PAM Jaya targetkan kebocoran air 30 persen pada 2030

Perumda PAM Jaya menargetkan kebocoran atau air tak terhitung (non revenue water/NRW) dari kondisi saat ini sekitar 46 persen menjadi 30 persen pada 2030.

Direktur Teknik Perumda PAM Jaya Untung Suryadi di Jakarta, saat Pers Gathering Perumda PAM Jaya di Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat, mengatakan usaha untuk menurunkan NRW menjadi 30 persen pada 2030 itu dengan asumsi cakupan layanan telah 100 persen.

Hal itu, katanya, akan dimulai pada 2023 dengan pengajuan Penyertaan Modal Daerah (PMD) untuk tahun tersebut dan salah satunya akan dimaksimalkan bagi studi dan program penurunan NRW Tahap I.

"NRW ini disebabkan beberapa faktor, bisa karena sambungan ilegal, pembacaan meter yang tidak akurat, hingga terjadinya kebocoran karena usia pakai pipa," kata Untung.


Untung menjelaskan, pipa yang ada saat ini dengan panjang sekitar 12.000 kilometer adalah pipa PVC, yang dalam usia pakai lebih dari 20 tahun akan berkurang kualitasnya.

Baca juga: PAM Jaya lakukan asesmen untuk pemetaan kembali karyawan Palyja-Aetra


"Ada 70 persen yang menggunakan pipa PVC ini. Selain itu, ada juga pipa-pipa lama dari besi yang sudah mulai korosi. Itu sudah teridentifikasi semua, termasuk titiknya," kata dia.

Dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, Untung menyebut bahwa diperlukan dana sekitar Rp12 triliun dengan rincian Rp4 triliun untuk layanan area timur dan Rp8 triliun untuk area barat.


Lebih lanjut, dia menyebutkan bahwa alokasi pengajuan PMD untuk penurunan NRW pada 2023 adalah sebesar Rp35 miliar dan akan digunakan untuk menyusun studi pendahuluan untuk membuat peta jalan penurunan NRW.


Kemudian, akan dilanjutkan dengan penyusunan studi kelayakan karena penurunan NRW ini juga tidak mudah dan harus terencana.

"Sederhananya, memasang pipa baru itu lebih simpel dibandingkan proses perbaikan pipa yang sudah tertanam," ucapnya.

Baca juga: DPRD DKI desak PAM Jaya segera wujudkan sistem pengolahan air minum


Ia menambahkan bahwa tekad Perumda PAM Jaya menurunkan NRW saat ini dari 46 persen menjadi 30 sampai 26 persen pada 2030, tidak murah dan dibutuhkan investasi yang cukup besar.


"Tapi, tetap kami optimistis karena ini juga menjadi bagian penting untuk menjaga kedaulatan air bagi warga Jakarta," ujarnya.


PMD tersebut, lanjut Untung, juga akan digunakan untuk penurunan NRW di area-area mendesak yang perlu segera ditangani berdasarkan hasil identifikasi yang sudah dilakukan.


Berkaca dari kota-kota besar lain seperti Yokohama di Jepang, rehab skala besar perpipaan air bersih juga dilakukan setelah dalam jangka waktu 100 tahun, hal ini juga dihadapi Perumda PAM Jaya yang pada 23 Desember mendatang juga berusia 100 tahun.


"Usaha-usaha penurunan NRW sudah cukup banyak dilakukan. Kita memang sudah waktunya merehab pipa-pipa yang ada karena memang pipa ini ada usia pakainya," katanya.

Baca juga: Pj Gubernur DKI percepat pemenuhan air bersih di Jakarta