Pandemi Melandai, Investasi di Kepri Kembali Bangkit

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri ) saat ini mulai melandai. Hal ini berdampak positif bagi investasi khususnya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di kuartal IV 2020 mengalami peningkatan.

Hal ini seiring diberlakukannya pelonggaran pembatasan aktivitas sosial yang didukung optimisme terhadap pemulihan ekonomi. Sementara untuk Penanaman Modal Asing (PMA) masih tumbuh secara terbatas.

Kepala Perwakilan Kantor BI Kepri Musni Hardi K Atmaja mengemukakan bahwa Investasi PMDN ke Kepri di tahun 2020 diketahui sebanyak Rp 14,25 Triliun.

"Di sisi lain, investasi Penanaman Modal Asing (PMA) ke Kepri diketahui masih tumbuh secara terbatas. Dengan total PMA ke Kepri di tahun 2020 mencapai USD 1,65 miliar," Kata Musni Forum seminar Ekonomi Kepri yang digelar secara daring pada Selasa (23/3/2021).

Dari jumlah tersebut, PMA berdasarkan sektor diketahui USD 1,08 Juta yang bersumber dari Industri Karet dan Plastik. Kemudian USD 71,34 Juta berasal dari sektor Industri Logam dasar, Barang logam, bukan mesin dan peraltannya. Serta USD 25,87 Juta bersumber dari sektor Industri Mesin, Elektronik, Insstrumen Kedokteran, Peralatan listrik hingga Optik.

Sementara pada PMDN diketahui bersumber dari Industri Kimia dan Farmasi Rp129,94 Miliar, Perumahan kawasan Industri dan Perkantoran sebesar Rp 1,02 triliun. Serta Perdagangan dan Reparasai sebanyak Rp430,849 Miliar.

Selain itu Musni untuk tren perekonomian Kepri mengalmai pertumbuhan. Dimana berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS)Kepri pada 2020, sektor Industri Pengolahan, Konstruksi dan aktivitas Pariwisata diketahui memberikan kontribusi sebesar 72,48 persen terhadap ekonomi Kepri dan menyerap Tenaga Kerja (TK) sebanyak 61,7 persen .

Hal yang sama juga ditunjukan pada Industri Pengolahan yang saat ini diketahui menjadi pendorong utama dalam perbaikan di kuartal IV.

Kuartal III 2020

Foto udara pemandangan dari jembatan Barelang di Batam, Kepulauan Riau, Senin (7/5). Enam buah jembatan megah ini merupakan proyek vital sebagai penghubung jalur Trans Barelang yang membentang sepanjang 54 kilometer. (Liputan6.com/Arya Manggala)
Foto udara pemandangan dari jembatan Barelang di Batam, Kepulauan Riau, Senin (7/5). Enam buah jembatan megah ini merupakan proyek vital sebagai penghubung jalur Trans Barelang yang membentang sepanjang 54 kilometer. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Pada kuartal ke III tahun 2020 diketahui berada di 0,93 persen. Namun pada kuartal ke IV diketahui berada pada angka 6,50 persen.

“Begitu juga pada sektor perdagangan yang menunjukkan perbaikan. Dimana sebelumnya minus 21,10 persen menjadi minus 18,89 persen. Dan ini penunjukan tren positif,” Ungkapnya .

Sebelumnya Menteri Keungan Sri Mulyani mengatakan dalam 2 tahun terakhir Pertumbuhan Ekonomi Batam khususnya Kepri mengalami penurunan di Bawah Rata- Rata Nasional.

" Pulau Batam dari kinerja ekonominya, selama 5 tahun terakhir pertumbuhannya di bawah pertumbuhan ekonomi nasional, padahal potensinya sangat besar," katanya Sri Mulyani saat peluncuran Batam Logistic Ecosystem, Kamis (18/3/2021) lalu.

Sri Mulyani menilai salah satu faktor pertumbuhan ekonomi rendah pemicunya biaya logistik mahal, aktivitas logistik yang membaik tentu bakal berdampak positif terhadap pemulihan ekonomi wilayah dari tekanan pandemi Covid-19.

Oleh karena itu Batam Logistik Ecosistem (BLE) akan memfasilitasi importir dan eksportir dengan berbagai fitur logistik dari hulu sampai dengan hilir. Proses pengeluaran barang jauh lebih cepat sehingga ongkos logistik menjadi lebih murah.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: