Pandemi, Bank Mandiri catat pertumbuhan kredit 3,79 persen

Kelik Dewanto
·Bacaan 2 menit

Bank Mandiri mencatat realisasi penyaluran kredit konsolidasi hingga 30 September 2020 mencapai Rp873,7 triliun atau tumbuh 3,79 persen dibandingkan periode sama 2019 yang Rp841,8 triliun di tengah pandemi COVID-19.

"Kami akan terus mendorong pemulihan ekonomi dengan aktif salurkan kredit dalam rangka pemulihan ekonomi nasional (PEN)," kata Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi pada paparan kinerja kuartal III 2020 secara virtual di Jakarta, Senin.

Baca juga: Dirut baru Darmawan Junaidi akan lanjutkan rencana bisnis Bank Mandiri

Rinciannya, realisasi penyaluran kredit di antaranya paling besar diserap segmen korporasi mencapai Rp313,6 triliun atau tumbuh 4,19 persen, komersial Rp145,9 triliun atau tumbuh 5,37 persen, dan anak perusahaan mencapai Rp122,6 triliun atau tumbuh 7,77 persen.

Selanjutnya, kredit mikro tumbuh 0,84 persen mencapai Rp117,4 triliun dan kredit usaha kecil dan menengah (UKM) mencapai Rp52,3 triliun atau kontraksi 9,54 persen dari periode sama tahun lalu mencapai Rp59,1 triliun.

Apabila dipilah, penyaluran kredit produktif tumbuh sebesar 3,88 persen menjadi Rp616,37 triliun terdiri atas kredit modal kerja sebesar Rp314,82 triliun dan kredit investasi sebesar Rp301,55 triliun.

Untuk penyaluran kredit ke segmen perdagangan besar atau wholesale masih menjadi motor pembiayaan perseroan dengan komposisi sebesar 65,3 persen atau Rp492,63 triliun atau tumbuh 9,73 persen dari periode sama tahun lalu.

Sementara, pembiayaan ke sektor usaha mikro, menjadi kontributor lainnya, dengan mencatat pertumbuhan sebesar 13,03 persen secara tahunan menjadi Rp49,07 triliun.

Sedangkan, persentase kredit bermasalah (NPL) secara keseluruhan konsolidasi mencapai 3,33 persen, lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai 2,53 persen.

Terkait dengan kredit bermasalah itu, pihaknya membentuk biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) hingga 30 September 2020 secara konsolidasi mencapai Rp15,7 triliun atau naik dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai Rp10,27 triliun.

Hingga kuartal III 2020, bank pelat merah ini membukukan laba konsolidasi setelah pajak mencapai Rp14 triliun.

Meski begitu pendapatan laba bersih itu menurun 30,73 persen dibandingkan periode sama 2019 yang mencapai Rp20,25 triliun.

Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin memproyeksi NPL mencapai 3-4 persen hingga akhir tahun karena dampak pandemi COVID-19 dan CKPN yang diproyeksi mencapai kisaran Rp18-21 triliun.

"Kami cadangkan CKPN dengan kebijakan konservatif artinya kredit yang kami restrukturisasi karena COVID-19 yang porsinya risiko tinggi, kami berikan cadangan,” katanya.

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) yang dikumpulkan konsolidasi BUMN ini pada masa pandemi tumbuh 14,92 persen mencapai Rp1.024,1 triliun, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu mencapai Rp891,2 triliun.

Baca juga: Rancangan merger bank syariah rilis, Mandiri pemegang saham terbesar
Baca juga: Bank Mandiri genjot transaksi digital kepada UMKM