Pakar harap konsensus isu kesehatan di KTT G20 dapat diimplementasikan

Pakar kesehatan yang merupakan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Prof. Tjandra Yoga Aditama berharap kesepakatan bersama atau konsensus terkait dengan isu kesehatan yang akan dihasilkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 dapat diimplementasikan setelah Presidensi G20 Indonesia berakhir.

“Menurut saya yang paling penting adalah apa yang sudah diputuskan. Apalagi nanti besok sudah akan keluar sesuatu, apakah bentuknya 'Chair Summary' atau apapun namanya, itu betul-betul dapat diimplementasikan,” kata Tjandra saat dihubungi ANTARA melalui sambungan telepon dari Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan Kelompok Dua Puluh atau G20 bukanlah organisasi yang terikat satu dengan lainnya sehingga sebagus apapun hasil kesepakatan saat KTT maka seharusnya realisasi program tetap merupakan hal yang paling penting untuk dilakukan pada bulan-bulan mendatang.

Mengingat hal tersebut, Tjandra mengusulkan adanya mekanisme monitoring evaluasi terhadap konsensus yang sudah diputuskan dan apa yang dapat dilakukan dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun ke depan supaya dampaknya benar-benar nyata bagi dunia.

Baca juga: Presiden Jokowi ajak anggota G20 atasi kesenjangan kapasitas kesehatan

Baca juga: WHO: Kolaborasi G20 mendorong peningkatan sistem kesehatan global

Selain itu, Tjandra berharap kesepakatan terkait isu kesehatan dalam KTT G20 benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dunia yang membutuhkan kesehatan dan kesejahteraan.

Walaupun kesepakatan KTT G20 untuk kepentingan global, dia juga berharap terdapat dampak bidang kesehatan yang baik atau peningkatan derajat kesehatan di negara Indonesia sendiri.

“Jadi kalau bisa, sih, walaupun ini (konteksnya) dunia, sumbangsih kita untuk dunia, tentu akan kita harapkan punya manfaat besar untuk peningkatan kesehatan Indonesia juga,” kata Tjandra yang juga merupakan Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.

Tjandra menekankan bahwa program kesehatan dunia harus tetap berjalan walaupun berada di tengah ketegangan geopolitik global ataupun masalah ekonomi global.

Dia mengingatkan, dengan adanya pandemi COVID-19, masyarakat menjadi sadar pentingnya masalah kesehatan dan kesadaran ini seharusnya tetap dilanjutkan jika pandemi sudah dikatakan berhenti.

“Mau ada masalah geopolitik apapun juga, mau ada masalah resesi ekonomi apapun juga, program kesehatan harus tetap berjalan. Itu jelas, tidak bisa dikurangi karena orang tidak mungkin jadi tidak sehat. Karena kalau tidak sehat, sistem geopolitik makin susah. Kalau tidak sehat, resesi juga makin susah,” kata Tjandra.

Pertemuan KTT G20 tengah berlangsung di Bali pada 15-16 November 2022 yang dihadiri oleh para pemimpin dari berbagai negara di dunia.

Pada KTT G20 tahun ini, terdapat tiga isu prioritas yang menjadi pembahasan salah satunya arsitektur kesehatan. Dua isu prioritas lain yaitu transformasi digital dan transisi energi.

KTT akan menjadi puncak dari proses dan usaha yang intensif dari seluruh alur kerja G20 (Pertemuan Tingkat Menteri, Kelompok Kerja, dan Engagement Groups) selama setahun keketuaan Indonesia. Pada tahun depan, Presidensi G20 akan dilanjutkan dan dipegang oleh India.

Baca juga: Menkes: Kerugian keuangan akibat pandemi dorong G20 pada isu kesehatan

Baca juga: Menkes: Pandemic Fund landasan perkuat arsitektur kesehatan global