Pakar Wanti-Wanti Indonesia Bersiap Hadapi Krisis Energi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Cuaca yang tak menentu di sejumlah negara Eropa termasuk Inggris mempengaruhi kelangkaan energi yang mengarah kepada krisis energi.

Bahkan dengan kejadian ini, sejumlah negara tersebut bisa terancam tak memiliki cadangan listrik sepanjang musim dingin.

Kendati masih terjadi di sebagian negara di Eropa, pakar energi mewanti-wanti Indonesia untuk bisa bersiap dalam menghadapi krisis. Pasalnya, bukan tidak mungkin krisis juga terjadi di Indonesia.

Mantan Gubernur Indonesia untuk OPEC, Widhyawan Prawiraatmadja, menilai tingkat cuaca yang tak menentu tersebut membuat harga gas dan batubara menjadi meningkat. Hal ini juga diprediksi dengan diikuti harga minyak yang ikut melambung.

Pria yang akrab disapa Wawn ini diprediksi mampu memengaruhi Indonesia juga terus terjadi kelangkaan di sebagian negara eropa tersebut.

“Krisis energi global akan berpengaruh kepada semua negara termasuk Indonesia, karena adanya ketergantungan pada impor,” jelas dia dalam webinar krisis Energi yang digelar IKA FH Undip, Minggu (10/10/2021).

Khusus kasus di Indonesia dikatakan akan berpengaruh pada harga BBM dan LPG yang biaya perolehannya akan meningkat tajam.

Sementara untuk batubara dan LNG, Indonesia dikenal sebagai eksportir, sehingga sebenarnya diuntungkan dari sisi neraca perdagangan.

Wawan menyebut, bahkan kenaikan harga energi yang melambung bisa mempengaruhi peningkatan harga komoditas lain hingga ke sektor jasa sehingga mampu mengancam kenaikan inflasi melebihi target.

“Oleh sebab itu, perlu diingat bahwa kondisi Indonesia sangat rentan terhadap peningkatan harga energi primer, khususnya minyak bumi plus BBM dan LPG, yang ketergantungan pada impornya tinggi, terutama karena sebagian dari harga produk BBM dan LPG 3 kg masih disubsidi,” paparnya.

Langkah yang Harus Dilakukan

Ilustrasi tambang migas  (iStockPhoto)
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Wawan menilai kondisi ini menjadi saat yang tepat untuk perusahaan energi mulai menjalankan manajemen risiko. Baik bagi perusahaan lokal swasta maupun perusahaan pelat merah.

Artinya, pada sektor ini ada PT Pertamina yang memainkan komoditas energi di dalam negeri.

“Bagaimana menjalankan manajemen risiko. Kalau di (perusahaan) swasta otomatis (dijalankan), BUMN itu tak mudah, contoh aja, kebayang kan kalau kita kena shortage, pasti disalahin BUMN-nya, gimana BUMN ini, tapi kalau kelebihan nanti disalahin, jadi dalam posisi sandwich,” lanjut dia.

Selain itu, hal yang sama juga perlu dilakukan PT PLN. Itu karena dalam posisi konsumsi energi seperti penyerapan batubara, langkah-langkahnya ada di PLN.

Sisi lain yang tak kalah penting adalah terkait energi transisi. Kebijakan transisi yang hanya melihat pada kebutuhan jangka pendek dapat mendorong terjadinya underinvestment dalam menghadapi pertumbuhan permintaan energi bersih maupun energi fosil yang pertumbuhannya masih meningkat.

“Implementasi energi transisi yang tidak matang dapat menyebabkan indonesia menjadi rentan ketika terjadi gangguan pasokan baik dalam negeri maupun dalam konteks global atau regional,” katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel