Palembang mulai sosialisasikan upaya mitigasi bencana ke petani

Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan mulai menyosialisasikan upaya mitigasi kebencanaan kepada para petani di kota setempat supaya terhindar dari dampak kerusakan-gagal panen yang dapat ditimbulkan.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Palembang, Sayuti, saat dikonfirmasi di Palembang, Senin, mengatakan, sosialisasi tersebut dilakukan masif setelah kota Palembang menjadi salah satu daerah berstatus waspada bencana hidrometeorologi, seiring adanya potensi peningkatan curah hujan yang berlangsung hingga awal tahun 2023.

Baca juga: Hujan diprakirakan turun di sejumlah kota besar

Kondisi cuaca tersebut dihimpun dari surat edaran gubernur, yang melaporkan hasil analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) daerah setempat kalau hidrometeorologi dapat menimbulkan banjir dan puting beliung.

Baca juga: Waspada gelombang tinggi hingga enam meter pada 26-27 September

Menurut dia, ada sebanyak 335 orang anggota kelompok tani di kota Palembang yang menjadi sasaran sosialisasi upaya mitigasi kebencanaan dari tim tenaga penyuluh pertanian tersebut.

Baca juga: Merapi dalam sepekan mengalami 528 kali gempa vulkanik dalam

Ratusan petani itu memiliki komoditas tanaman padi yang memanfaatkan lahan rawa dengan luas total 3.400 hektare tersebar di Kecamatan Gandus, Kertapati, Kalidoni, Plaju, Talang Jambe dan Alang-alang Lebar.

Dalam kegiatan tersebut, pihaknya memberikan pemahaman terkait status atau kondisi cuaca, waktu penanaman benih, hingga pengecekan kondisi sumber air (irigasi, embung, waduk dan sejenisnya) kepada para petani.

“Mayoritas memanfaatkan sawah lebak atau rawa dan musim tanamnya hanya satu kali, dan sudah panen awal September tadi. Tapi beberapa petani dengan luas lahan 500 hektare lainnya biasanya memiliki dua kali musim tanam, nah atas kondisi cuaca saat ini mereka kami beri pemahaman supaya tidak berujung kegagalan panen,” kata dia.

Baca juga: Hujan lebat berpeluang terjadi di sebagian besar provinsi

Di sisi lain, Sayuti menyebutkan, secara keseluruhan Palembang tidak terlalu terdampak pada kondisi anomali cuaca yang terjadi saat ini.

Mengingat pada musim panen yang baru selesai tersebut Kota Palembang berada dalam kondisi yang cukup produktif, yakni dengan jumlah rata-rata menghasilkan 5-7 ton padi dari 3.400 hektare lahan rawa lebak yang dimanfaatkan.

Adapun diketahui sebelumnya, Gubernur Sumatera Selatan meminta kepada setiap Bupati-Wali Kota di daerah setempat untuk meningkatkan upaya antisipasi dampak bencana hidrometeorologi pada sektor pertanian.

Baca juga: Pemkot Ambon-Universitas Syah Kuala sinergi siaga hadapi tsunami

Sebab dari hasil analisa BMKG memprakirakan ada peningkatan curah hujan hingga di atas 70 persen dengan kriteria hujan menengah (50-150 mm) pada akhir bulan September 2022.

Kemudian, peningkatan curah hujan akan berpeluang menjadi lebih besar hingga di atas 80 persen, atau dengan ketebalan lebih dari 200 mm pada Oktober - triwulan pertama tahun 2023.

Menurut Herman Deru, BMKG menyebutkan hal demikian itu disebabkan oleh aktifnya fenomena La Nina dan menguatnya Dipole Mode yang menyebabkan curah hujan meningkat di atas rata-rata tanpa mengalami musim kemarau.

Baca juga: Kebijakan mitigasi bencana didorong berpihak penyandang disabilitas

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menetapkan sebanyak tujuh kabupaten-kota berstatus waspada bencana hidrometeorologi lantaran BMKG memprakirakan daerah ini bakal mengalami hujan intensitas tinggi hingga triwulan pertama tahun 2023.

Ketujuh kabupaten-kota tersebut antara lain, Kota Palembang (Kecamatan Bukit Kecil, Gandus, Ilir Barat 1, Ilir Barat II, Ilir Timur 1, Ilir Timur II, Kalidoni, Kertapati, Plaju, Seberang Ulu 1, Seberang Ulu 2).

Kabupaten Banyuasin (Air Kumbang, Air Salek, Mekarti Jaya, Muara Padang, Muara Telang, Sumber Marga Telang). Kabupaten Muara Enim (Lawang Kidul, Lubai, Lubai Ulu, Semendo Darat, Semendo Tengan, Tanjung Agung).

Baca juga: Sejumlah provinsi hadapi potensi hujan lebat berangin kencang

Kabupaten Ogan Komering Ulu (Baturaja Barat, Baturaja Timur, Lengkit, Lubuk Batang, Muara Jaya, Pengandonan, Semidang Aji, Sosoh Buai Rayap, Ulu Ogan), Ogan Komering Ilir (Air Sugihan), Kabupaten Musi Rawas (Selangit), dan Kota Pagaralam (Tanjung Tebat).

Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (BPR Ranau Tengah, Buay Runjung, Kisam Tinggi, Mekakau Ilir, Runjung Agung, Sindang Danau), dan Kabupaten Lahat (Kota Agung, Merapi Selatan, Mulak Ulu, Pagar Gunung, Pulau Pinang).

Baca juga: BMKG: Waspadai gelombang sangat tinggi di laut selatan Jabar-DIY
Baca juga: Hujan lebat disertai angin berpotensi terjadi di sejumlah provinsi
Baca juga: BMKG imbau nelayan waspadai gelombang tinggi di perairan Selat Malaka