Pakar: Metode Magnetik dapat Digunakan Pantau Magma

Yogyakarta (ANTARA) - Metode magnetik dapat digunakan untuk memantau naik turunnya magma gunung api, kata pakar geofisika dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Kirbani Sri Brotopuspito.

"Metode itu dapat digunakan untuk memantau karena naik turunnya magma berpengaruh terhadap medan magnetik di sekitar gunung api," kata Kirbani di Yogyakarta, Sabtu.

Dalam penelitiannya, pada saat proses menurunnya magma, medan magnetik di sekitar gunung api memiliki kecenderungan naik dari waktu ke waktu, sedangkan saat magma naik, karena suhu memanas di bagian atas gunung api, maka medan magnetik menurun.

Menurut dia, pemantauan medan magnetik itu disertai dengan pemantauan tegangan tektonik di sekitar gunung api, karena pada saat kompresi sustibilitas magnetik batuan akan naik sehingga medan magnetik juga akan terpantau naik.

"Sebaliknya, pada saat dilatasi batuan gunung api akan meregang mengembang, maka medan magnetik akan turun," kata Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Ia mengatakan, gerakan magma di dalam sistem kantong dan pipa magma dapat dideteksi dengan pemantauan perubahan bentuk atau deformasi.

Dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh, baik dengan satelit maupun pesawat terbang, maka dapat ditentukan secara cepat dan akurat model elevasi digital sebuah gunung api dari waktu ke waktu.

"Kita harus lebih waspada, apabila terjadi penggelembungan bentuk sebuah gunung api, karena dapat ditafsirkan sebagai adanya gerakan magma dari bawah ke atas," kata Kirbani.

Menurut dia, survei geofisika dengan berbagai metode menghasilkan model struktur internal gunung api dan pemantauan berbagai besaran fisika di sekitar gunung api aktif dapat membantu menentukan status kegiatan vulkanik gunung tersebut.

Namun demikian, sebagai bangunan yang memiliki fisis tiga dimensi berbentuk kerucut dan berisikan fluida magma berfase ganda, gunung api masih menyimpan rahasia tentang kapan, seberapa besar, dan bagaimana mekanisme erupsi akan terjadi.

"Rahasia tersebut masih belum terungkap, karena pada saat krisis menjelang erupsi, tegangan dan suhu bagian atas gunung api menjadi sangat tinggi, sehingga kondisi elastisitas sudah masuk ke dalam kawasan tidak linier," katanya. (rr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.