Pandangan SBY soal Gerakan Vaksinasi Nasional COVID-19

Ezra Sihite, Eka Permadi
·Bacaan 3 menit

VIVA – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan bahwa hadirnya vaksin COVID-19 akan membawa harapan baru pada masa pandemi ini. Vaksin ini diharapkan bisa menghentikan pandemi Corona di dunia dan khususnya diharapkan di Indonesia.

“Hadirnya vaksin dari berbagai jenis dan negara pembuatnya merupakan harapan baru. Sangat mungkin vaksin dan vaksinasi menjadi titik balik (turning point) bagi pengakhiran pandemi COVID-19 di seluruh dunia. Tentunya termasuk Indonesia karenanya vaksinasi sebagai program pemerintah dan gerakan nasional haruslah benar-benar sukses,” kata SBY di akun Facebook-nya yang dikutip, Jumat 8 Januari 2021.

Pendiri Partai Demokrat ini mengingatkan bahwa yang perlu diperhatikan adalah vaksinasi terhadap rakyat Indonesia yang jumlahnya 200 juta lebih tentu memerlukan waktu. Oleh karena itu, jangan sampai upaya mengatasi COVID saat ini menjadi kendor termasuk dalam menjalankan berbagai pembatasan yang diperlukan.

“Saya mengikuti penjelasan menteri kesehatan tanggal 2 Januari 2021 bahwa vaksinasi akan tuntas dalam waktu 3,5 tahun. Satu hari kemudian diralat oleh pejabat senior Kemenkes yang mengatakan bahwa vaksinasi akan selesai dalam waktu 15 bulan. Artinya, vaksinasi terakhir terhadap manusia Indonesia akan berlangsung pada tanggal 13 April 2022,” paparnya.

Meski begitu, SBY mengatakan tak ingin berdebat tentang realistiknya berapa lama waktu yang diperlukan untuk melakukan vaksinasi di negeri ini. Timeline-nya juga seperti apa. Yang penting rencana vaksinasi harus disiapkan dengan matang.

“Saya mengetahui tantangan dan kompleksitas vaksinasi untuk rakyat Indonesia. Misalnya faktor geografi, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Juga dari segi demografi, mengingat penduduk Indonesia tersebar di berbagai pelosok Tanah Air dan sebagian daripadanya sulit dijangkau,” ungkapnya.

Juga keadaan dan kesiapan infrastruktur kesehatan masyarakat di berbagai wilayah termasuk faktor transportasi, penyimpanan dan distribusi vaksin serta elemen logistik yang lain.

Di samping itu, pemerintah diminta harus menyiapkan anggaran yang cukup besar. Apalagi Presiden Joko Widodo sudah menjanjikan vaksin ini gratis bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Ingat keuangan negara dan ruang fiskal kita sungguh terbatas. Tentu negara tak bisa terus-menerus berutang, karena utang yang kian menggunung akan menambah beban ekonomi yang kini bebannya sudah sangat berat,” kata dia.

SBY lanjut mengingatkan bahwa apa yang telah dijanjikan oleh pemerintah kepada rakyat harus benar-benar ditepati. Kalau tidak, misalnya karena salah perencanaan dan salah hitung akan bisa menimbulkan chaos.

Hal begitu juga akan membuat masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintahnya (mistrust). Kalau ini terjadi dampaknya buruk. Masyarakat bisa panik, marah dan kehilangan harapan. Keseluruhan upaya mengatasi pandemi di negeri ini juga bisa gagal.

“Saya berpandangan bahwa sebenarnya pemerintah mampu (capable) untuk mengelola vaksinasi ini dengan baik. Syaratnya, lakukan manajemen krisis yang efektif serta bekerja siang dan malam. Bukan business as usual,” ujar dia.

Sementara itu, tentang pemilihan jenis vaksin yang akan disuntikkan kepada masyarakat juga harus dipastikan memenuhi syarat dan keamanan.

Pertama safety, artinya vaksin tersebut aman dan tidak membahayakan bagi yang menggunakan. Sedangkan yang kedua efficacy atau memiliki tingkat efektivitas yang tinggi alias manjur. Yang penting, penjelasan pemerintah kepada masyarakat harus gamblang, transparan dan dapat dimengerti dengan baik.

“Saya yakin rakyat Indonesia, termasuk saya, sangat berharap pemerintah dapat melakukan vaksinasi nasional ini dengan baik. Harus sukses dan tak boleh gagal, karena itulah jalan bagi pengakhiran pandemi di negeri ini,” kata dia.