Pakar: Tes Antibodi Tak Dianjurkan Pasca Vaksinasi COVID-19

·Bacaan 1 menit

VIVA – Tak sedikit masyarakat yang merasa perlu memeriksa kadar antibodinya pasca diberikan dua dosis vaksin COVID-19. Sebab, banyak yang beranggapan bahwa kadar antibodi yang tinggi berarti membuat tubuh lebih baik dalam mencegah penularan COVID-19.

Nyatanya, pakar tak menyarankan pemeriksaan tes antibodi tersebut lantaran dianggap hanya membuat panik. Kok bisa?

"Sebetulnya tidak perlu, karena hingga saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun belum merekomendasikan teknik atau alat mana yang bisa dipakai (untuk pemeriksaan antibodi) yang ditujukan untuk massal atau kebutuhan masyarakat banyak," kata dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi (paru) dr Erlina Burhan, SpP, dalam acara virtual, Jumat 21 Mei 2021.

Ditegaskan dokter yang praktik di RS Persahabatan itu, alat yang dipakai belum tentu bisa benar-benar mendeteksi kadar antibodi dalam tubuh.

Pada dasarnya, hanya laboratorium canggih yang mampu melakukannya namun itu bukan ditujukan untuk masyarakat umum, melainkan sebagai riset. Dengan begitu, tes antibodi biasa cenderung tak bermanfaat dan hanya dapat memicu kepanikan.

"Antibodi yang terbentuk juga tidak selalu menggambarkan atau mempresentasikan proteksi (antibodi) yang ada dalam tubuh. Jadi kadang-kadang itu bikin panik aja 'lho kok saya rendah (antibodi)', malah jadi kepikiran dan nggak bisa tidur. Jadi menurut saya memang tidak diperlukan, tidak dianjurkan," tegasnya.

Dokter Erlina menyampaikan bahwa vaksinasi COVID-19 pasti akan tetap memberi membangun antibodi di tubuh. Kalaupun tetap ada kasus terinfeksi COVID-19 saat sudah divaksinasi, gejalanya tergolong ringan.

"Vaksinasi tujuannya adalah latih sistem imun untuk produksi kekebalan kalau ada sesuatu yang asing masuk. Intinya vaksin akan dapat timbulkan kekebalan," terangnya.