Pandemi Corona Lahirkan Dua Miliarder Digital Baru

Liputan6.com, Jakarta Wabah virus corona (Covid-19) telah membuat berbagai pasar saham di seluruh dunia mengalami kejatuhan, tak terkecuali di Amerika Serikat (AS).

 

Namun begitu, satu perusahaan teknologi bernama Datadog bergerak melawan tren dan melonjak naik 23 persen, pencapaian tertinggi yang pernah tercatat di bursa saham Negeri Paman Sam.

 

Catatan tersebut turut melahirkan dua miliarder baru pada satu perusahaan, yakni CEO Datadog Olivier Pomel dan Presiden Datadog Alexis Le-Quoc, dengan kekayaan masing-masing USD 1,6 miliar.

 

Datadog, sebuah perusahaan yang menawarkan platform analitik cloud untuk pelanggan seperti Universitas Cornell dan Samsung ini, melaporkan pendapatan pada kuartal I 2020 sebesar USD 131,2 juta. Angka ini naik 87 persen dari tahun lalu dan lebih tinggi 10 persen dari prediksi rata-rata analis.  

 

Laba per lembar saham perusahaan yang sebesar 6 sen juga melampaui ekspektasi Wall Street, yang memprediksi adanya kerugian 2 sen per saham.

 

Olivier Pomel mengungkapkan kegembiraannya atas pencapaian Datadog di kuartal pertama. "Krisis pandemi Covid-19 telah menunjukan kebutuhan digital, menggarisbawahi pentingnya pengamatan akan cloud environment, dan menegaskan kembali peluang jangka panjang untuk Datadog," ujarnya dilansir dari Forbes, Kamis (14/5/2020).

 

Pomel bercerita, ia dan Le-Quoc membentuk Datadog pada 2010 di Kota New York. Kedua pria asal Perancis itu kini memegang masing-masing 6 persen saham Datadog.

 

 

Terus Tumbuh

Ilustrasi Miliarder (Liputan6.com/Deisy)

Perusahaan tersebut mulai terdaftar di bursa Nasdaq pada September 2019, meraih hampir USD 650 juta dan meraup kapitalisasi pasar sebesar USD 10,9 miliar pada hari pertama perdagangannya.

 

Saham Datadog kini naik lebih dari 80 persen sejak debut pasar perdananya. Pada saat yang sama, pergerakan indeks S&P 500 telah jatuh 5 persen.

 

Berkat Raihan tersebut, Pomel bilang Datadog telah melihat potensi pertumbuhan bisnis selama dua bulan sejak pandemi menahan pergerakan saham.

 

Pada akhir triwulan pertama 2020, ia menyebutkan perusahaannya telah memiliki 11.500 pelanggan.

 

"Mungkin terlalu dini untuk mengatakan kita telah meraih segalanya. Tapi sejauh dari yang bisa kita lihat, kita melihat banyak ketergantungan pada pemakaian online. Dari sini, kita melihat kisah sukses sistem cloud," pungkas dia.