Pandai Memasak, Penyandang Spektrum Autisme Ini Buktikan Bisa Mandiri Secara Finansial

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Menyandang Autism Spectrum Disorder (ASD/spektrum autisme) tidak membuat pemuda asal Surabaya, Jawa Timur, Muhammad Aden Hadi serta merta menyia-nyiakan masa mudanya.

Di usia 22 ia merintis usaha makanan beku kebab frozen yang ia buat sendiri. Pemuda yang tercatat sebagai mahasiswa disabilitas di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini sudah berhasil menjual kebabnya hingga ke kota lain seperti Madiun, Kediri, Malang, Denpasar dan Jakarta.

Aden mulai merintis usaha di bidang kuliner sejak 2017 pada program kerja industri SMKN 8 Surabaya. Saat itu ia membuat kue-kue yang sederhana seperti puding cup, risoles mayo, makaroni, dan burger yang dijual di sekolah.

Atas semangat dan usahanya, Aden dan tim UNESA berhasil menjadi runner up di Kompetisi Bisnis Mahasiswa Nasional pada Desember 2020. Atas prestasi yang dicapai, ia pun menjadi penyandang autisme yang dinilai memberikan contoh baik bagi anak-anak disabilitas lainnya.

Kini, selain sibuk berwirausaha, mahasiswa departemen kuliner ini juga acap kali menjadi narasumber di acara tentang kesadaran autisme baik lokal maupun nasional. Seperti yang diadakan Yayasan Administrasi Indonesia (YAI) Jakarta, London School Jakarta, Junior Chamber International (JCI) Surabaya, dan Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus (YPKABK) Surabaya.

Dalam acara-acara tersebut Aden diundang untuk memberi semangat bagi teman-teman ASD walaupun ia sendiri memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi. Ia juga Diberi kesempatan untuk demo masak dan belajar investasi bersama Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) binaan Dharmawanita Kota Surabaya.

Perlu Usaha dan Perjuangan

Kebab Frozen buatan Aden, penyandang autisme asal Surabaya. Foto: Dokumen Pribadi.
Kebab Frozen buatan Aden, penyandang autisme asal Surabaya. Foto: Dokumen Pribadi.

Menurut sang ibu, Bonny Dewayanti (47), untuk sampai dalam tahap ini, perlu usaha dan proses yang panjang. Hal ini tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan penuh dari banyak pihak, katanya.

“Perlu usaha dan proses panjang dan support dari banyak pihak sehingga ia bisa mandiri secara finansial seperti ini. Dari orangtua, keluarga besar, sekolah, kampus, Pemkot Surabaya, organisasi dan komunitas, dan teman dekatnya,” ujar Bonny mengutip keterangan pers Yayasan Ananda Mutiara Indonesia (Y-AMI), Selasa (22/5/2021).

Ia menambahkan, dukungan itu berupa membeli produk Aden, memberi saran perbaikan produk, dukungan semangat, menerima dia apa adanya, memberikan info-info yang bermanfaat, membantu mempublikasikan, memberikan beasiswa, memberikan kesempatan dan bimbingan untuk berprestasi sehingga ia setara dengan remaja pada umumnya.

“Begitulah kemandirian finansial anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak bisa lepas dari support system yang luas di masyarakat yang mendukungnya.”

Bonny berharap semoga semua pihak terus bergandengan tangan untuk mendukung penyandang disabilitas.

“Mereka bisa jika diberi kesempatan dan dukungan itu sangat berarti bagi kami,” tutupnya.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel