Pandemi COVID-19, Masalah Gizi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan

·Bacaan 2 menit

VIVA – Menurut Global Nutrition Report, pada 2018, Indonesia masuk daftar 17 negara yang memiliki 3 masalah gizi sekaligus. Masalah-masalah gizi tersebut antara lain, stunting, wasting atau kurus dan obesitas.

Presiden Joko Widodo, menargetkan prevalensi stunting turun hingga 14 persen pada 2024. Namun hingga saat ini, persentase penurunan stunting baru mencapai 2,7 persen. Kondisi ini diperparah dengan pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai, yang membuat permasalahan gizi di Indonesia kian terasa berat.

Acting Country Representive GAIN Indonesia, Agnes Mallipu, tidak memungkiri bahwa pandemi COVID-19 ini membuat permasalahan gizi di Indonesia semakin mengkhawatirkan.

"Sebelum pandemi saja, tantangan untuk masalah gizi di Indonesia itu sudah cukup berat. Apalagi di masa pandemi ini. Sebenarnya di masa pandemi ini malah justru status gizi ini semakin krusial," ujarnya saat webinar Diseminasi Capaian dan Pembelajaran Program Peningkatan Status Gizi Masyarakat, yang digelar Katadata X GAIN Indonesia, Rabu 30 Juni 2021.

Lebih lanjut Agnes mengatakan, salah satu tantangannya karena harus mempersiapkan masyarakat untuk lebih menjaga kesehatannya agar mampu menghadapi pandemi ini.

"Nah, salah satu kuncinya adalah dengan asupan gizi yang baik. Kami sangat mengharapkan dalam setiap kampanye gerakan kita, untuk (menerapkan) protokol kesehatan, juga tetap memerhatikan asupan gizi yang baik ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh," tuturnya.

Untuk itu, Agnes meminta agar semua pihak dapat bekerja sama untuk mengatasi permasalahan gizi ini, karena Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri.

"Tentu harus dari semua pihak, termasuk swasta. Kadang kita fokus dengan mitra-mitra pembangunan, NGO (Non-governmental Organization) atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), tapi kadang kita dengan pihak swasta sendiri kita terpisah. Padahal dengan momen ini (pandemi) kita harusnya semakin bersatu dan semakin mensinergikan semua upaya kita, baik mengatasi pandemi bersamaan dengan masalah gizi," kata dia.

Agnes pun memprediksi, akan semakin banyak masyarakat terutama dengan ekonomi lemah, yang akan terdampak status gizinya selama masa pandemi COVID-19 ini.

"Karena kita tahu selama pandemi status perekonomian juga semakin melemah, tentunya secara langsung itu juga memengaruhi daya beli masyarakat. Dan biasanya yang paling terdampak adalah daya beli untuk bahan-bahan pangan," ujarnya.

"Karena untuk masyarakat miskin biasanya dari penghasilan mereka 50 persennya mereka harus gunakan untuk membeli bahan makanan. Ini tentunya harus kita bersama yang mengatasi," kata Agnes Mallipu.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel