Pakar: Pelestarian Candi Borobudur Berbasis Masyarakat

Yogyakarta (ANTARA) - Upaya pelestarian bangunan Candi Borobudur dan Prambanan harus berbasis masyarakat setempat, kata mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika di Yogyakarta, Rabu.

Seusai menjadi pembicara dalam seminar sehari "Ayo Bangkitkan Pariwisata Yogyakarta 2012" ia mengatakan, dalam pelestarian candi sebagai bangunan pusaka harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat setempat.

Seminar tersebut diselenggarakan dalam rangkaian HUT ke-31 PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

Sebab konsep dasar pelestarian benda pusaka baik berupa candi dan bangunan lainnya harus berbasis masyarakat artinya masyarakat sekitar benda atau barang yang dilestarikan itu harus memperoleh manfaat yang besar.

"Dengan demikian masyarakat setempat yang akan melakukan pelestarian terhadap bangunan heritage tersebut. Mereka akan menjaga, mengawasi dan seterusnya. Jika masyarakat secara langsung sudah melakukan pelestarian itu maka keberlanjutan dari pelestarian relatif terjamin,"katanya.

Ia mengatakan pelestarian tidak perlu menekankan kepada institusi yang bersangkutan namun institusi hanya bersifat memfasilitasi masyarakat. Semua itu yang disebut koeksistensi yaitu antara yang dilestarikan dan yang melestarikan mendapatkan manfaat.

"Dalam melestarikan bangunan pusaka kita menggunakan pariwisata sebagai alat untuk memberikan kemanfaatan.Namun demikian,dalam menggunakan pariwista ini harus dirancang secara hati-hati jangan berkelebihan. Misalnya, Candi Borobudur dan Prambanan itu daya dukungnya terbatas," katanya.

Ia mengatakan jadi karena merasa enak memperoleh manfaat dari pariwisata, semua wisatawan berapapun jumlahnya yang berkunjung ke Candi Borobudur dan Prambanan diterima dan tidak dibatasi.

"Nanti jika wisatawan yang datang ke candi itu banyak jumlahnya ya pengelola harus membatasinya dengan mengatur kunjungan.misalnya dalam periode dan jam tertentu hanya diperbolehkan sejumlah wisatawan naik ke candi dan yang lainnya harus antre dulu,"katanya.

Sementara itu, Dirut PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko Purnomo mengatakan pihak manajemen dalam upaya melestarikan bangunan candi terutama di Candi Borobudur membuat aturan bahwa pengunjung harus mengenakan kain batik dan sandal yang alasnya lunak jika ingin naik ke bangunan candi.

"Kain batik dimaksudkan untuk menghormati bangunan tersebut dan sandal yang alasnya lunak untuk menjaga agar batu candi tidak lekas aus kegesek sol sepatu atau sandal yang keras,"katanya.

Menurut dia untuk mengenalkan kedua candi tesebut pihaknya menggencarkan promosi baik di dalam maupun di luar negeri. Promosi di luar negeri antara lain mengikuti pameran pasar wisata di negara-negara Eropa dan Asia Pasifik.

"Kami melakukan promosi di kawasan Asia yaitu di antara Korea,Jepang, Malaysia,Thailand dan Singapura. Sedangkan promosi di Jawa dengan mendatangi sekolah-sekolah,"katanya.

Ia mengatakan pada saat pascaerupsi Gunung Merapi akhir 2010,justru wisatawan nusantara khususnya wisatawan siswa sekolah berbondong-bondong mengunjungi candi Borobudur dan Prambanan.

"Bagi kami kedatangan mereka sangat membanggakan sebab di saat kunjungan wisatawan sepi justru mereka yang datang.Mereka merupakan generasi muda yang menghargai budaya bangsa sendiri," katanya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.