Pandemi Hambat Sekolah, Kemendikbud Imbau Program Merdeka Belajar

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kegiatan belajar mengajar secara virtual sudah berlangsung selama lebih dari setahun di masa pandemi COVID-19 ini. Termasuk yang dijalani para mahasiswa saat menjalani perkuliahan dengan tanpa proses pembelajaran tatap muka (PTM).

Diakui Wakil Rektor Bidang Akademik Swiss German University (SGU), Dr. Irvan S. Kartawiria, S.T., M.Sc, proses belajar secara daring sangat berbeda dibanding PTM untuk meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Hal ini yang menjadi tantangan paling utama bagi para pengajar agar mampu membentuk inovasi pembelajaran.

"Tantangan terbesar adalah di engagement mahasiswa atau keterlibatan mahasiswa di proses pembelajaran atau di pertemuan," kata Irwan dalam keterangan persnya.

Dalam PTM, tentu interaksi yang dijalin antara dosen dan mahasiswa bisa dilakukan dengan intens. Terlebih, dengan fasilitas kelas yang lebih kecil dan tak terlalu banyak orang, membuat interaksi lebih baik.

"Di SGU ukuran kelas kecil dan interaksinya sangat hangat dan itu yang akan dirindukan dengan perkuliahan online, karena tentu ada hambatan hambatan seperti terbatasnya visual dan lain lain," ujar Irvan.

Sejalan dengan itu, Sub Koordinator Kerja Sama Ditjen Dikti Kemendikbud-ristek Republik Indonesia, Firman Hidayat SS, MS.i, mengakui salah satu program yang terancam terhambat karena adanya pandemi COVID-19 adalah program Kampus Merdeka-Merdeka Belajar. Program itu disorot oleh banyak pihak usai pertama kali dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2020 lalu.

Kini, program tersebut dapat dijalani secara daring dan mempermudah mahasiswa memperolah pendidikan dengan tepat. Hal ini pula yang dilakukan SGU agar program tersebut dapat memacu semangat mahasiswa agar tetap berkualitas di masa pandemi.

"Semua program kampus merdeka tersebut bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Yang diharapkan menjadi inovasi baru terhadap pendidikan di Indonesia," ujar Firman.

Firman juga menjelaskan, program MBKM membuat potensi mahasiswa untuk menyelesaikan masalah menjadi lebih meningkat. Tak hanya itu, proses adaptasi serta menggali passion dapat dilakukan secara virtual dengan pendampingan dari dosen.

"Mahasiswa dapat cari solusi sendiri ketika ditempatkan di situasi berbeda, problem solving bisa muncul. Kemampuan adaptasi juga jadi salah satu yang kami lihat. Passion anak apa, itu juga kalau belum bisa menentukan, perlu lakukan pendampingan," kata Firman.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel