Pandemi COVID-19, Semakin Banyak Penelitian yang Menyudutkan Rokok

Lazuardhi Utama, Novina Putri Bestari

VIVA – Direktur Divisi Epidemiologi di Departemen Kesehatan Kota New York, Kelly Henning, menegaskan bahwa melindungi orang dari bahaya produk tembakau – dan meminta pertanggungjawaban industri tembakau atas tindakan global mereka – adalah komponen penting dalam perang melawan Virus Corona COVID-19.

Menurutnya, perokok lebih mungkin mengembangkan komplikasi parah dengan COVID-19 dibandingkan yang bukan perokok. Hal ini juga mengacu pada kajian studi oleh para ahli kesehatan masyarakat yang digelar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Sebuah penelitian baru dari 169 rumah sakit di Asia, Eropa dan Amerika Utara menemukan bahwa perokok memiliki hampir dua kali lipat kemungkinan kematian daripada bukan perokok," kata Henning, seperti dikutip dari situs CNN, Rabu, 3 Juni 2020.

Ia melanjutkan merokok membunuh lebih dari 8 juta orang per tahun, terutama di negara-negara berpenghasilan menengah hingga rendah. Kematian ini dapat dicegah dan sebagian besar berasal dari kanker, penyakit jantung, stroke, penyakit paru-paru kronis, dan diabetes — kondisi yang juga berkontribusi pada tingginya angka kematian pasien positif COVID-19.

Menolak

Ditambah lagi biaya kesehatan yang semakin tinggi, di mana Henning menyebut angka US$1,4 triliun (hampir Rp20 ribu triliun) harus dikeluarkan setiap tahunnya di seluruh dunia. "Bantu perokok untuk berhenti akan mengurangi jumlah orang dengan kondisi mendasar yang dapat membuat mereka lebih rentan terhadap COVID-19," ungkapnya.

Ilustrasi Rokok

Sementara itu, pasien terinfeksi wabah Virus Corona COVID-19 di Indonesia sampai Selasa sore, 2 Juni 2020 mencapai 27.549 orang. Dari angka tersebut, sebanyak 7.935 orang dinyatakan sembuh dan 1.663 orang meninggal dunia. Penolakan rokok bisa memperparah sakit orang positif COVID-19 datang dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Jawa Barat, Suryana, menolak jika ada pendapat yang menyebutkan rokok dapat memperparah sakit orang yang terpapar wabah COVID-19. Menurutnya, tidak sedikit penelitian kesehatan di berbagai negara yang menyebut rokok justru menghambat penularan pandemi Corona di tubuh manusia atau perokok.

“Menurut saya justru banyak pendapat dari para peneliti yang menyatakan bahwa tembakau mampu mengurangi atau bahkan menghambat berkembangnya/penularan COVID-19 pada manusia," paparnya.

Suryana juga menuturkan wabah Covid 19 sedikit banyak telah mengganggu perekonomian masyarakat dan industri perkebunan tembakau beserta para kepala keluarga yang terlibat di dalamnya. "Jadi sudah sewajarnya bila pemerintah memberi bantuan serta perlindungan ekonomi pada industri perkebunan tembakau dan rokok," tutur dia.

Dilema nikotin

Melansir Daily Mail, ilmuwan David Simmons dari University College London, Inggris membandingkan 28 studi dengan 23 ribu perokok yang terkena COVID-19 di China, AS, Korea Selatan, Prancis, dan Inggris.

Hasilnya, dari populasi perokok di negara-negara tersebut, yang terpapar Corona cuma 10-25 persen, kecuali Korea Selatan yang hampir seluruh perokoknya positif terkena COVID-19.

Namun, lagi-lagi data menunjukan bahwa 43 persen perokok yang akhirnya terkena COVID-19 sakitnya lebih parah daripada yang tidak merokok. Sementara Linda Bauld dari University of Edinburgh, Inggris menduga nikotin menghalangi virus masuk, tapi sayangnya, melalui cara yang buruk juga.

"Virus Corona COVID-19 masuk ke dalam sel tubuh manusia lewat struktur reseptor ACE2. Namun khusus pada perokok reseptor ACE2 ini habis duluan digerus nikotin. Mungkin perokok lebih tidak kena kondisi itu karena nikotin. Tapi yang perlu diingatkan di sini ketika perokok kena Corona akibatnya jauh lebih buruk," kata Bauld, mengingatkan.

Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2) adalah protein yang mengikat COVID-19 dan bisa menjadi jalan Virus Corona baru menuju sel. Pada tubuh manusia, paru-paru bertindak sebagai salah satu lokasi utama produksi ACE2.

Adapun Direktur Institute of Clinical and Translational Research di Baylor College of Medicine, AS, Christopher I Amos, melaporkan ada peningkatan 25 persen dalam ekspresi ACE2 dalam jaringan paru-paru milik orang yang merokok sedikitnya 100 batang selama hidup mereka jika dibandingkan bukan perokok.

Ia bersama peneliti lainnya juga menemukan bahwa merokok mengubah ekspresi gen sel di paru-paru sehingga gen ACE2 lebih tinggi diekspresikan dalam sel piala, yaitu sel yang mengeluarkan lendir untuk melindungi selaput pembungkus organ paru-paru.

"Efek merokok yang signifikan pada ekspresi paru ACE2 yang diidentifikasi dalam penelitian ini menunjukkan tidak hanya peningkatan titik masuk untuk virus seperti COVID-19, tetapi juga dapat menunjukkan peningkatan risiko masuknya virus ke paru-paru perokok," kata Amos.