Pandemi, KKP perlu buat strategi permodalan bangkitkan ekonomi nelayan

Ahmad Buchori
·Bacaan 2 menit

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diharapkan mempersiapkan strategi untuk meningkatkan permodalan atau pembiayaan terhadap nelayan, khususnya nelayan kecil dalam rangka membangkitkan perekonomian di kawasan pesisir.

"Saya meminta kepada KKP untuk siapkan strategi pada sektor pembiayaan kepada nelayan dan pelaku usaha untuk pemulihan ekonomi masyarakat dengan pola membangun kampung-kampung perikanan," kata Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan dalam rilis, Kamis.

Ia berpendapat bahwa membangun kampung-kampung perikanan di kawasan pesisir adalah juga upaya untuk memperkuat pemulihan ekonomi masyarakat.

Johan juga mengutarakan harapannya agar adanya kebijakan KKP untuk kelonggaran pembiayaan atau pembayaran terhadap sektor kelautan perikanan sebagai dampak dari pandemi COVID-19 saat ini.

Permasalahan umum dari nelayan saat ini, imbuhnya, antara lain adalah rendahnya akses modal finansial, ketidakadilan dalam sistem bagi hasil, sistem pelelangan ikan yang belum transparan, dan belum memadainya perlindungan dan pemberdayaan untuk perbaikan ekonomi nelayan.

"Saya mengusulkan agar pemerintah segera memberikan stimulus program khusus kepada nelayan yang ada di kampung-kampung wilayah pesisir agar usaha perikanan mereka bisa berkembang lebih baik," kata Johan.

Menurut dia, pemerintah selayaknya memprioritaskan peningkatan kesejahteraan nelayan melalui peningkatan bantuan sarana dan prasarana yang tepat sasaran dan tepat guna seperti pengembangan dermaga, penyediaan sarana penunjang sector perikanan dan prasarana kegiatan pemasaran ikan.

Terkait nelayan, sebelumnya Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan Abdul Halim menyarankan dalam rangka mengatasi dampak musim paceklik ikan, perlu diberikan skema bantuan seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada nelayan kecil dan anggota mereka.

Bantuan seperti itu, ujar Abdul Halim, dinilai sangatlah berarti untuk membantu mengangkat beban nelayan dan anggota keluarganya.

"Dampak paceklik ikan kepada tingkat kesejahteraan kalangan masyarakat pesisir itu juga diperparah dengan kondisi pandemi COVID-19 yang masih menerpa. Pandemi juga menyebabkan beban menjadi berganda bagi nelayan kecil, yaitu selain tidak bisa melaut, juga merasa cemas dengan kondisi kesehatan saat wabah," paparnya.

Ia mengingatkan bahwa dengan terhimpit beban ekonomi itu, masih ada nelayan yang terpaksa untuk tetap melaut guna mencari sesuap nasi bagi anggota keluarga mereka.

Akibat dari melaut dengan cuaca yang tidak bersahabat dan bergelombang tinggi, lanjut Abdul Halim, maka potensi terjadi kecelakaan juga sangatlah tinggi.

Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Moh Abdi Suhufan mengingatkan bahwa dalam kurun waktu 1 Desember 2020-10 Januari 2021, pihaknya menemukan ada hingga sebanyak 13 kali insiden kecelakaan yang dialami oleh perahu nelayan dan kapal perikanan di perairan Indonesia.

Baca juga: Wamendes: Peran nelayan penting perkuat pangan dan ekonomi desa

Baca juga: Pemerintah perlu jaga dampak COVID-19 terhadap ekonomi nelayan

Baca juga: Pengamat: Ekonomi kerakyatan tingkatkan kesejahteraan nelayan