Pakar Psikologi Stanford: Ini 3 Kebutuhan Anak yang Sering Gagal Dipenuhi Orang Tua

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Sebagaimana tubuh manusia membutuhkan makronutrien untuk bekerja dengan baik, jiwa manusia memiliki kebutuhannya sendiri untuk berkembang. Apabila ada gangguan maka akan berimplikasi pada kekurangan.

Jadi, ketika anak-anak tidak diberi "nutrisi psikologis" yang mereka butuhkan, mereka cenderung melakukan perilaku tidak sehat secara berlebihan dan mencari kepuasan yang seringkali mereka kira bisa didapatkan di lingkungan virtual.

Tentunya, hal ini dapat menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang tua di era serba teknologi dan ketakutan masyarakat tentang bagaimana teknologi dapat merusak kemampuan anak untuk fokus dan mencapai kesuksesan.

Dikutip dari CNBC, Jumat (9/04/2021), jika Anda ingin membesarkan anak-anak yang sukses, berikut tiga nutrisi psikologis terpenting yang perlu dipenuhi.

1. Otonomi

Meski terdengar seperti ide yang buruk, tetapi memberi anak Anda kebebasan untuk mengontrol pilihan mereka sendiri sebenarnya bisa menjadi hal yang baik.

Menurut satu studi yang dilakukan oleh dua profesor psikologi, Marciela Correa-Chavez dan Barbara Rogoff, anak-anak Suku Maya yang kurang terpapar pada pendidikan formal menunjukkan "perhatian dan pembelajaran yang lebih berkelanjutan daripada rekan-rekan mereka yang memiliki keterlibatan ekstensif dalam sistem sekolah Barat".

Dalam sebuah wawancara dengan NPR, Dr. Suzanne Gaskins, yang telah mempelajari desa-desa Maya selama beberapa dekade, menjelaskan bahwa banyak orang tua Maya memberi anak-anak mereka kebebasan yang luar biasa.

“Daripada meminta orang tua menetapkan tujuan dan kemudian harus menawarkan bujukan dan hadiah untuk mencapai tujuan itu, anak yang (dibiarkan) menetapkan tujuan,” katanya. “Kemudian orang tua (akan) mendukung tujuan itu sebisa mereka.”

Di sisi lain, sebagian besar sekolah formal di Amerika dan negara industri serupa adalah antitesis dari tempat dimana anak-anak memiliki otonomi untuk membuat pilihannya sendiri.

Dalam studinya, Rogoff mencatat: "Mungkin anak-anak [beberapa Amerika] melepaskan kendali atas perhatian mereka ketika (hal) itu selalu dikelola oleh orang dewasa."

Sebagai orang tua, alih-alih menjadi orang yang menegakkan aturan ketat pada hal-hal seperti penggunaan teknologi, bantulah anak-anak Anda untuk membuat batasan sendiri.

Tujuannya adalah agar mereka memahami mengapa waktu menatap layar (screen time) mereka harus dibatasi.

Semakin banyak Anda membuat keputusan bersama mereka, bukan hanya atas nama mereka, maka akan semakin bersedia mereka mendengarkan bimbingan Anda.

2. Kompetensi

ilustrasi ibu dan anak/Photo by Kenny Krosky on Unsplash
ilustrasi ibu dan anak/Photo by Kenny Krosky on Unsplash

Pikirkan tentang sesuatu yang Anda kuasai, seperti memasak makanan yang lezat misalnya. Kompetensi terasa menyenangkan, bukan? Dan perasaan itu akan tumbuh bersama kemampuan Anda untuk mencapai kesuksesan dalam hidup.

Sayangnya, kegembiraan karena kemajuan adalah perasaan yang memudar di antara anak-anak saat ini. Terlalu sering, anak-anak diberi pesan bahwa mereka tidak kompeten dalam apa yang mereka lakukan.

Dalam tes terstandardisasi, misalnya. Tes biasanya tidak memperhitungkan fakta bahwa anak yang berbeda sebenarnya memiliki tingkat perkembangan yang berbeda pula.

Jika seorang anak tidak berprestasi baik di sekolah dan tidak mendapatkan dukungan individual yang diperlukan, mereka mungkin mulai percaya bahwa mencapai kompetensi itu tidak mungkin.

Jadi, mereka justru cenderung akan berhenti mencoba. Dengan tidak adanya kompetensi di kelas, anak-anak akan beralih ke saluran yang berpotensi tidak sehat untuk mengalami perasaan tumbuh dan berkembang yang mereka belum dapatkan.

Perusahaan yang membuat game, aplikasi, dan gangguan potensial lainnya dengan senang hati mengisi kekosongan itu dengan menjual solusi siap pakai untuk kekurangan "nutrisi psikologis" yang dimiliki anak-anak.

Mereka tahu bahwa banyak konsumen yang senang naik level karena rasanya seperti mendapatkan lebih banyak pengikut atau mendapatkan rasa suka.

Sebagai orang tua, ingatlah untuk meringankan aktivitas akademis atau atletik yang terstruktur serta tekanan dan ekspektasi yang mengelilinginya. Diskusikan dengan anak Anda tentang apa yang mereka senang lakukan dan dorong mereka untuk mengejarnya serta bicarakan cara yang efektif untuk mencapai tingkat kompetensi sesuai dengan yang diharapkan bersama.

3. Keterkaitan

Seperti orang dewasa, anak-anak ingin merasa penting bagi orang lain begitupun sebaliknya. Kesempatan untuk memenuhi kebutuhan ini dan pada saat yang sama mengembangkan keterampilan sosial akan berpusat pada kesempatan untuk bermain dengan orang lain. Namun, sayangnya di dunia saat ini, sifat dasar permainan berubah dengan cepat.

Sementara generasi sebelumnya diizinkan untuk bermain setelah sekolah dan membentuk ikatan sosial yang erat, banyak anak saat ini dibesarkan oleh orang tua yang justru membatasi jam bermain di luar ruangan. Menurut survei orang tua dalam artikel Atlantic, hal ini tidak lain karena melindungi anak dari kemungkinan adanya predator anak dan lalu lintas jalan yang padat.

"Selama lebih dari 50 tahun, waktu bermain anak-anak terus menurun, dan hal itu membuat mereka tidak berubah menjadi orang dewasa yang percaya diri," kata penulisnya.

Sayangnya, penurunan ini membuat banyak anak tidak punya pilihan selain tinggal di dalam rumah, terus menghadiri program terstruktur, atau hanya mengandalkan teknologi untuk terhubung dengan orang lain.

Sebagai orang tua, yang dapat Anda lakukan adalah memberi anak Anda lebih banyak waktu luang untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain, terutama yang sebaya. Hal ini akan membantu mereka menemukan koneksi yang mungkin mereka sebelumnya hanya bisa cari secara online atau melalui media sosial.

Reporter: Priscilla Dewi Kirana

Anak bermain/Unsplash Shitota
Anak bermain/Unsplash Shitota
Ajari anak tentang uang sejak dini untuk lebih bijak mengelola uang di usia dewasa nanti. (Foto: Unsplash)
Ajari anak tentang uang sejak dini untuk lebih bijak mengelola uang di usia dewasa nanti. (Foto: Unsplash)