Pandemi COVID-19 Picu Gangguan Mental, Yuk Dengar Musik Inspiratif

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kondisi Pandemi COVID-19 berdampak pada banyak hal, termasuk kesehatan mental. Tak sedikit, pasien maupun penyintas, bahkan masyarakat umum yang harus mengalami cemas hingga stres akan situasi krisis ini.

Namun, pandemi COVID-19 terbukti tidak melunturkan semangat para generasi muda Indonesia, bahkan merasa terinspirasi untuk tetap berkarya. Everlook, grup band indie asal Jakarta resmi merilis album pertama bertajuk “Story” pada Maret 2021 lalu.

Album ini terdiri dari 12 single lagu bernuansa folk-rock yang menggambarkan dualisme dari realitas. Selengkapnya ada di sini.

Story sebagai sebuah album yang berusaha menampilkan dua sisi realita kehidupan manusia, sisi baik yang menggambarkan kehidupan penuh warna, kebahagiaan, dan sukacita. Sementara bagian lainnya menggambarkan kehidupan gelap yang dipenuhi rasa hampa dan putus asa.

Hal itu terinspirasi pula dari survei yang dilakukan pada laman resmi milik Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menemukan sebanyak 64,8 persen dari 4,010 orang responden memiliki masalah psikologis cemas, depresi, trauma. Hal itu diketahui usai melakukan pemeriksaan mandiri via daring terkait kesehatan jiwa dampak dari pandemi COVID-19.

Erka, vokalis dari Everlook mengatakan bahwa penggambaran dua sisi kehidupan yang kontradiktif dari album pertama Story memiliki tujuan bermakna dalam situasi pandemi. Kondisi itu yang melatarbelakanginya dalam membuat musik inspiratif di tengah krisis dan ketidakpastian.

"Album kami bertujuan untuk mempersembahkan beragam kisah dari berbagai situasi senang dan sulit terutama di masa pandemi seperti ini," tuturnya, dikutip dari keterangan persnya.

Gitaris dari grup band yang terbentuk pada November 2019, Danau Antariksa menambahkan, situasi saat ini memang terasa cukup sulit bagi banyak orang, termasuk musisi. Bahkan, katanya, untuk tahu bagaimana kabar orang terdekat kita hanya bisa berbicara melalui telepon atau chatting.

Di acara seperti perkawinan atau pergaulan yang biasanya dipenuhi dengan kebahagiaan dan cinta pun masih ada sisi sulit dan gelapnya lantaran dibatasi oleh protokol kesehatan. Ia berharap, album Story ini dapat menjadi perwakilan dari ragamnya perasaan yang hadir di situasi pandemi ini.

"Saya berharap "Story" ini dapat menemani dan mewakili berbagai macam emosi yang kita rasakan setiap hari baik yang positif maupun negatif sebagai bagian dari perasaan manusia," tuturnya.

Lebih detail, bagian pertama dari “Story” menceritakan keindahan percintaan, ekspresi tulus, dan energi positif kehidupan. Album dibuka dengan Intro dan Running Out of Time. Diikuti lagu berikutnya berlirik “nyentrik” pada Hold On, My Love, dan Ekepupu.

Pada bagian kedua album, menggambarkan perspektif yang lebih realistis dan pragmatis dari berbagai emosi melalui Prayer of a Lover.

Dilanjutkan dengan lagu yang terinspirasi dari kehidupan keluarga Erka, Come Again/Castaway. Bagian kedua album membawa pendengar berorientasi dalam suasana yang berbeda dengan menyisipkan Interlude sebagai “jeda”.

Pada bagian akhir album, Everlook berpesan kepada pendengarnya untuk menerima setiap perasaan yang hadir, menafsirkannya kembali, dan perlahan menyadari emosi/perasaan manusia yang rumit.