Pandemi Bikin Bahagia, Terbukti 71 Persen Silaturahmi Lewat Daring

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 4 menit

VIVA – Tahun 2020 yang lalu adalah tahun yang berbeda untuk kita semua, di mana kita menghabiskan hampir sepanjang tahun di rumah masing-masing. Sejalan dengan itu, survei global dari Wall’s yang dilakukan pada terhadap 12.500 orang di 12 negara, termasuk Indonesia, 69 persen responden mengakui adanya perubahan pada pandangan terhadap makna bahagia. Seperti apa perubahan itu?

Sebelum terjadinya pandemi di tahun 2020, banyak orang yang merasa bahwa rasa happy atau bahagia bisa didapatkan dengan cara-cara seperti bepergian ke luar kota atau ke luar negeri dan membeli baju atau gadget terbaru. Namun, sekarang makna kebahagiaan telah berubah karena hal sederhana seperti kebersamaan dan dapat bermanfaat bagi orang lain bisa membuat kita jadi happy.

"Di 2021 ini Wall’s ingin mengajak semua orang untuk tidak melupakan makna kebahagiaan. Jangan biarkan rasa bahagia berhenti di diri kita, namun bagikan kepada orang lain – kepada teman, saudara, rekan kantor, tetangga, bahkan kepada pak kurir yang mengantar pesananmu ke rumah!," ujar Foods & Refreshment Director Unilever Indonesia, Hernie Raharja.

Survei yang dilakukan sepanjang tahun 2020 itu, juga menemukan lebih dari 50% responden menyadari pentingnya hubungan antar sesama atau human connection untuk menghasilkan rasa bahagia tersebut. Lantas, perubahan apa lagi yang terjadi pada tubuh selama pandemi COVID-19 berlangsung? Berikut rangkumannya dikutip dari keterangan tertulis Wall's, Rabu 27 Januari 2021.

Bantuan orang lain

70 persen responden merasa lebih mudah untuk meminta bantuan dari orang lain. Jika selama ini kita mungkin enggan untuk meminta bantuan, tahun 2020 telah mengajarkan kita bahwa tidak ada salahnya mengakui bahwa ada kalanya kita perlu bantuan orang lain.

Hal ini bisa berupa meminta bantuan untuk membetulkan perabot yang rusak kepada teman, meminjam tangga atau peralatan lainnya kepada tetangga, atau bahkan sekadar curhat ke Ibu saat sedang jenuh menghadapi pekerjaan kantor.

Senada, 69 persen responden lebih proaktif menawarkan bantuan kepada orang lain. Satu hal yang diajarkan tahun 2020 kepada kita adalah betapa pentingnya kebersamaan terutama dalam keadaan yang sulit. Justru, rasa bahagia hadir ketika kita dapat membantu orang lain.

Misalnya, di beberapa komplek perumahan, warga berinisiatif secara bergantian menyumbang masker untuk komunitas mereka dan makanan bagi keluarga yang sedang sakit. Banyak dari kita juga semakin menyadari bahwa memberikan bantuan tidak hanya berupa materi, namun lebih dari itu.

Mengadakan pertemuan secara virtual untuk sekadar ngobrol dan menanyakan kabar serta mendengarkan cerita dari seorang teman, menjadi begitu berarti dalam menunjukkan perhatian dan memberikan dukungan. Bertemu secara virtual telah membantu kita untuk bisa saling menyemangati dan menguatkan kita melewati hari-hari di rumah.

Kedekatan dengan sesama

Walaupun ada keterbatasan untuk bertemu secara fisik, 69% responden justru bisa mempererat hubungan persahabatan dan persaudaraan dengan orang-orang di sekitar mereka. Komunikasi secara intens lewat media sosial, telepon dan tatap muka secara daring, membuat banyak orang justru lebih membuka diri dan merasa lebih dekat satu sama lain.

Begitu banyak hal yang tadinya tidak kita ketahui dari kehidupan rekan kantor, sekarang menjadi topik obrolan sehari-hari, seperti hewan peliharaan di rumah, makanan kesukaan, cerita lucu saat masih SD, bahkan berapa jumlah adik kakak yang sering kita lihat lewat di depan layar saat pertemuan daring.

Keterbatasan untuk keluar rumah juga membuat banyak orang menjadi lebih dekat dengan komunitasnya termasuk dengan tetangga mereka. Tetangga dan orang sekitar menjadi keluarga kedua bagi kita.

Terbatasnya kegiatan luar rumah sepanjang 2020 membuat banyak orang juga mempererat hubungan dengan kerabat dan teman yang lokasinya jauh dari mereka. Namun, 71 persen responden mengaku selama pandemi ini mereka malah bisa mempererat tali silaturahmi dengan orang-orang yang lokasinya jauh. Berkat teknologi, berhubungan secara daring tidak lagi mengenal batas wilayah.

Jika dulunya kita perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk bisa bertemu saudara di kota lain, kini kita tinggal melakukan video call untuk “bertemu” mereka secara daring. Media sosial juga sangat membantu dalam menghapus batas fisik dan membuat kita semakin dekat dengan teman di luar kota, bahkan di luar negeri.

Tahun 2020 memperlihatkan kepada kita betapa jarak tidak menghalangi kita untuk berkumpul bersama, meskipun secara virtual. Bahkan untuk momen-momen tertentu seperti puasa, Lebaran, Natal dan perayaan tahun baru yang lalu dipergunakan untuk menghabiskan waktu bersama-sama dengan tertawa dan berbagi kebahagiaan meskipun secara daring.

Mayoritas alias 74 persen responden bahkan mengaku kembali menjalin hubungan dengan teman atau keluarga yang sebelum pandemi sudah lama tidak berkontak. Mulai dari buka puasa bersama, hingga temu kangen reuni alumni secara virtual.

Tahun 2020 telah memberikan makna berbeda akan kata “happy” atau bahagia kepada banyak orang di indonesia. Yuk, di tahun 2021 ini, kita tetap pertahankan makna kebahagiaan tersebut!