Pakar Farmasi UGM Angkat Bicara soal Antivirus Covid-19

·Bacaan 2 menit
Kepala BPOM Penny Lukito saat konferensi pers terkait hasil uji klinis obat untuk Covid-19 dari UNAIR di Kantor BPOM, Jakarta, Rabu (19/8/2020). Penny Lukito menyatakan hasil uji klinis tahap tiga obat Covid-19 dari Universitas Airlangga (UNAIR) belum valid. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Yogyakarta - Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof Djoko Wahyono angkat bicara soal obat antivirus spesifik untuk virus Covid-19. Menurut Djoko, saat ini dalam uji klinik Covid-19 menggunakan drug repurposing atau memakai obat yang sudah ada untuk indikasi lain sebagai terapi obat Covid-19.

“Lebih dari 600-an uji klinik di seluruh dunia saat ini dilakukan dengan berbagai obat yang sebagian besar adalah drug repurposing,” jelasnya dalam webinar Purna Tugas “Deteksi Molekuler Virus dan Pengembangan serta Uji Klinik Obat Antivirus Dalam Memutus Penyebaran Covid-19, Selasa (6/4/2021)

Hingga saat ini, menurut Djoko, belum ada obat antivirus Covid-19 baru yang telah mendapat persetujuan dari BPOM Indonesia. Sementara itu, obat terapi untuk pasien Covid-19 menggunakan obat yang telah ada dengan Emergency Use Authorization (EUA) mempertimbangkan kondisi darurat dan belum adanya obat spesifik yang tersedia.

Beberapa obat yang telah ada sebelumnya dan digunakan dalam terapi Covid-19 antara lain chloroquine/hydroxychloroquine, lopinavir/ritonavir, ribavirin, oseltamivir, umifenovir, remdesivir, serta favipavir (avigan).

“Keuntungan pemakaian drug repurposing adalah mempercepat penemuan obat karena bisa langsung dilakukan uji klinik fase III karena aspek kemanan sudah diketahui,” urainya.

Djoko mengatakan uji klinik menjadi tahap penting selain itu harus sesuai dengan good clinical practice untuk menjamin bahwa data dan hasil yang akurat dan terpercaya. Selain itu, juga memberi jaminan hak integritas dan kerahasiaan subjek uji klinis dilindungi.

Pakar Kimia Farmasi Fakultas Farmasi UGM, Prof Kuswandi, menjelaskan soal ada potensi tanaman sebagai sumber pengembangan sisntesis obat antivirus. Terlebih, Indonesia kaya dengan keanekaragaman hayati yang cukup berlimbah.

“Indonesia kaya raya akan kekayaan alam, ada 940 spesies tanaman obat di hutan kita,” jelasnya.

Meskipun memiliki banyak spesies tanaman obat, Kuswandi mengatakan, hingga saat ini, Indonesia masih mendatangkan bahan baku obat dengan impor dari negara lain. Sementara, potensi yang dimiliki cukup besar sehingga peluang pengembangan obat dengan memakai bahan baku tanaman lokal sangat terbuka lebar.

Dalam acara itu pakar epidemiologi UGM, dr Riris Andono Ahmad menyampaikan saat ini penularan Covid-19 terus terjadi karena populasi belum memiliki kekebalan ditambah mobilitas tinggi masyarakat. Langkah pemerintah mencegah penularan Covid-19 melalui vaksinasi cukup potensial dalam menurunkan angka penularan Covid-19.

“Vaksin ini tidak lantas menghentikan pandemi, tetapi vaksin sangat efektif untuk menurunkan jumlah kasus baru, angka kesakitan, dan angka kematian,” terangnya

Simak video pilihan berikut ini: