Pandemi COVID-19 Bikin Stok Ganja di Jamaika Makin Menipis

Dusep Malik, Dinia Adrianjara
·Bacaan 1 menit

VIVA – Hujan deras dan kekeringan yang terjadi sepanjang tahun 2020 lalu, menyebabkan stok ganja di Jamaika semakin menipis. Penduduk setempat menyebut kelangkaan ganja ini sebagai 'aib nasional'.

Para aktivis meyakini, pandemi COVID-19 dan melonggarnya undang-undang penggunaan ganja di Jamaika telah menyebabkan peningkatan besar dalam konsumsi lokal. Sebuah perusahaan industri ganja legal di sana menyebut peningkatan penggunaan selama lockdown, menjadi penyebab stok ganja semakin menipis.

Menurut petani yang menanam ganja secara ilegal di Jamaika, musim badai 2020 dan kekeringan yang menghancurkan, juga menjadi penyebab kerugian hingga puluhan ribu pound. Apalagi, mayoritas orang masih membeli ganja dengan harga murah di jalanan.

CEO dari Asosiasi Produsen dan Petani Ganja Jamaika, Paul Burke, mengatakan pengguna sekarang tidak takut dituntut karena pemerintah setempat mengizinkan kepemilikan ganja dalam jumlah kecil. Stigma terkait ganja juga sudah berkurang, sebab banyak orang menggunakan tanaman itu selama pandemi untuk manfaat terapeutik dan pengobatannya.

Dilansir The Sun, pada Selasa 9 Februari 2021, penggunaan ganja dalam jumlah kecil tidak tergolong dalam tindakan kriminal di negara yang berada di Kepulauan Karibia tersebut. Tetapi, penjualan dalam jumlah besar tetap tergolong sebagai tindakan ilegal.

Jamaika yang selama ini dikenal oleh orang asing dengan reggae dan Rastafarian, mengizinkan industri ganja medis yang diatur dan mendekriminalisasi sejumlah kecil ganja pada 2015.

Orang yang tertangkap dengan 2 ons (56 gram) atau kurang dari ganja, dapat membayar denda kecil dan tidak akan ditangkap atau masuk dalam catatan kriminal. Pulau ini juga memungkinkan individu untuk membudidayakan hingga lima tanaman, dan Rastafarian secara hukum diizinkan untuk merokok ganja untuk tujuan sakramental.