Pandemi COVID-19 Berakhir Tanpa Vaksin? Ini Jawaban Pakar

Donny Adhiyasa, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVAPakar meyakini bahwa vaksin COVID-19 akan segera hadir di tengah masyarakat dunia dalam beberapa bulan lagi. Meski begitu, diakui bahwa vaksin tersebut mungkin efektivitasnya tidak jangka panjang.

Guru Besar Penyakit Paru FKUI Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama menuturkan bahwa saat ini terdapat 156 vaksin yang menjalani uji preklinis dan 45 uji klinis, di mana 10 diantaranya telah memasuki fase 3.

Menurutnya, jika vaksin telah lolos dan sukses di fase 3, maka keamanan dan efektivitasnya telah terjamin.

"Tetapi, apakah 100 persen melindungi? Nampaknya tidak. Masih fase awal jadi tidak 100 persen. Bisa saja (efektivitasnya) 50 persen," tuturnya dalam acara VIVA Talk bersama VIVA.co.id, Selasa 3 November 2020.

Meski aman dan efektif, kata Prof Tjandra Yoga Aditama, efektivitasnya bisa saja bertahan hanya satu atau dua tahun. Artinya, vaksinasi akan berlangsung beberapa kali. Selain itu, jumlahnya pun tak langsung mencukupi seluruh masyarakat di dunia.

Setelah fase tiga, dijelaskan lagi bahwa terdapat fase post marketing surveilence, yakni untuk menentukan efek sampingnya usai diberikan secara meluas pada masyarakat.

Sebab, berdasarkan pengalaman jenis vaksin lain, tetap akan timbul efek samping meski hasil di fase 3 sudah bagus.

Lantas, apakah tetap memerlukan vaksin agar pandemi bisa berakhir?

"Pertanyaannya mungkin di balik, apa dengan vaksin pandemi berakhir? Intinya vaksin akan ada dan sudah jalan (penelitiannya). Tapi memang tidak lantas selesaikan segalanya," tegasnya.

"Tetap harus menjalankan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan meski nantinya vaksin telah ada," sambungnya.

Sebelumnya, Prof Tjandra Yoga Aditama juga menuturkan bahwa pada umumnya 80 persen pasien COVID-19 mengalami gejala ringan dan 20 persennya gejala berat. Pada yang mengalami gejala berat, biasanya sembuh sendiri dengan dua kemungkinan.

"Pertama, Long COVID-19 yaitu walau sembuh masih ada keluhan. Ini bukan hal baru, kalau ditelusuri pandemi flu 100 tahun lalu, ada efek lanjutannya," kata Prof Tjandra.