Pakar jelaskan fenomena "hybrid immunity" saat hadapi COVID-19

·Bacaan 2 menit

Spesialis paru dan akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) RSUD Dr. Soetomo, dr. Helmia Hasan, menjelaskan bahwa meski terdapat hybrid immunity atau imunitas hibrida terhadap COVID-19 tapi protokol kesehatan tetap perlu dilakukan untuk menghindari infeksi ulang.

Dalam diskusi virtual yang diadakan PDPI tentang super immunity terhadap COVID-19, dia menjelaskan bahwa istilah super immunity sebenarnya hampir tidak pernah terlihat di dalam studi medis dan lebih sesuai jika disebut hybrid immunity atau kekebalan individu yang diperoleh dari kombinasi imuniti yang didapat dari infeksi alami dan vaksinasi.

"Memang kombinasi antara seseorang yang sudah pernah sakit dan kemudian mendapatkan vaksinasi memang respons antibodinya lebih tinggi," kata Helmia dalam diskusi yang diikuti secara virtual dari Jakarta, Sabtu.

Baca juga: Vaksin booster harus digencarkan tangkal Omicron

Secara teori, jelasnya, individu yang telah divaksinasi dan yang pernah terinfeksi memiliki risiko rendah untuk terinfeksi kembali.

Infeksi natural dan vaksinasi menghasilkan neutralizing antibodies yang mempunyai peran proteksi yang utama terhadap COVID-19.

Dia menjelaskan bahwa jumlah sel B memori, yang bertugas menyimpan atau mengingat gen dari zat asing untuk menghasilkan antibodi, meningkat 5-10 kali lipat pada hybrid immunity dibandingkan setelah infeksi natural atau vaksinasi saja.

Neutralizing antibodi juga 100 kali lebih tinggi jika memiliki hybrid immunity dibandingkan imuniti hasil dari infeksi atau vaksinasi saja.

"Seseorang dengan hybrid immunity itu jarang sekali mengalami sakit yang parah dan bahwa kejadian adanya infeksi setelah hybrid immunity juga jarang, dibandingkan yang bukan hybrid immunity," jelasnya.

Namun demikian, dia menegaskan bahwa meski terdapat hybrid immunity tetapi memiliki risiko tertular karena karakter mutasi virus yang sulit diketahui. Untuk itu, protokol kesehatan tetapi menjadi hal utama dalam pencegahan COVID-19.

"Tetap protokol kesehatan karena kita tidak tahu sebetulnya kondisi antibodi kita di dalam tubuh, kondisi sel-sel kita di dalam tubuh. Jadi tetap melakukan protokol kesehatan supaya tidak tertular kembali," ujarnya.

Baca juga: Varian Delta masih cukup mendominasi di beberapa daerah
Baca juga: Jumlah penerima dua dosis vaksin COVID-19 di RI capai 123,1 juta orang
Baca juga: 2.604 kasus baru COVID-19, DKI laporkan penambahan terbesar

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel