Pandemi COVID-19 buat Indonesia genjot penelitian klinis

Eijkman Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) Indonesia menyatakan, pandemi COVID-19 yang mendera dunia sejak awal tahun 2020 membuat Indonesia menggenjot penelitian klinis.

Manajer Operasional Penelitian Klinis Eijkman Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) Indonesia, Mutia Rahardjani, dalam paparannya di 7th World One Health Congress, Singapura, Selasa, menyampaikan bahwa penelitian klinis di Indonesia mengalami peningkatan drastis pada 2020-2022.

Mutia menjabarkan data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan bahwa 2020 terdapat 31 penelitian klinis dilakukan di Indonesia, yang bertambah menjadi 33 pada 2021, dan pada 2022 hingga Juni sudah terdapat 15 penelitian klinis.

Angka itu meningkat dibandingkan 12 pada 2016, 10 pada 2017, lima pada 2018, dan 18 pada 2019.

Baca juga: Penelitian dokter Terawan perlu bukti klinis tambahan

Baca juga: Riset vaksin DBD mulai tunjukkan keberhasilan

Kendati demikian, Mutia mengaku data itu menyisakan pertanyaan baru seberapa jauh keberlanjutan peningkatan penelitian klinis di Indonesia apabila situasi darurat seperti pandemi sudah berlalu di masa mendatang.

"Aku rasa sih jumlah penelitian sekarang sudah cukup banyak, pertanyaannya berikutnya adalah, apakah ini akan sustain?" ujar Mutia ditemui setelah pemaparannya.

Mutia menilai bahwa penelitian klinis harus tetap gencar dilakukan mengingat di beberapa wilayah Indonesia masih terjadi endemi beberapa penyakit menular seperti malaria ataupun demam dengue.

Untuk itu, Mutia mengingatkan bahwa dunia pengetahuan di Indonesia bersama jajaran pemerintah harus bisa terus mengundang para sponsor untuk mendanai penelitian-penelitian klinis di Tanah Air.

Baca juga: Penelitian Vaksin Merah Putih terdampak penghapusan dana COVID-19

Baca juga: Penelitian: Komponen jeruk bergamot hambat infeksi COVID-19

Menurut Mutia hal itu menemui kendala baru karena kalangan industri, yang biasanya berkenan menjadi sponsor pendanaan penelitian klinis, memiliki persepsi bahwa penelitian klinis di Indonesia masih cukup berbelit-belit dalam berbagai aspek.

"Jadi mereka itu sangat reluctant (enggan -red) untuk bikin (penelitian klinis) dan berinvestasi di Indonesia. Karena mintanya macam-macam, mengeluarkan sampel aja susahnya minta ampun," kata Mutia.

Di sisi lain, Mutia menyarankan pemerintah terus meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia (SDM) agar apabila menjadikan investasi sebagai prasyarat mutlak penelitian klinis di Indonesia, sudah berbanding lurus dengan kebutuhan pemenuhan tenaga dalam menjalankan fasilitas yang diinvestasi oleh industri ke depannya.

Baca juga: Penelitian kekebalan komunitas rampung pekan ke empat Desember

Baca juga: Efektivikasi vaksin terhadap varian baru masih dalam tahap penelitian

Baca juga: Studi soal pengendalian COVID-19 dapat perhatian khusus di RKSA 2021