Pakar Epidemiologi: Kondisi Indonesia Sedang Tidak Normal, Bukan New Normal

Liputan6.com, Jakarta - Mencegah penularan SARS-CoV-2 atau COVID-19 tidak susah. Asal, semua masyarakat mau bersama-sama menanggulangi pandemi ini, bukan hanya sekadar kasih perintah.

Begitu kata Pandu Riono saat Health Liputan6.com bertanya mengenai langkah yang cocok mengatasi pandemi Corona di Indonesia di tengah banyak masyarakat yang tidak disiplin mematuhi protokol kesehatan.

"Awalnya kita harus menggerakkan masyarakat, lalu mengomunikasikannya. Tanpa informasi yang kuat, orang tidak akan mengerti," kata Pandu melalui sambungan telepon, Selasa, 30 Juni 2020.

Menurut Guru Besar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang tidak mengerti alasan harus memakai masker, termasuk cara memakai masker yang benar.

Edukasi soal COVID-19 yang tidak berjalan maksimal, kurangnya kampanye publik, dan tidak dilakukan secara sistematik pada akhirnya memunculkan persepsi yang keliru di masyarakat.

"Seharusnya ini dilakukan sejak awal. Sejak bulan Maret dilakukan," katanya.

 

Alasan PSBB Tidak Optimal

Pandu, melanjutkan, alasan PSBB tidak optimal karena masyarakat tidak dilibatkan sejak awal PSBB diberlakukan.

Masyarakat hanya disuruh tinggal di rumah, tanpa diberi alasan jelas harus tinggal di rumah yang tak disangka tiga bulan lamanya.

"Kemudian sekarang dibilang new normal atau normal yang baru. Orang menyangkanya 'Oh, sudah normal? Ini baru normal'. Begitu kerumunan diizinkan, masyarakat lupa bahwa mereka harus melakukan protokol kesehatan," katanya.

Padahal, lanjut Pandu, saat ini kondisi di Indonesia sedang tidak normal. Sebab, angka kasus COVID-19 di tanah air masih tinggi.

 

Ingat 3M Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia

Oleh sebab itu, perlu ditanamkan di dalam diri masing-masing individu untuk selalu ingat '3M', yaitu Memakai masker, Menjaga jarak, dan Mencuci tangan.

"Perilaku penduduk itu cukup 3M. Itu sudah mengurangi risiko di tengah kondisi yang tidak normal ini. Jangan dibilang normal, lah," katanya.

Pandu pun menyayangkan penggunaan kata new normal yang terlontar dari pemerintah. Menurutnya, tidak perlu memakai kata-kata itu, karena bisa memberikan persepsi yang kelru dan berbeda.

 

Edukasi Gunakan Bahasa yang Mudah Dimengerti

Itu mengapa penting untuk mengedukasi masyarakat secara terus menerus. Tidak cukup jika edukasi ini diselipkan sebelum Gugus Tugas melaporkan jumlah kasus COVID-19 harian di Indonesia.

Pandu, mengatakan, edukasi pun harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh.

"Kampanye publik itu dilakukan secara sistematis, tidak bisa dilakukan hanya satu orang dan satu jam. Pesannya itu harus tersampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti," Pandu melanjutkan.

Pandu, mengingatkan, Indonesia terdiri dari lapisan masyarakat yang berbeda-beda. Pun model komunikasi yang juga tak sama antara satu dan yang lainnya.

Ada yang suka yang menonton televisi, ada pula yang senangnya melihat Instagram, dengar radio, dan ada pula yang senang menonton pertunjukkan tradisional seperti wayang atau lawakan.

Sehingga, sudah seharusnya semua media digunakan untuk bisa mencapai penduduk yang memang berbeda-beda ini.

"Pengetahuan soal 3M saja tidak cukup. Harus dibiasakan juga," katanya.

"Dibiasakan, diingatkan, diingatkan, jadinya terbiasa," katanya.

 

Anggap Saja seperti Sedang Naik Pesawat

Dia lalu mengibaratkan seperti seseorang yang hendak bepergian dengan pesawat terbang. Saat masuk ke dalam pesawat, semua penumpang dianggap tidak tahu cara memakai sabuk pengaman. Dimunculkanlah cara memakai sabuk pengaman, dan diingatkan kembali cara melepas sabuk pengaman.

"Ya karena itu tadi, kita sedang berada di kondisi yang penuh risiko. Sama kayak kehidupan sekarang, kehidupan yang penuh risiko," katanya.

"Anggap saja sekarang ini kita sedang naik pesawat, mau terbang yang jauh," ujarnya.

Simak Video Menarik Berikut Ini