Pakar Statistika UGM Sebut Pengendalian Non-obat Efektif Tekan Covid-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Yogyaakarta Pakar Statistika UGM Dedi Rosadi menyebut jika pandemi Covid-19 tidak bisa dikendalikan maka akan sulit mengharapkan pandemi ini akan berakhir dalam waktu dekat. Dedi Rosadi melihat dari data statistik pengendalian kasus baru di tingkat global, ia menyebutkan metode pengendalian non obat terbukti efektif dalam meminimalisasi munculnya kasus baru covid-19.

China, Australia, dan Selandia Baru menjadi negara yang berhasil menekan kasus baru. Pengendalian lewat vaksin dan obat secara global terus digalakkan di tengah keterbatasan vaksin dan obat. Namun, upaya non-obat pun tetap harus dilakukan karena terbukti efektif dalam menekan angka kasus Covid-10.

"Sampai saat ini memang secara global fokus masih di pengendalian non-obat," kata Dedi Rosadi, Sabtu (22/5/2021).

Rosadi menjelaskan pengendalian non-obat tingkat efektivitasnya beragam dalam menekan munculnya kasus baru dalam beberapa bulan terakhir. Inilah yang menyebabkan, di beberapa negara tterjadi gelombang kedua dan ketiga penularan Covid-19.

"Efektivitasnya beragam, ada yang sudah sampai multiwaves, namun banyak juga yang masih singlewave seperti di Indonesia, Maroko, Paraguay, Uruguay," katanya.

Menurutnya, meski pengendalian non-obat terbukti efektif untuk di beberapa negara, tetapi belum tentu efektif di negara lain. Sebab, keefektivitasannya bergantung banyak faktor, seperti ketegasan pemerintah dan kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kesehatan.

"Saya yakin ini akan sangat sulit sehingga endemik wilayah atau global sangat mungkin akan terjadi. Tapi kalau ini bisa dilakukan efektif secara global, kejadian endemik tidak akan terjadi," katanya.

Rosadi mengatakan untuk menekan laju penularan covid-19 selain pengendalian non-obat perlu lewat vaksin dan obat meski efektivitas vaksin yang harus terus diuji. Namun, apabila salah satu atau keduanya bisa berjalan efektif dalam waktu dekat, masih sangat mungkin endemik bisa dihindarkan dan pandemi bisa berakhir dalam waktu dekat.

"Banyak faktor yang menjadi kendala utama dan tetap terus harus diwaspadai dari permintaan dan ketersediaan vaksin dan obat, mutasi virus, faktor sosial masyarakat," katanya.