Pakar: Varian Delta dari India Meledakkan Pandemi di Indonesia

·Bacaan 2 menit

VIVA – Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Penanganan COVID-19, Hidayatullah Muttaqin, menilai tingginya mobilitas penduduk yang mengabaikan protokol kesehatan memicu COVID-19 varian Delta terus menyebar.

"Varian Delta dari India atau yang dikenal dengan B.1.617.2 masuk dan meledakkan pandemi di Indonesia melalui celah tingginya mobilitas penduduk, lemahnya testing dan tracing, serta menurunnya penerapan protokol kesehatan," katanya di Banjarmasin, Jumat, 25 Juni 2021.

Menurut Taqin, perkembangan pandemi di Indonesia makin mengkhawatirkan. Setelah sepekan terakhir kasus konfirmasi melonjak pada level 12 ribu hingga 15 ribu penduduk yang terinfeksi, bahkan Kamis jumlahnya sudah menyentuh 20 ribu kasus harian.

Ledakan kasus itu diperkirakan akibat pengendalian mobilitas penduduk belum maksimal dan menurunnya testing. Sementara ketaatan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan cenderung makin lemah.

"Saya cenderung melihat penurunan kasus sejak Maret lalu bukan karena keberhasilan PPKM Mikro, melainkan akibat turunnya testing dan tracing. Indikasinya terlihat makin rendahnya angka testing dengan PCR hingga setengah dari jumlah testing di bulan Januari dan Februari," katanya.

Sejak Maret hingga Mei, penurunan kasus berhenti pada kisaran 4.000 sampai 5.000 kasus per hari dari sebelumnya 9.000 sampai 10.000 kasus per hari pada Januari dan Februari.

Tingkat penurunan itu sesuai dengan level penurunan tes PCR, yaitu dari sekitar 40 ribuan orang dites PCR tiap hari menjadi hanya sekitar 20 ribuan orang per hari.

Akibatnya, Taqin menganalisis, terjadi penurunan semu yang justru berbahaya karena membuat penanganan pandemi melemah. Sementara kegiatan ekonomi makin dilonggarkan yang mendorong laju mobilitas penduduk, sedangkan masyarakat makin terdorong untuk mengabaikan protokol kesehatan.

Kondisi saat ini diperparah dengan menyebarnya COVID-19 varian Delta dengan daya transmisi virus 30 sampai 100 persen lebih tinggi dan dua kali lebih besar risikonya untuk dirawat di rumah sakit dibanding varian Alpha dari Inggirs (B.1.1.7).

Untuk itu, Taqin mengharapkan pemerintah sigap mengambil strategi mitigasi penularan yang lebih besar. Perlunya menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara total di pulau Jawa dan pembatasan ketat di luar Jawa.

Kunci menghentikan proses replikasi COVID-19 di wilayah yang sedang meledak dengan menghentikan sementara mobilitas penduduk, testing dan tracing secepat dan sebanyak-banyaknya.

Sementara daerah yang masih rendah tingkat penularannya juga harus mengendalikan mobilitas penduduk dengan menurunkan tensi kegiatan ekonomi dan penerapan protokol kesehatan dengan ketat.

"Pada saat bersamaan proses vaksinasi terus dipercepat untuk mewujudkan kekebalan komunal di tengah masyarakat," ujarnya. (ant)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel