Pakar Ingatkan Pentingnya Keterlibatan Masyarakat Tangani Pandemi Covid-19

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sampai saat ini, Indonesia masih terus berjuang menghadapi pandemi Covid-19. Tak hanya Indonesia, tapi juga seluruh dunia.

Menurut Direktur Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Egi Abdul Wahid, dalam merespons pandemi Covid-19 tidak bisa hanya dengan mengandalkan SDM kesehatan saja atau langsung testing dan tracing.

"Butuh pengkodisian, ada trash, ada informasi yang salah yang harus ditekel dulu. Maka kita punya, pada saat itu, mengusulkan beberapa model, ada lima 5 M. Jauh sebelum itu kita mengembangkan, yang pertama kita harus menyiapkan SDM yang siap, harus di-training dulu SDM-nya," ujar Egi melalui keterangan tertulis, Rabu (3/8/2021).

Yang kedua, lanjut dia, adalah bagaimana melakukan teaching atau mengajarkan.

"Sebuah edukasi kepada masyarakat untuk memahami respon yang akan mereka dapatkan apa? Dan apa yang harus mereka responkan? Baru kemudian ke tracing, treatment, dan testing," terang Egi.

Menurut dia, pihaknya mendapati apabila langsung pada 3T (tracing, treatment, dan testing), namun masih ada stigma-stigma negatif di masyarakat, maka dipastikan akan terjadi penolakan.

Dari sana, kata Egi, dibutuhkan sebuah ekosistem lain di luar tenaga kesehatan (nakes) yang mampu melakukan pendekatan ke masyarakat.

"Jadi melalui kader. Maka kami kembangkan ada tiga model, pertama sekali di Bandung dan Jakarta selesai di bulan Desember. Kita maju ke-5 provinsi, dan di Maret 2021 dengan Jawa Barat di 100 puskesmas," papar Egi.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

#sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua

Pentingnya Keterlibatan Masyarakat

Ilustrasi Protokol Kesehatan Covid-19 Credit: pexels.com/ready
Ilustrasi Protokol Kesehatan Covid-19 Credit: pexels.com/ready

Egi menjelaskan, salah satu pembelajaran dilakukan melalui program Puskesmas Terpadu dan Juara (PUSPA) yang melibatkan masyarakat, kader, dan relawan.

Dirinya menilai, dari kegiatan tersebut yang dilakukan di kota Bandung, Jawa bARAT mampu meningkatkan kemampuan mereka dalam pelacakan kontak, pemantauan kontak erat, pemantauan kasus suspek, dan pemantauan kasus positif.

"Karena kami percaya bahwa kader dan masyarakat itu harus menjadi bagian dalam merespon pandemi di Puskesmas. Apalagi puskesmas mereka punya UKM sama OKP, upaya kesehatan disana harus melibatkan masyarakat," kata Egi.

Tidak hanya itu, CISDI juga percaya keterlibatan kader menjadi bagian integral dari sistem kesehatan yang ideal.

"Tapi kemudian tidak langsung diterjunkan, mereka mendapat pelatihan, pendampingan, dan kemudian pekerjaan mereka harus diakui bagian dari pekerjaan puskesmas," ucap Egi.

Egi juga menyampaikan, keterlibatan kader-kader PUSPA dan komunitas masyarakat sebagai bagian dari puskesmas, selain menjadi media Puskesmas, juga dapat menjadi media mendesiminasi informasi tentang hal-hal yang harus diketahui oleh masyarakat.

"Oleh karena itu kita sangat intens sekali melibatkan kader dan masyarakat dalam penguatan respon pandemi. Mereka juga menjadi teman bagi masyarakat ketika ada pasien yang terkonfirmasi positif sehingga meningkatkan persepsi positif masyarakat terhadap Puskesmas," terang Egi.

Dirinya juga mengaku pernah melakukan penelitian di Jakarta di awal-awal model ini dikembangkan dan menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Perbedaan itu adalah Puskesmas yang dikembangkan dengan kader PUSPA memiliki kegiatan yang lebih tinggi.

"Dan kepercayaan masyarakat kepada Puskesmas meningkat. Sehingga tracing, treatment, dan testing bisa kita lakukan lebih baik. Jadi memang bagaimana kita bisa melibatkan masyarakat. Sehingga tidak terjadi kecurigaan dan lain-lain. Ini yang menjadi temuan kita saat melibatkan masyarakat atau kader dalam kegiatan 3T," ungkap Egi.

Didukung Pemprov Jawa Barat

Grand Asrilia Hotel, Kota Bandung dijadikan sebagai tempat pemulihan pasien COVID-19. (Foto: Yogi P/Biro Adpim Jabar)
Grand Asrilia Hotel, Kota Bandung dijadikan sebagai tempat pemulihan pasien COVID-19. (Foto: Yogi P/Biro Adpim Jabar)

Egi juga menyampaikan, Program PUSPA yang didukung langsung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat berada pada angka 100 Puskesmas.

Program ini, kata Egi, pengiriman SDM tambahan melibatkan tenaga profesional kesehatan, seperti perawat, bidan dokter.

"Ditambah masing-asing tiga dan dua, jadi ada lima orang ditambahkan. Mereka tidak hanya dikirimkan orangnya saja, tapi juga dipastikan ada latihannya, APD, alat tes. Jadi kalau kita mendorong fasilitas kesehatan (Faskes), meningkatkan kemampuan tesnya, tapi kemudian Pemda tidak menyediakan alat tesnya, maka jadi hal yang kontradiktif," terang dia.

Egi menegaskan, komitmen dan kemampuan daerah dalam menyediakan alat tes menjadi sangat penting sekali, termasuk APD dan lain sebagainya. Yang paling penting lagi, lanjutnya, bagaimana recording sitem itu dibangun.

Sebagai tambahan informasi, Program LeaN On merupakan salah satu inisiatif yang digagas oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan INVEST DM serta didukung oleh United State Agency for International Development (USAID) melalui program Empowering Access to Justice (MAJU) – The Asia Foundation (TAF).

4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel