumber penular di negara itu," katanya.

Karena masih 43 persen populasi dan 56 persen lansia belum divaksin secara lengkap, kata Tjandra, maka angka ini harus segera dikejar untuk divaksin semaksimal mungkin.

Baca juga: Pemkot Bogor gencarkan vaksinasi dan 3T cegah COVID-19 Omicron

Baca juga: Gubernur Kepri klaim belum ada varian Omicron di daerahnya

"Pemberian booster tentu baik dan segera dimanfaatkan oleh yang sudah mendapat kesempatan ini. Tetapi secara makro maka pemberian booster jangan sampai mengorbankan upaya pemberian vaksin yang dua kali yang mutlak amat diperlukan," katanya.

Tjandra menambahkan kesiapan pelayanan kesehatan dari primer, sekunder dan tertier harus terus ditingkatkan. Selain itu upaya komunikasi risiko yang intensif agar protokol kesehatan dapat dilakukan lebih baik lagi.

"Data harus selalu 'updated' dengan surveilans yang ketat, sehingga dinamika pengambilan keputusan publik dapat berdasar data 'real time', tepat dan cepat," katanya.

Baca juga: Kasus infeksi Omicron bertambah menjadi 506

Baca juga: Puncak gelombang Omicron di Indonesia diperkirakan awal Februari

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel