Pandemi COVID-19 Eratkan Hubungan, China dan ASEAN Kerja Sama Pulihkan Kondisi Ekonomi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 memaksa banyak orang untuk menghentikan aktivitas pekerjaannya, termasuk kerja sama antar negara yang sedikit banyak telah terhambat dikarenakan aturan pembatasan.

Kendati demikian, guna meminimalisir dampak sosial ekonomi di tengah masyarakat, para pemerintah negara justru dituntut untuk memperkuat kerja sama dan komunikasi antar negara.

Hal ini lah yang dilakukan oleh pihak ASEAN dan China guna menanggulangi dampak COVID-19 dari sisi ekonomi.

Dalam forum virtual yang diselenggarakan oleh FPCI, sejumlah duta besar untuk ASEAN bersama dengan mantan menteri perdagangan Indonesia, Gita Wirjawan pun turut membahas isu ini.

Para panelis membahas review kerjasama ekonomi ASEAN-China yang telah berkontribusi pada pemulihan ekonomi regional, tantangan dan peluang bersama untuk memperkuat pemulihan regional pada masa pandemi ini dan seterusnya, serta memetakan jalan ke depan kerjasama ekonomi ASEAN-China menuju pertembuhan yang berkelanjutan, inovatif dan tangguh di wilayah tersebut.

Eratkan Kerja Sama Pemulihan Ekonomi

Duta Besar Filipina untuk ASEAN, Noel Eugene Eusebio Servigon dalam forum virtual FPCI pada Senin (2/11/2020).
Duta Besar Filipina untuk ASEAN, Noel Eugene Eusebio Servigon dalam forum virtual FPCI pada Senin (2/11/2020).

Duta Besar Filipina untuk ASEAN, Noel Eugene Eusebio Servigon yang turut hadir dan membuka forum virtual tersebut menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 selama ini telah membuat pemerintah memberlakukan kebijakan dan tindakan yang dianggap perlu untuk menanggapi kondisi kesehatan darurat ini. Walaupun keputusan tersebut membuat orang menjadi terpisah secara fisik, namun justru membuat hubungan antar negara menjadi lebih dekat.

Dalam hal ini, ia secara khusus merujuk pada hubungan antara ASEAN dan China.

"Sepanjang perjalanan pandemi, ASEAN dan China telah menunjukkan lagi tekad untuk membantu satu sama lain dalam kebutuhan kolektif semacam ini," paparnya.

Ia melanjutkan bahwa langkah tersebut merupakan langkah yang paling tepat, dibandingkan hanya berfokus pada masalah dan kebutuh pribadi saja.

"Para pemimpin kami telah menyatakan komitmen mereka untuk melipatgandakan upaya dalam memperkuat kerja sama regional dan internasional dengan menyadari perlunya negara-negara kita keluar dari pandemi ini bersama-sama atau tidak sama sekali," sambungnya lagi.

Dalam upaya ini, ia turut menjelaskan bahwa negara-negara bekerja sama untuk mengirim pasokan medis penting ke negara-negara yang membutuhkan sekaligus berbagi informasi tentang cara bagaimana mengelola pandemi untuk berkolaborasi dalam mengembangkan vaksin COVID-19.

Hal ini dilakukan guna mempersiapkan negara-negara untuk mencegah pandemi dahsyat semacam ini terjadi lagi dan untuk bekerja sama dalam memfasilitasi pemulihan komprehensif ekonomi dari pandemi COVID-19.

ASEAN dan China adalah mitra dagang terbesar antara satu sama lain di dalam kontributor utama ekonomi global.

Koordinasi ASEAN dan China

Duta Besar China untuk ASEAN, Deng Xijun dalam forum virtual FPCI pada Senin (2/11/2020).
Duta Besar China untuk ASEAN, Deng Xijun dalam forum virtual FPCI pada Senin (2/11/2020).

Sementara itu, Duta Besar China untuk ASEAN, Deng Xijun menyampaikan bahwa masalah penguatan pemulihan ekonomi regional merupakan masalah paling mendesak dan relevan untuk saat ini.

Menurutnya, berkat upaya bersama yang dilakukan oleh negara-negara di kawasan dapat terkendali secara perlahan lantaran banyak negara mulai mengalihkan fokus utama mereka dari pengendalian penyakit menjadi pemulihan ekonomi.

Duta Besar Xijun pun membagikan ceritanya tentang bagaimana China bisa bangkit dari keterpurukan akibat pandemi.

Ia memaparkan bahwa Menlu Wang Yi selalu menjaga komunikasi yang erat dengan rekan-rekannya di berbagai negara, terutama untuk tetap menjalin kerja sama di masa sulit.

China pun terus menjaga hubungan diplomasinya ke negara-negara seperti Indonesia, Kamboja, Filipina, Malaysia, Laos hingga Singapura guna mengendalikan kondisi stabilitas ekonomi di kawasannya.

"Perekonomian China bangkit kembali mendekati 3,2 persen pada triwulan kedua dan selanjutnya naik 54,9% pada triwulan ketiga," lapor Dubes Xijun sambil memaparkan pencapaian keberhasilan China bangkit dari pandemi.