Pakar: Perlu intervensi hadapi potensi rob akibat perubahan iklim

Spesialis tata kelola dari Zurich Flood Resilience Alliance Mercy Corps Indonesia Arif Ganda Purnama mengatakan perlu intervensi sejumlah sektor untuk menghadapi ancaman banjir pasang atau rob yang semakin besar sebagai dampak perubahan iklim, termasuk adaptasi kawasan yang terkait tata ruang dan infrastruktur.

Arif Ganda Purnama dalam diskusi virtual diikuti dari Jakarta, Kamis, mengatakan pihaknya melihat empat klaster besar yang harus dilakukan intervensi menghadapi potensi peningkatan banjir pasang.

"Intervensi pertama terkait adaptasi kawasan, itu berbicara mengenai tata ruang, kawasan kumuh. Ini berbicara soal bagaimana wilayah itu secara makro bisa survive," ujarnya.

Baca juga: Penelit BRINi: Penurunan muka tanah tingkatkan risiko banjir rob

Intervensi kedua dilakukan dalam bentuk pengendalian banjir melalui pembangunan infrastruktur yang sekarang sudah mulai dilakukan dengan pembangunan tanggul.

Namun, menurut dia, perlu dipikirkan juga bagaimana keberlanjutannya karena operasionalnya juga tidak murah.

"Intervensi ketiga adalah manajemen sumber daya air yang terintegratif, ini berbicara soal hulu hilir sungai," katanya.

Sektor lain yang tidak kalah penting adalah penguatan sumber daya manusia yang berada di wilayah pesisir untuk bisa melakukan aksi mitigasi dan adaptasi.

Baca juga: Akademisi: Mitigasi banjir rob meliputi struktural dan non-struktural

Ia mengatakan bahwa tata kelola banjir masih belum berada dalam satu kewenangan yang berarti memerlukan kolaborasi dalam penanganan di tingkat tapak.

Dampak rob di tingkat tapak mulai dirasakan, seperti yang disampaikan Kepala Desa Api-Api di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Qomarudin.

Dalam diskusi tersebut, Qomarudin menjelaskan bahwa dampak rob sudah terjadi sejak 2008 ketika air laut masuk ke sawah masyarakat dan sejak 2013 telah sampai ke wilayah perumahan di desa yang terletak di Jawa Tengah itu.

Baca juga: Ganjar ajak kalangan konsultan bantu penanganan rob pantura

"Dari awal 2000-an sebenarnya kita sudah bisa mendeteksi ada perubahan air pasang yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga bersama masyarakat sudah membuat kelompok untuk mitigasi semampu kita, seperti menanam kembali mangrove yang ada di bantaran sungai dan di pematang sawah serta di daerah pesisir dan tanggul-tanggul tambak," katanya.