Pandemi Covid-19 Paksa Jasa Keuangan Syariah Bertransformasi Digital

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 menuntut trasnformasi digital berkembang pesat. Adaptasi kebiasaan baru sangat mempengaruhi aktivitas keuangan masyarakat di sektor jasa keuangan. Masyarakat pun mnuntuk kecepatan pelayanan yang diberikan lembaga keuangan.

Tuntutan tersebut tak hanya untuk sektor keuangan konvensional. Sektor jasa keuangan syariah pun menghadapi beragam tantangan.

"Di keuangan syariah juga ada tantangan tersendiri, makanya perlu ada akslerasi keuangan syariah," kata Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah, OJK, Deden Firman Hendarsyah dalam Webinar bertajuk Percepatan Digitalisasi di Pasar Kungan Syariah Saat Pandemi, Jakarta, Jumat (19/3).

Tranformaasi digital perlu dilakukan demi meningkatkan pendalaman pasar keuangan syariah. Perkembangan sektor jasa keuangan dan invoasi digital ini diharapkan bisa mendukung inklusi keuangan syariah. Sebab, tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia masih dibawah 10 persen.

"Saat ini inklusi keuangan syariah masih dibawah 10 persen, makanya akselerasi digital ini diharapkan bisa meningkatkan indeks inklusi keuangan syariah kita," kata dia.

Sektor ini juga harus bisa menghadirkan produk yang memudahkan penyaluran bantuan sosial pemerinth dan menjangkau seluruh masyarakat. Termasuk juga dalam mndapatkan akses pembiayaan modal krja atau konsumsi bagi masyarakat. Tentunya semua itu harus bisa mengakomodir pola konsumsi masyarakat yang saaat ini smakin brorintasi pada digital.

"Sektor jasa keuangan syariah ini harus bisa mngakomodir kinganna masyarakat yang sekarang mainya digital," kata dia.

Deden menambakan, dalam tranformasi digital prlu didukung dengan sinergi dan semangat yang sama. Khususnya dalam membangkitkan ekosistem ekonomi syariah.

"Kita ingin kembangkan ekonomi syariah ke depan, makanya kita harapkan transformasi digital ini bisa segera terealisasi," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Erick Thohir Bangga, Aset Perbankan Syariah Tumbuh di Atas Konvensional

Menteri BUMN, Erick Thohir (kiri) bersama Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (kanan) mengikuti rapat dengan Komisi VI DPR, di kompleks Parlemen, Senin (2/12/2019). Rapat membahas Penyertaan Modal Negara (PMN) pada Badan Usaha Milik Negera tahun anggaran 2019 dan 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Menteri BUMN, Erick Thohir (kiri) bersama Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (kanan) mengikuti rapat dengan Komisi VI DPR, di kompleks Parlemen, Senin (2/12/2019). Rapat membahas Penyertaan Modal Negara (PMN) pada Badan Usaha Milik Negera tahun anggaran 2019 dan 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Erick Thohir mengatakan, perbankan syariah mencatat kinerja yang cukup baik selama pandemi Covid-19. Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan aset yang melampaui perbankan konvensional.

"Pertumbuhan aset perbankan syariah di 2020 meningkat sebesar 10,9 persen konvensional 7,7 persen," ujar Erick dalam diskusi online, Jakarta, Rabu (17/3/2021).

Dana Pihak Ketiga (DPK) atau simpanan masyarakat di perbankan syariah juga tumbuh. Tercatat, pada tahun lalu DPK perbankan syariah tumbuh 11,5 persen.

"Dana pihak ketiga perbankan syariah juga berhasil meningkat 11,5 persen, tumbuh tipis dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga bank konvensional sebesar 11,49 persen," jelas Erick.

Dari sisi pembiayaan, kata Erick Thohir, perbankan syariah jauh mengungguli perbankan konvensional. Di mana perbankan syariah mencatat pembiayaan mencapai 9,42 persen.

"Jauh mengungguli perbankan konvensional yang hanya tumbuh 0,55 persen. Market share pasar modal syariah juga sudah mencapai 17,39 persen," jelasnya.

Sementara itu, jumlah layanan simpan pinjam dan pembiayaan syariah mencapai 4.115 unit. Didukung juga dengan koperasi syariah sebanyak 75 unit yang membantu dan membina UMKM di seluruh Indonesia.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: